Berita Utama Solo Raya Entertainment Lifestyle Sport Kesehatan Ekonomi Teknologi Otomotif Sriwedaren Wisata dan Kuliner Persis Solo

Manis Gurih Sweke Nyemek Bu Reso, Kuliner Legendaris Klaten yang Tak Lekang Waktu

Angga Purenda • Jumat, 24 April 2026 | 18:28 WIB
Sweke Nyemek Bu Reso di Klaten menjadi kuliner legendaris sejak 1965. (ANGGA PURENDA/SOLOBALAPAN.COM)
Sweke Nyemek Bu Reso di Klaten menjadi kuliner legendaris sejak 1965. (ANGGA PURENDA/SOLOBALAPAN.COM)

 

KLATEN, SOLOBALAPAN.COM – Di tengah gempuran kuliner modern, cita rasa tradisional tetap punya tempat istimewa. Salah satunya adalah Sweke Bu Reso, kuliner legendaris yang telah bertahan sejak 1965 dan kini memasuki generasi ketiga.

Aroma khas sweke nyemek—olahan daging katak dengan kuah kental—masih setia memikat lidah para penikmat kuliner lintas generasi. Warung sederhana ini menjadi bukti bahwa resep warisan mampu bertahan di tengah perubahan zaman.

Baca Juga: Sinopsis Film Ain: Petaka Flexing di Media Sosial yang Berujung Teror Hasad Menyeramkan, Siap Tayang Bioskop Mulai Mei 2026

Usaha ini dirintis oleh Reso Sumarto yang mulai berjualan di kawasan Tegal Blateran, Klaten Tengah. Seiring waktu, racikan khasnya mulai dikenal luas, terutama oleh komunitas Tionghoa yang kerap beraktivitas di sekitar lokasi tersebut.

Kini, tongkat estafet usaha dilanjutkan oleh generasi ketiga, Anang Hantarta, yang memilih pulang ke kampung halaman setelah sempat berkarier sebagai juru masak di hotel berbintang di Yogyakarta.

“Resep ini tetap kami jaga. Tidak ada yang diubah, termasuk takaran bumbu,” ujar Anang, Jumat (24/4/2026).


Cita Rasa Khas yang Tak Tergantikan

Keunikan sweke nyemek Bu Reso terletak pada kuahnya yang kental dengan dominasi kecap, menghasilkan perpaduan rasa manis, gurih, dan sedikit pedas dari merica.

Berbeda dari kebanyakan olahan sweke lainnya, racikan di sini tidak menggunakan tauco dalam resep standar. Hal ini dilakukan agar rasa tetap bisa diterima oleh semua kalangan, meski tetap tersedia bagi pelanggan yang menginginkannya.

Baca Juga: Sinopsis Film Gudang Merica: Kisah Ardhito Pramono Jadi Mahasiswa Koas yang Terjebak Teror Mistis

Kunci kelezatan lainnya terletak pada penggunaan bumbu yang berani, seperti bawang putih, jahe, dan merica, tanpa pengurangan takaran meski harga bahan baku naik.

Tak kalah penting, bahan utama yang digunakan adalah katak hijau liar, bukan hasil ternak. Teksturnya yang kenyal dan rasa gurih yang meresap hingga ke tulang menjadi daya tarik utama.

Dalam sehari, warung ini mampu menghabiskan hingga 20–25 kilogram katak segar.


Langganan Tokoh hingga Pelanggan Luar Kota

Cita rasa autentik Sweke Bu Reso telah menarik perhatian berbagai kalangan, termasuk tokoh ternama seperti Didi Kempot, Ki Anom Suroto, hingga artis Feby Febiola.

Tak hanya itu, pelanggan juga datang dari berbagai kota seperti Surabaya, Jakarta, hingga Semarang demi mencicipi sensasi kuliner legendaris ini.


Harga dan Menu Variatif

Untuk menikmati seporsi sweke nyemek, pengunjung cukup merogoh kocek sekitar Rp50.000, sementara varian istimewa dengan ukuran katak lebih besar dibanderol Rp60.000 per porsi.

Baca Juga: Belasan Siswa SMKN 1 Mojosongo Diamankan Usai Tawuran, Diduga Dipicu Pesta Miras

Sajian ini paling nikmat disantap dengan nasi hangat dan pelengkap seperti kerupuk rambak atau emping melinjo.

Selain sweke nyemek, tersedia pula berbagai menu lain seperti sweke kuah bening, sweke goreng, hingga telur kodok goreng. Bagi yang tidak mengonsumsi sweke, warung ini juga menyediakan aneka menu penyetan.


Kuliner Legendaris yang Terus Bertahan

Kini, Sweke Bu Reso tidak sekadar menjadi tempat makan, tetapi juga destinasi kuliner yang menyimpan sejarah panjang dan cita rasa autentik.

Di tangan generasi ketiga, harapan besar tertumpu agar warisan kuliner ini tetap hidup dan terus menjadi kebanggaan Klaten di tengah derasnya arus kuliner modern. (ren/an)

Editor : Andi Aris Widiyanto
#sweke nyemek #kuliner modern #klaten #kuliner