Wonogiri, Kota Gaplek Yang Mulai Kehilangan Pembuatnya

Rastri Rafiarum • Dipublikasikan Minggu, 26 Juli 2026 | 09:46 WIB
Sumi, pembuat gaplek dari Wonogiri. (Rastri Rafiarum)
Sumi, pembuat gaplek asal Wonogiri. (Rastri Rafiarum/Radar Solo)

SOLOBALAPAN.COM - Nama Wonogiri selama bertahun-tahun begitu lekat dengan sebutan Kota Gaplek.

Julukan itu bukan tanpa alasan. Dahulu, hamparan gaplek yang dijemur di halaman rumah menjadi pemandangan lazim di berbagai desa.

Hampir setiap keluarga memiliki ketela yang diolah menjadi gaplek, kemudian dijadikan bahan utama pembuatan tiwul, makanan pokok masyarakat Wonogiri sebelum nasi menjadi konsumsi sehari-hari.

Namun, pemandangan tersebut kini perlahan menghilang. Seiring bergesernya pola konsumsi masyarakat dan semakin sedikitnya warga yang menanam ketela, pembuat gaplek pun semakin sulit ditemui.

Baca Juga: On This Day: 11 Kejadian Penting Pada 26 Juli, Kemerdekaan Liberia Hingga Hari Konservasi Mangrove Sedunia

Di Desa Wuryantoro, masih ada satu di antara sedikit warga yang tetap mempertahankan tradisi tersebut.

Sumi, perempuan yang telah puluhan tahun berkutat dengan ketela, hingga kini masih membuat gaplek meski hanya sebagai pekerjaan sampingan.

Aktivitas yang telah dilakoninya sejak tahun 1974 itu menjadi saksi perubahan besar yang terjadi di kampung halamannya.

Saat pertama kali belajar membuat gaplek, usia Sumi baru 22 tahun. Kala itu, membuat gaplek bukanlah keterampilan yang istimewa karena hampir semua masyarakat Wonogiri mampu melakukannya.

Baca Juga: Jalur Kereta Api Tertua di Indonesia yang Masih Digunakan hingga Kini

Pengetahuan tersebut diwariskan secara turun-temurun dari orang tua kepada anak, termasuk yang diterima Sumi dari sang simbah.

"Dulu semua orang bisa membuat gaplek. Saya juga diajari simbah," kenangnya.

Pada masa itu, ketela bukan sekadar tanaman yang tumbuh di ladang, melainkan sumber pangan utama masyarakat.

Sebagian besar warga menanam ketela sendiri, kemudian mengolah hasil panennya menjadi gaplek sebagai bahan dasar pembuatan tiwul.

Menurut Sumi, masyarakat kala itu memiliki keyakinan sederhana bahwa makan singkong rebus ataupun getuk belum cukup mengenyangkan.

Ketela harus diolah menjadi tiwul agar dapat menjadi makanan pokok yang benar-benar mengenyangkan dan mampu memenuhi kebutuhan tenaga untuk bekerja di ladang sepanjang hari.

"Tiwul itu dulu makanan pokok. Kalau belum makan tiwul rasanya belum kenyang," ujarnya.

Kondisi tersebut sangat berbeda dengan saat ini. Beras yang kini mudah diperoleh membuat masyarakat perlahan meninggalkan tiwul sebagai makanan sehari-hari.

 Perubahan pola konsumsi itu turut mengubah kebiasaan masyarakat dalam mengolah hasil panen.

Ketela yang dulu menjadi tanaman utama kini mulai tergeser oleh padi, sehingga produksi gaplek pun ikut menurun.

Baca Juga: Perbedaan Kereta Api Eksekutif, Bisnis, dan Ekonomi di Indonesia

Proses pembuatan gaplek sendiri tidak bisa dilakukan setiap saat. Dalam setahun, Sumi biasanya hanya membuat gaplek satu kali mengikuti musim panen ketela.

Tanaman ketela membutuhkan waktu sekitar tujuh hingga delapan bulan hingga siap dipanen.

Setelah itu, masih diperlukan waktu hampir satu bulan lagi untuk mengolahnya hingga benar-benar menjadi gaplek siap jual.

