Berita Utama Solo Raya Entertainment Lifestyle Sport Kesehatan Ekonomi Teknologi Otomotif Sriwedaren Wisata dan Kuliner Persis Solo Sepak Bola

Rahasia Deodoran Alami Putri Keraton, Menilik Pohon Kepel di Dalem Kalitan Solo, Flora Langka Eks Raja

tim solobalapan • Rabu, 10 Juni 2026 | 12:19 WIB
Pohon Kepel di Dalem Kalitan
Pohon Kepel di Dalem Kalitan

SOLOBALAPAN.COM – Di halaman Dalem Kalitan, sebuah pohon langka tumbuh subur, menjadi saksi bisu sejarah dan tradisi Keraton Jawa.

Pohon itu adalah Kepel (Stelechocarpus burahol), tanaman yang sejak dulu hanya dimiliki oleh keluarga ningrat. Keberadaan pohon ini tidak hanya menambah keindahan halaman, tetapi juga menyimpan makna filosofis yang dalam.

Pohon kepel memiliki sejarah panjang di lingkungan kerajaan. Dahulu, menanam pohon ini bukanlah hal sembarangan.

Hanya keluarga kerajaan dan bangsawan tertentu yang diperkenankan menanamnya. Hal ini menjadikan kepel simbol eksklusivitas dan status sosial tinggi.

Di Dalem Kalitan, kepel menjadi bukti nyata bahwa lokasi ini pernah menjadi kediaman Raja Keraton Solo, Sunan Paku Buwono X.

Setelah beberapa generasi, rumah ini kemudian berpindah tangan ke keluarga Ibu Tien Soeharto. Keberadaan pohon kepel tua semakin memperkuat identitas sejarah bangunan sebagai bagian dari warisan budaya Jawa.

Selain sebagai simbol status, buah kepel memiliki fungsi praktis yang unik. Buahnya yang manis sejak dulu dikenal sebagai deodoran alami bagi putri keraton.

Mengonsumsi buah kepel dipercaya dapat membuat aroma tubuh wangi, napas segar, dan air seni tidak berbau tajam.

Kegemaran putri keraton terhadap buah ini melambangkan nilai estetika dan keanggunan dalam kehidupan sehari-hari. Buah kepel bukan sekadar konsumsi, tetapi juga simbol kendali diri dan kesucian karakter bangsawan perempuan.

Baca Juga: Perempuan di Nguter Sukoharjo Ditemukan Meninggal Membusuk dalam Kamar Terkunci

Pohon kepel di Dalem Kalitan juga mengandung filosofi Jawa yang mendalam.

Nama “Kepel” berasal dari kata kepalan tangan, yang melambangkan kesatuan antara niat suci di hati dan tindakan nyata. Konsep ini dikenal sebagai manunggaling sedya kaliyan gegayuhan, atau harmoni antara tujuan dan usaha.

Selain itu, bentuk buah yang menempel langsung pada batang utama, bukan di ujung ranting, menjadi simbol persatuan dan gotong royong. 

Filosofi ini menunjukkan pentingnya integritas mental dan fisik, serta keramahan pemilik rumah dalam menyambut tamu.

Buah dari pohon Kepel di Dalem Kalitan
Buah dari pohon Kepel di Dalem Kalitan

Secara fisik, pohon kepel memiliki ciri khas unik. Pohonnya tumbuh tegak dengan tajuk rimbun menyerupai kubah atau cemara. Buahnya yang besar, seukuran kepalan tangan, menggantung rapat di batang, menciptakan pemandangan yang memikat.

Dalem Kalitan tidak hanya merawat satu pohon kepel. Kompleks ini juga menanam pohon-pohon langka lainnya, seperti sawo kecik dan duwet, yang merupakan peninggalan keluarga Ibu Tien. Upaya konservasi ini penting agar generasi muda tetap dapat belajar dan mengapresiasi warisan flora Nusantara.

Pohon kepel kini masuk dalam kategori tanaman langka yang dilindungi di Indonesia. Pengelola Dalem Kalitan memastikan pohon ini terawat dengan baik, termasuk pemangkasan, penyiraman, dan pengawasan kesehatan tanaman.

Keberadaan pohon ini juga menambah nilai edukasi bagi pengunjung. Mereka tidak hanya menikmati keindahan halaman, tetapi juga memahami nilai sejarah, budaya, dan filosofi yang terkandung dalam setiap batang dan buah pohon kepel.

Dalem Kalitan sendiri merupakan bangunan bersejarah seluas satu hektar yang dibangun pada 1870-an. Awalnya kediaman Sunan Paku Buwono X, kemudian dihibahkan ke putri sulungnya, Kanjeng Gusti Ratu Alit, dan akhirnya menjadi milik keluarga Soeharto.

Kompleks ini mempertahankan arsitektur tradisional Jawa dengan tiga area utama: pendopo, pringgitan, dan senthong. Halaman depan yang teduh, dihiasi pohon beringin tua dan kepel, menciptakan suasana keraton yang menenangkan.

Baca Juga: Perbandingan Ranking FIFA Timnas Indonesia vs Mozambik: Peluang Garuda Melesat Lagi Berbekal Bintang Eropa

Pengunjung Dalem Kalitan kini dapat menikmati nuansa sejarah sekaligus keindahan flora langka. Meskipun terbatas, akses ke lokasi ini memungkinkan masyarakat untuk belajar, berziarah, dan menghargai warisan budaya Jawa.

Pohon kepel di Dalem Kalitan bukan sekadar tanaman. Ia adalah simbol keanggunan, integritas, dan nilai filosofis yang diwariskan oleh keraton. Keberadaannya mengingatkan kita bahwa sejarah, budaya, dan alam bisa hidup berdampingan, membentuk identitas suatu bangsa. (nta) 

Editor : Laila Zakiya
#Pohon kepel #Dalem kalitan #sejarah #langka #pohon