SOLOBALAPAN.COM - Di tengah semarak gelaran “Mangkunegaran Makan-Makan” yang menghadirkan ratusan tenant kuliner di kawasan Pura Mangkunegaran, terdapat satu sudut yang menyajikan pengalaman berbeda bagi pengunjung.
Bukan sekadar kuliner kekinian, tenant ini menghadirkan jamu tradisional yang diracik secara alami oleh seorang abdi dalem, sekaligus menjadi bukti bahwa warisan budaya masih terus hidup di tengah perkembangan zaman.
Adalah Rut, generasi kedua yang melanjutkan usaha jamu milik sang ibu, almarhumah Bu Hadi. Diketahui, Hadi merupakan abdi dalem Mangkunegaran yang dahulu menjajakan jamu dengan cara tradisional, yakni digendong dan berkeliling kampung.
“Iya, saya ini meneruskan usaha ibu. Dulu ibu jualan jamu keliling pakai gendongan,” ujar Rut saat ditemui di lokasi acara.
Usaha jamu tersebut telah dirintis sejak sekitar tahun 1985. Pada masa itu, Hadi menjajakan jamu dengan cara berpindah-pindah dari satu kampung ke kampung lain, bahkan hingga ke lingkungan dalam Mangkunegaran.
Seiring berjalannya waktu, jamu racikan tersebut mulai dikenal masyarakat dan memiliki pelanggan tetap. Cita rasa yang khas serta bahan alami menjadi daya tarik utama yang membuat usaha ini bertahan hingga kini.
Setelah sang ibu meninggal dunia, Rut melanjutkan usaha tersebut sekaligus kembali mengemban peran sebagai abdi dalem di Mangkunegaran.
Baca Juga: Festival Rasa di Jantung Budaya, Mangkunegaran Makan-Makan Jadi Magnet Warga Solo
Dalam menjalankan usaha, ia dibantu oleh keluarga untuk menjaga konsistensi produksi dan pelayanan.
“Sekarang saya dibantu anak dan keluarga untuk jualannya,” jelasnya.
Dalam kesehariannya, Rut tetap mempertahankan cara produksi tradisional. Seluruh jamu diracik sendiri menggunakan bahan alami tanpa tambahan pengawet.
“Kalau kami semuanya diracik sendiri, bahannya alami. Jadi tidak tahan lama, paling dua hari. Tapi itu justru karena fresh,” katanya.
Jenis jamu yang ditawarkan pun beragam, di antaranya beras kencur, kunyit asam, dan gula asam. Setiap varian memiliki peminat tersendiri, meskipun kunyit asam menjadi salah satu yang paling banyak diminati.
“Kalau yang banyak dicari biasanya kunyit asam. Itu bagus untuk pencernaan juga,” ungkapnya.
Rut menegaskan bahwa jamu racikan alami memiliki perbedaan yang cukup signifikan dibandingkan produk instan yang kini banyak beredar di pasaran.
“Kalau jamu racikan sendiri sama yang instan itu beda, terutama dari segi rasa,” tambahnya.
Dalam gelaran “Mangkunegaran Makan-Makan”, jamu dijual dengan harga Rp13 ribu per cup, baik dalam kondisi dingin maupun hangat. Sementara di hari biasa, Rut berjualan di dalam kawasan Mangkunegaran dengan harga sekitar Rp10 ribu per cup.
Selain itu, tersedia pula kemasan botol satu liter seharga Rp50 ribu yang dapat dikonsumsi hingga lima porsi, sehingga banyak pengunjung yang memilih untuk membawanya pulang.
Antusiasme masyarakat terhadap jamu tradisional ini cukup tinggi, terutama di tengah tren gaya hidup sehat yang mulai berkembang. Tak sedikit pengunjung yang sengaja datang untuk mencari jamu racikan alami yang dipercaya memiliki manfaat bagi tubuh.
Kehadiran jamu tradisional di tengah festival kuliner modern ini menjadi warna tersendiri. Di saat banyak tenant menawarkan makanan kekinian, jamu justru hadir sebagai pengingat akan kekayaan budaya lokal yang masih relevan hingga saat ini.
Baca Juga: BEM Soloraya Turun ke Jalan di Tugu Kartasura, Soroti Upah Buruh hingga Nasib Guru Honorer
Melalui usaha yang telah berjalan hampir empat dekade tersebut, Rut tidak hanya menjalankan aktivitas ekonomi, tetapi juga berperan dalam menjaga keberlangsungan tradisi.
Di kawasan Mangkunegaran, jamu bukan sekadar minuman, melainkan bagian dari identitas budaya yang terus diwariskan dari generasi ke generasi. (Lutfiana Sekar/solobalapan.com)
Editor : Andi Aris Widiyanto