Pekerjaan dimulai dari mencabut ketela yang telah tua dari lahan, kemudian mengupas kulitnya satu per satu. Umbi yang telah bersih lalu dipotong-potong dengan ukuran tertentu agar proses pengeringannya berlangsung merata.

Setelah itu, potongan ketela disusun di atas alas penjemuran dan dibiarkan di bawah terik matahari selama sekitar tujuh hingga sepuluh hari.

Tahap penjemuran menjadi proses yang paling menentukan kualitas gaplek.

Baca Juga: Bantah Klaim Kriminalisasi Febrie Adriansyah, KPK Sebut Penyidik Bekerja Profesional

Cuaca menjadi faktor yang tidak bisa dikendalikan. Jika matahari bersinar penuh selama beberapa hari berturut-turut, gaplek akan mengering sempurna.

Sebaliknya, jika hujan turun sebelum proses selesai, kualitas gaplek dapat menurun.

Menurut Sumi, warna menjadi penanda paling mudah untuk mengetahui kualitas gaplek.

Gaplek yang baik memiliki warna putih cerah, menandakan proses pengeringannya berlangsung sempurna tanpa terkena air hujan.

Sementara gaplek yang sempat terguyur hujan akan berubah menjadi kehitaman dan nilainya pun ikut berkurang.

"Kalau putih berarti bagus. Kalau kena hujan biasanya jadi hitam," jelasnya.

Setelah benar-benar kering, gaplek dijual kepada tengkulak dengan harga sekitar Rp2.500 per kilogram.

Nilai jual tersebut membuat usaha membuat gaplek kini tidak lagi mampu menjadi sumber penghasilan utama keluarga.

Jika dahulu hasil ketela menjadi tumpuan ekonomi masyarakat, kini Sumi mengaku lebih mengandalkan hasil panen padi.

Pergeseran itu terjadi seiring berubahnya kebiasaan makan masyarakat yang kini lebih memilih nasi dibandingkan tiwul.

"Kalau sekarang buat sampingan saja. Yang utama ya padi karena sekarang orang makannya nasi," katanya.

Baca Juga: Baru Diperkenalkan Jadi Pelatih Timnas Jerman, Jurgen Klopp Langsung Beri Ancaman Mundur Jika Privasi Keluarganya Diusik!

Perubahan tersebut juga berdampak pada regenerasi pembuat gaplek.

Menurut Sumi, generasi muda saat ini sudah sangat jarang yang mengetahui bagaimana cara membuat gaplek, mulai dari memilih ketela, memotong, hingga menjemurnya dengan benar.

Padahal, keterampilan itu dahulu menjadi pengetahuan dasar yang dimiliki hampir seluruh warga Wonogiri.

Selain diolah menjadi tiwul, gaplek sebenarnya masih memiliki banyak manfaat.

Bahan pangan kering ini juga dapat diolah menjadi gatot, makanan tradisional khas Jawa yang hingga kini masih dapat dijumpai di beberapa daerah.

Namun, semakin sedikitnya masyarakat yang memproduksi gaplek membuat bahan baku tersebut juga semakin sulit ditemukan dibandingkan beberapa dekade lalu.

Kisah Sumi menjadi gambaran perubahan wajah Wonogiri dari masa ke masa.

Daerah yang dahulu dikenal luas sebagai Kota Gaplek kini justru semakin jarang memperlihatkan aktivitas pembuatan gaplek di halaman rumah warganya.

Baca Juga: Jadwal Lengkap Piala Presiden 2026: Catat Jam Tayang Siaran Langsung dan Live Streaming

Tradisi yang dulu begitu akrab dalam kehidupan masyarakat perlahan tergeser oleh perubahan zaman, perubahan pola tanam, serta bergantinya kebiasaan makan.

Meski demikian, di tangan para pembuat gaplek seperti Sumi, jejak sejarah pangan khas Wonogiri itu masih terus dijaga agar tidak sepenuhnya hilang ditelan waktu. (rastri rafiarum/fer)

Editor : Ferry Ardi Susanto
gaplek kuliner khas wonogiri tradisional wonogiri