KARANGANYAR, SOLOBALAPAN.COM – Tradisi Wahyu Kliyu kembali digelar masyarakat Desa/Kecamatan Jatipuro, Kabupaten Karanganyar, Rabu (1/7/2026) malam. Tradisi yang dilaksanakan setiap 15 Suro ini menjadi salah satu warisan budaya yang terus dijaga masyarakat sebagai simbol permohonan keselamatan, keberkahan, dan perlindungan dari berbagai mara bahaya.
Rangkaian acara diawali dengan kirab budaya yang diikuti warga dari berbagai dusun. Mereka membawa ratusan kue apem menuju lokasi upacara adat sebelum akhirnya dilakukan ritual sebaran apem, yang selalu menjadi puncak acara.
Warga dari berbagai usia tampak antusias berebut apem yang diyakini sebagai simbol doa memohon keselamatan, rezeki, serta keberkahan hidup.
Baca Juga: Takut UU ITE? Ini Alasan Sarah Gibson Belum Bongkar Nama Lengkap Wanita Inisial C
Tradisi Wahyu Kliyu hanya digelar satu kali dalam setahun, tepat pada malam 15 Suro yang bertepatan dengan bulan purnama.
Di balik kemeriahannya, tradisi ini memiliki sejarah panjang. Wahyu Kliyu bermula pada abad ke-19 ketika Dusun Kendal, Desa Jatipuro, dilanda pagebluk dan musim paceklik saat masa penjajahan Belanda.
Kala itu, Kepala Dusun Kendal, Ki Renggo Wijoyo, memohon petunjuk kepada Keraton Kasunanan Surakarta untuk mengatasi musibah yang melanda masyarakat.
Dari Keraton, masyarakat dianjurkan menggelar dzikir malam dengan membaca kalimat "Ya Hayyu Ya Qayyum" sebanyak 344 kali sebagai bentuk permohonan kepada Tuhan Yang Maha Esa agar diberikan kehidupan, keselamatan, dan dijauhkan dari wabah.
Namun karena keterbatasan masyarakat saat itu dalam melafalkan bahasa Arab, kalimat tersebut berubah pengucapannya menjadi "Wahyu Kliyu", yang kemudian dikenal sebagai nama tradisi yang diwariskan secara turun-temurun hingga sekarang.
Selain dzikir, masyarakat juga membuat dan membagikan kue apem sebagai sedekah. Apem berasal dari kata Arab "afwun" yang bermakna memohon ampun atau maaf kepada Allah SWT.
Filosofi tersebut menjadi pengingat bahwa keselamatan tidak hanya diraih melalui ikhtiar lahiriah, tetapi juga melalui doa, introspeksi diri, serta saling berbagi kepada sesama.
Kini, Tradisi Wahyu Kliyu telah ditetapkan sebagai Warisan Budaya Takbenda dan menjadi salah satu kekayaan budaya masyarakat lereng Gunung Lawu yang terus dilestarikan dari generasi ke generasi.
Selain memiliki nilai spiritual, tradisi ini juga menjadi daya tarik budaya yang setiap tahunnya mampu mengundang masyarakat dari berbagai daerah untuk menyaksikan prosesi kirab hingga ritual sebaran apem yang sarat makna. (an)
Editor : Andi Aris Widiyanto