SOLO, SOLOBALAPAN.COM — Pagi di depan Balai Kota Surakarta tampak berbeda. Deretan perempuan berkebaya bersiap mengayuh sepeda, bukan sekadar merayakan semangat Kartini, tetapi juga menyuarakan satu hal yang belum sepenuhnya hadir di ruang publik: rasa aman.
Aksi ini digagas komunitas Kayuh Comma, dipelopori Destyn Ayu Safitri, yang melihat langsung bagaimana pengalaman bersepeda bagi perempuan masih dibayangi berbagai kerentanan.
Baca Juga: 13 Desa di Wonogiri Masih Tanpa Lahan Koperasi, Program Dikebut Tapi Tersendat di Akar Masalah
Sekitar 15 peserta lintas usia mengikuti kegiatan ini. Mereka bersepeda menyusuri ruas-ruas utama kota, dari Balai Kota hingga kawasan Pasar Jongke, dengan kebaya sebagai simbol—bahwa perempuan berhak merasa aman, bahkan di ruang jalanan yang kerap didominasi laki-laki.
“Kebaya ini simbol. Perempuan juga berhak punya ruang aman saat bersepeda,” ujar Destyn, Minggu (19/4).
Namun di balik simbol itu, realitas di lapangan masih jauh dari ideal.
Dalam diskusi yang digelar usai bersepeda, para peserta mengungkap pengalaman yang serupa: rasa tidak aman, terutama saat bersepeda di malam hari.
Salah satu yang paling sering dialami adalah catcalling—gangguan verbal yang hingga kini masih dianggap sepele, padahal berdampak pada kenyamanan dan keamanan.
“Masih sering terjadi, terutama kalau bersepeda malam. Itu membuat perempuan jadi ragu untuk beraktivitas,” ungkapnya.
Kritik juga diarahkan pada minimnya ruang komunitas khusus perempuan di dunia pesepeda. Tanpa ruang aman untuk berbagi dan saling menguatkan, banyak perempuan memilih membatasi diri.
Di sisi lain, infrastruktur yang ada dinilai belum berpihak sepenuhnya. Jalur sepeda yang seharusnya menjadi ruang aman justru kerap disalahgunakan.
“Masih sering dipakai parkir, bahkan untuk aktivitas lain seperti makan atau nongkrong. Ini jelas mengurangi rasa aman,” tegas Destyn.
Kondisi semakin kompleks saat malam hari. Di sepanjang Jalan Slamet Riyadi, yang menjadi salah satu ikon kota, penerangan dinilai masih minim di beberapa titik jalur sepeda.
Baca Juga: Harga Pertamax Dex Tembus Rp23.900, Pemilik Fortuner dan Pajero Sport Siap-siap Elus Dada
Situasi ini membuat pesepeda—terutama perempuan—harus menghadapi risiko ganda: visibilitas rendah sekaligus potensi gangguan dari lingkungan sekitar.
Tak hanya itu, pelanggaran oleh kendaraan bermotor juga masih kerap terjadi. Jalur sepeda yang semestinya steril justru sering dilintasi pengendara motor, mempersempit ruang gerak pesepeda.
Fenomena ini menunjukkan bahwa persoalan bukan hanya pada fasilitas, tetapi juga pada disiplin dan kesadaran publik yang belum terbentuk.
Di tengah berbagai keterbatasan itu, inisiatif kecil seperti yang dilakukan komunitas ini menjadi penting. Bukan hanya sebagai ruang aman sementara, tetapi juga sebagai bentuk tekanan sosial agar kota lebih serius menghadirkan ruang publik yang inklusif.
“Kami ingin ini berkembang. Harapannya Solo bisa jadi kota yang benar-benar ramah untuk pesepeda perempuan, kapan pun,” pungkasnya.
Pesan mereka sederhana, namun kuat: jalanan bukan hanya milik mereka yang paling kuat, tetapi juga mereka yang selama ini memilih diam karena merasa tidak aman. (alf/an)
Editor : Andi Aris Widiyanto