SOLOBALAPAN.COM - "Hari ini saya mau makan mashed potato, tapi karena saya tidak punya kentang, maka saya ganti kimpul."
Kalimat sederhana seperti itu menjadi pembuka yang selalu dinantikan pengikut akun TikTok Black Sheep @black.sheep8208.
Formatnya hampir selalu sama.
Diawali dengan menyebut hidangan yang sudah akrab di telinga masyarakat, lalu diikuti kalimat "tapi karena saya tidak punya...", sebelum akhirnya mengenalkan bahan pangan lokal sebagai penggantinya.
Baca Juga: Cita Rasa yang Terjaga: Gablok, Warisan Kuliner Khas Bumi Sukowati
Dari pola itulah lahir berbagai kreasi yang membuat jutaan orang penasaran.
Salah satu video yang paling banyak menarik perhatian adalah Seblak Genjer Kimpul yang telah ditonton lebih dari dua juta kali.
Bukan karena menggunakan bahan mahal atau mengikuti tren kuliner viral, melainkan karena memperlihatkan bahwa bahan pangan yang selama ini dianggap sederhana ternyata bisa tampil dengan cara yang sama sekali berbeda.
Baca Juga: Fakta Menarik tentang Gerbong Makan di Kereta Api Indonesia
Akun Black Sheep sebenarnya telah lama aktif membuat konten.
Namun sejak awal Juni, kreator di balik akun tersebut mulai konsisten mengangkat kekayaan pangan lokal Indonesia. Umbi-umbian dan bahan pangan yang mulai jarang ditemui di meja makan masyarakat menjadi bintang utama dalam setiap unggahannya.
Yang membuat konten Black Sheep menarik bukan sekadar mengganti satu bahan dengan bahan lain. Ia seperti menerjemahkan pangan lokal ke dalam "bahasa" kuliner yang sudah akrab bagi generasi sekarang.
Growol disulap menjadi Growolbokki, terinspirasi dari tteokbokki Korea. Kimpul berubah menjadi Mashed Kimpul, Kimbab Kimpul, Arancini Kimpul, hingga Cikuro Kimpul.
Uwi diolah menjadi Uwi Schotel dan Cheesy Uwi Pancake, sementara mie lethek tampil sebagai Creamy Lethek dengan saus krim layaknya pasta.
Bahkan genjer yang selama ini identik dengan sayur rumahan dipadukan dengan seblak hingga menghasilkan menu yang membuat banyak orang ingin mengetahui seperti apa rasanya.
Cara tersebut membuat penonton merasa dekat dengan bahan-bahan yang mungkin sebelumnya terdengar asing.
Mereka mungkin belum pernah mencicipi growol, uwi, atau kimpul, tetapi sudah mengenal tteokbokki, mashed potato, kimbab, pancake, maupun seblak. Melalui perpaduan itu, pangan lokal tidak lagi terasa kuno, melainkan hadir sebagai alternatif yang menarik untuk dicoba.
Keunikan lain dari konten Black Sheep adalah kemampuannya mendeskripsikan makanan. Setiap selesai memasak, ia menjelaskan tekstur, rasa, hingga aroma hidangan dengan bahasa yang sederhana namun begitu hidup.
Penonton yang belum pernah mencicipi growol atau kimpul dibuat membayangkan bagaimana lembutnya tekstur umbi tersebut, bagaimana gurihnya perpaduan bumbu, atau bagaimana sensasi saat menyantapnya.
Tidak sedikit yang akhirnya memenuhi kolom komentar dengan pernyataan sederhana, "Bu, saya jadi kepo rasa kimpul."
Di sela-sela memasak, Black Sheep juga kerap menyisipkan penjelasan mengenai kandungan gizi dan manfaat dari bahan pangan yang digunakan.
Informasi tentang serat, vitamin, maupun karakteristik setiap umbi disampaikan dengan ringan sehingga kontennya tidak hanya menjadi hiburan, tetapi juga ruang belajar mengenai kekayaan pangan Nusantara.
Tidak hanya umbi-umbian, Black Sheep juga rutin memperkenalkan berbagai jajanan pasar yang mulai jarang dijumpai.
Gatot, enthok-enthok, tempe benguk, jadah, gethuk tiwul, sawut, cemplon, hingga lemet kembali diperkenalkan kepada warganet melalui video-video singkatnya.
Bagi sebagian penonton, makanan-makanan tersebut mungkin membangkitkan nostalgia. Namun bagi generasi yang lebih muda, nama-nama itu justru menjadi pengetahuan baru.
Konsistensi itulah yang kemudian melahirkan interaksi unik dengan para pengikutnya.
Baca Juga: Kuliner Jadul Legondo, Jajanan Tradisional yang Kian Sulit Ditemui di Pasar Tradisional
Di kolom komentar, beberapa penonton bahkan membuat daftar bertajuk "Update Menu Ibu Hari Ini", berisi rangkuman seluruh kreasi yang telah dibuat Black Sheep.
Setiap kali muncul menu baru, daftar tersebut ikut diperbarui. Mulai dari Growolpoki, Mashed Kimpul, Creamy Lethek, Uwi Schotel, Cheesy Uwi Pancake, Pakis Namul, Arancini Kimpul, Kimpul Au Gratin, hingga Cikuro Kimpul.
Respons tersebut menunjukkan bahwa penonton tidak sekadar menonton video memasak, tetapi mengikuti setiap unggahan layaknya menanti episode baru dari sebuah serial.
Fenomena ini menunjukkan bahwa tantangan pangan lokal saat ini bukan semata-mata pada kualitas atau ketersediaannya, melainkan pada cara memperkenalkannya.
Black Sheep tidak mengubah identitas growol, kimpul, atau uwi. Sebaliknya, ia mengajak masyarakat melihat bahwa bahan-bahan tersebut dapat hadir dalam bentuk yang lebih akrab dengan selera masa kini.
Di tengah derasnya arus makanan viral dari berbagai negara, pendekatan sederhana seperti ini justru berhasil menarik perhatian jutaan orang. Hanya dengan kalimat pembuka,
"Hari ini saya mau makan…, tapi karena saya tidak punya…, maka saya ganti…", Black Sheep membuktikan bahwa pangan lokal masih mampu mencuri perhatian asal diceritakan dengan cara yang membuat orang penasaran sebelum sempat mencicipinya. (rastri rafiarum/fer)
Editor : Ferry Ardi Susanto