SOLOBALAPAN.COM – Suara khas kukusan bambu terdengar lirih di tengah ramainya kawasan Ngarsopuro, Solo.
Aroma manis gula merah bercampur kelapa parut perlahan memenuhi udara malam di pelataran Pura Mangkunegaran. Di antara deretan tenant makanan modern dan jajanan kekinian, gerobak sederhana milik Pak Setu justru tak pernah sepi pembeli.
Dari balik kepulan asap hangat itulah, Pak Setu bersama sang istri setia menjajakan kue putu bambu yang telah mereka tekuni sejak tahun 1989.
Baca Juga: Persis Solo Dapat “Nyawa Tambahan” dari Eks Pemain, Milo: Kami Akan Berjuang Sampai Akhir
Selama lebih dari tiga dekade, pasangan tersebut tetap mempertahankan cita rasa jajanan tradisional di tengah perubahan tren kuliner yang terus berkembang.
“Sudah jualan dari tahun 1989,” ujar Pak Setu singkat sambil menyiapkan adonan putu untuk pelanggan yang mengantre.
Kini, Pak Setu rutin berjualan setiap Jumat dan Sabtu malam saat gelaran Ngarsopuro berlangsung di kawasan Mangkunegaran Solo. Meski jajanan modern semakin menjamur, kue putu buatannya tetap memiliki pelanggan setia dari berbagai kalangan.
Harga yang ditawarkan pun masih sangat ramah di kantong. Satu buah kue putu dijual mulai Rp1.000. Selain pembelian satuan, tersedia pula paket isi enam dan isi sepuluh yang banyak dipilih pengunjung untuk dinikmati bersama keluarga maupun teman.
Menariknya, Pak Setu juga mulai mengikuti perkembangan selera pembeli dengan menghadirkan berbagai varian rasa. Jika dulu hanya tersedia rasa original, kini pembeli bisa menikmati putu rasa pandan, coklat, matcha hingga strawberry.
Meski pilihan rasa semakin beragam, varian original dan pandan tetap menjadi favorit pelanggan. Perpaduan tekstur lembut tepung beras dengan lelehan gula merah hangat di dalamnya menghadirkan sensasi sederhana yang sulit dilupakan.
“Yang paling banyak dicari tetap original sama pandan,” kata Pak Setu.
Kue putu sendiri merupakan salah satu jajanan tradisional yang cukup populer di Pulau Jawa. Makanan ini dibuat dari tepung beras dengan isian gula merah, kemudian dikukus menggunakan bambu kecil yang menghasilkan suara khas dari uap panasnya.
Bagi banyak orang, suara kukusan putu bukan sekadar bunyi biasa. Dentingan uap yang terdengar di malam hari justru menghadirkan kenangan masa kecil yang penuh nostalgia.
“Kalau malam dengar suara putu itu rasanya langsung ingat zaman dulu,” ujar salah satu pembeli di kawasan Ngarsopuro.
Di balik kesederhanaannya, kue putu ternyata memiliki sejarah panjang. Sejumlah sumber menyebut kuliner ini memiliki keterkaitan dengan makanan dari Tiongkok pada masa Dinasti Ming sebelum berkembang dan beradaptasi di Indonesia.
Dalam budaya Jawa, nama “putu” bahkan tercatat dalam naskah kuno Serat Centhini yang ditulis pada awal abad ke-19 di masa Kerajaan Mataram.
Hal tersebut menunjukkan bahwa kue putu bukan sekadar jajanan pasar, melainkan bagian dari perjalanan budaya kuliner masyarakat Jawa.
Baca Juga: Belajar dari Malaysia dan Thailand, Budiyono Usul Konversi DHE 12 Persen untuk Selamatkan Rupiah
Kini, lebih dari 30 tahun sejak pertama kali berjualan, Pak Setu masih setia menjaga rasa dan tradisi tersebut.
Di tengah gempuran makanan modern yang terus bermunculan, gerobak sederhana miliknya tetap menjadi bagian kecil dari denyut kuliner malam Kota Solo yang tak lekang oleh waktu. (Lutfiana Sekar/AN)
Editor : Andi Aris Widiyanto