SUKOHARJO, SOLOBALAPAN.COM – Menjelang sore, aroma tumisan bumbu mie mulai menyeruak dari sebuah sudut kampung di wilayah Curidan, Kelurahan Bulakreja, Kecamatan Sukoharjo.
Wangi gurih bercampur pedas itu seolah menjadi penanda dimulainya kesibukan di lapak sederhana milik Mas Gembor.
Di bawah temaram lampu angkringan, asap tipis mengepul dari wajan besar yang terus bergerak di atas tungku. Suara spatula beradu dengan wajan berpadu dengan obrolan pelanggan yang datang silih berganti.
Meski hanya berkonsep sederhana ala kaki lima, warung mie nyemek ini justru menjadi salah satu kuliner malam favorit warga Sukoharjo dan sekitarnya.
Prancisca Ridjan atau yang akrab disapa Gembor tampak cekatan meracik pesanan. Dalam satu kali masak, ia bisa membuat tujuh hingga sembilan porsi sekaligus demi melayani pelanggan yang terus berdatangan.
“Kalau malam ramai langsung masak banyak biar cepat. Kadang pelanggan datang bareng-bareng,” ujarnya sambil mengaduk mie di atas wajan panas.
Ciri khas utama racikan Mas Gembor terletak pada tekstur mie yang “nyemek”. Tidak terlalu kering seperti mie goreng biasa, namun juga tidak berkuah penuh layaknya mie rebus. Sedikit kuah kental berbumbu justru membuat rasa gurihnya semakin meresap dan menggoda selera.
Baca Juga: Mobil Terperosok ke Jurang 4 Meter di Sambi Boyolali, Diduga Salah Ikuti Google Maps
Perpaduan mie, telur, sayuran, cabai, dan bumbu racikan khas menghasilkan cita rasa hangat yang cocok disantap saat malam mulai turun. Apalagi pelanggan bisa menentukan tingkat kepedasan sesuai selera, mulai level biasa hingga pedas ekstrem yang bikin dahi berkeringat.
“Yang suka pedas banget juga ada, tinggal request saja,” kata Gembor.
Warung ini mulai buka sekitar pukul 16.00 WIB hingga dagangan habis. Meski berada di tengah kampung, pembelinya datang dari berbagai daerah di Soloraya. Bahkan sejumlah pejabat di lingkungan Pemkab Sukoharjo disebut menjadi pelanggan tetap.
Selain rasa yang khas, harga yang ditawarkan juga terbilang bersahabat. Hanya dengan Rp11 ribu, pelanggan sudah bisa menikmati seporsi mie nyemek hangat ala angkringan dengan porsi yang mengenyangkan.
Suasana makan di tempat ini juga menjadi daya tarik tersendiri. Di samping gerobak, aneka gorengan hangat seperti bakwan, tahu isi, tempe mendoan hingga pisang goreng tersusun rapi menggoda untuk disantap bersama mie nyemek.
Lampu sederhana, udara sore khas kampung, hingga aroma gorengan yang menyatu dengan harum bumbu mie membuat suasana terasa akrab dan nyaman. Banyak pelanggan sengaja datang bukan sekadar makan, tetapi juga menikmati suasana santai bersama teman maupun keluarga.
“Yang dicari pelanggan itu suasananya juga. Sederhana tapi nyaman,” tutur Gembor.
Saat akhir pekan, antrean pembeli kerap mengular. Sebagian memilih membungkus pesanan untuk disantap di rumah, namun tak sedikit yang lebih suka makan langsung sambil menikmati hangatnya suasana angkringan kampung.
Baca Juga: Aksi Asusila Viral di Plaza Manahan, Pengawasan Ruang Publik Solo Dipertanyakan
Di tengah menjamurnya kafe modern dan kuliner kekinian, mie nyemek ala Mas Gembor menjadi bukti bahwa sajian sederhana dengan cita rasa rumahan tetap punya tempat istimewa di hati masyarakat.
Gurih, hangat, pedas, dan penuh suasana akrab—kombinasi itulah yang membuat pelanggan selalu ingin kembali. (kwl/an)
Editor : Andi Aris Widiyanto