Berita Utama Solo Raya Entertainment Lifestyle Sport Kesehatan Ekonomi Teknologi Otomotif Sriwedaren Wisata dan Kuliner Persis Solo Sepak Bola

Pracima di Mangkunegaran: Simbol Kehalusan Budi dalam Setiap Sajian

tim solobalapan • Jumat, 22 Mei 2026 | 09:00 WIB
Sajian Cakwe Udang ala Pracimasana. (Solo Balapan/.Laila Zakiya)
Sajian Cakwe Udang ala Pracimasana. (Solo Balapan/.Laila Zakiya)
 

SOLOBALAPAN.COM – Dalam tradisi istana Mangkunegaran, penyajian hidangan bukan sekadar memenuhi selera, melainkan menjadi simbol kehalusan budi dan penghormatan terhadap tamu.

Sejak masa para pendahulu, praktek unjukan di Mangkunegaran telah menjadi bagian penting dalam setiap jamuan resmi dan upacara kenegaraan.

Pracima, menekankan keselarasan antara rasa, estetika, dan nilai filosofi yang terkandung dalam setiap sajian.

Hidangan yang disajikan terkelompok menjadi beberapa jenis, seperti Unjukan, Unjukan Special, Kahwa, Selat, Dedhaharan Utama, Hidangan Penutup, dan Kudapan

Menu dari unjukan dimulai dengan Teh Sineduhan, sajian teh pilihan yang disertai daun mint.

Penyajian teh ini menampilkan kesederhanaan sekaligus kesabaran dalam proses seduhan, mencerminkan ketelitian khas istana.

Teh ini bukan sekadar minuman, tetapi juga pengantar pembuka percakapan dan suasana hangat di meja jamuan.

Hidangan penyejuk berikutnya adalah Es Dawet Selasih. Kreasi ini menggabungkan bubur ketan hitam, bubur sum-sum, gula aren, dan santan kelapa dengan cermat.

Baca Juga: Prof. Koentjoro Poerbo Koesoemo: Sang Guru BJ Habibie yang Disemayamkan di Hastono Josoroto

Setiap sendok es dawet menghadirkan rasa manis dan lembut yang melambangkan harmoni antara bahan-bahan lokal dan estetika rasa klasik Jawa.

Dalam hidangan kudapan, salah satu menu yang menarik perhatian adalah Kroket Segara ala Pracimasana.

Kroket ini merupakan perpaduan hasil laut yang diolah dengan sabar. Isinya terdiri dari udang, ikan, dan rempah halus, dibalut adonan kentang dan digoreng perlahan hingga keemasan serta renyah.

Hidangan ini pertama kali dihadirkan pada jamuan kenegaraan masa K. G. P. A. A Mangkunegoro VII.

Tak kalah menarik adalah Cakwe Udang, kudapan yang sederhana namun kaya makna.

Berisi udang, tobiko, dan saus XO mayonaise, cakwe ini digoreng hingga renyah.

Hidangan ini terinspirasi dari pengaruh kuliner Tionghoa pada masa K. G. P. A. A Mangkunegoro VIII, menjadi simbol persahabatan rasa antara pesisir dan istana.

Kedua kudapan ini tidak hanya menyajikan rasa, tetapi juga menjadi cerita sejarah yang tersimpan dalam setiap lapisan bahan. Kroket Segara dan Cakwe Udang menjadi saksi persinggungan budaya dan evolusi kuliner Mangkunegaran dari masa ke masa.

Hidangan penutup menampilkan sisi lain dari kehalusan pracima. Tiramisu, lapisan klasik roti, kopi, krim, dan coklat, menyeimbangkan jiwa barat dengan keanggunan Jawa.

Setiap lapisan disusun dengan teliti, menekankan kesabaran dan seni dalam menyajikan rasa yang harmonis.

Baca Juga: Ahmad Dhani Blak-blakan Sindir Indonesian Idol "Kurang Keren", Desta Kewalahan Sampai Teriak Minta Stop!

Selain Tiramisu, Puding Roti Mentega menjadi pilihan penutup yang memukau. Paduan roti butter berlapis dan puding susu dipadukan dengan manisan nanas serta saus karamel menghadirkan kelembutan dan kilau kemegahan taman Pracima.

Setiap suapan menjadi penghormatan pada ketelitian dan kesabaran dalam proses pembuatannya.

Pracima di Mangkunegaran tidak sekadar tempat untuk Fine Dining, tetapi juga ritual simbolis yang mengajarkan nilai kesabaran, kehalusan, dan kebersamaan. Penyajian yang rapi dan estetik menunjukkan rasa hormat kepada tamu dan pentingnya menjaga keharmonisan.

Selain mencerminkan nilai budaya, pracima juga menjadi daya tarik wisata kuliner di Mangkunegaran. Banyak penikmat kuliner datang untuk merasakan keunikan hidangan yang memadukan estetika rasa, nilai sejarah, dan seni penyajian yang tinggi.

Dengan keanggunan dalam setiap lapisan hidangan, pracima di Mangkunegaran membuktikan bahwa kuliner dapat menjadi sarana edukasi budaya. Dari teh sineduhan hingga puding roti mentega, setiap sajian mengajarkan kesabaran, ketelitian, dan rasa hormat yang mendalam.

Pracima Mangkunegaran bukan sekadar jamuan, tetapi representasi keindahan budaya Jawa yang dihidangkan melalui rasa, tekstur, dan estetika. Tradisi ini menjadi bukti bahwa kuliner istana dapat tetap relevan dan memikat generasi masa kini, sambil menjaga warisan sejarah yang kaya dan bermakna. (nta) 

Editor : Laila Zakiya
#Fine dinning #Pracimasana #mangkunegaran #bangsawan #hidangan