TRAVELING, SUKOHARJO, SOLOBALAPAN.COM– Kabut pagi masih menggantung tipis di atas hamparan sawah Desa Kedungsono, Kecamatan Bulu, saat langkah pertama dimulai.
Jalan setapak membelah hijaunya padi, mengantar para traveler menuju satu destinasi yang masih tersembunyi: Gunung Purba Gajah Mungkur.
Perjalanan menuju puncak bukan sekadar pendakian, tapi pengalaman menyatu dengan alam pedesaan. Untuk mencapai lokasi, traveler bisa memulai dari Dukuh Ngesong atau Dukuh Kerjo.
Baca Juga: Usai Menaklukkan Lawu, Sop Iga Bu Ugi Jadi “Hadiah” Paling Dicari di Tawangmangu
Rute menuju Dukuh Kerjo memang sedikit memutar melalui wilayah Manyaran, Wonogiri, namun justru di situlah letak petualangannya.
Dari basecamp sederhana di rumah warga, suasana hangat khas desa langsung terasa.
Jalur awal yang landai—berupa cor makadam dan tanah—menjadi pemanasan alami sebelum trek mulai menanjak. Di kiri dan kanan, panorama sawah tersusun rapi seperti lukisan hidup yang menenangkan mata.
Gunung Gajah Mungkur menjadi destinasi ideal bagi pemula yang ingin mencoba sensasi trail run atau hiking ringan. Jarak menuju puncak sekitar 2,5 kilometer dengan total perjalanan tektok sekitar 5 kilometer, dipadu elevation gain lebih dari 500 meter—cukup menantang, namun tetap bersahabat.
Baca Juga: Ajarkan Anak Tidur Sendiri, Ini Tips dan Manfaat untuk Tumbuh Kembangnya
Rutenya pun variatif. Mulai dari jalan aspal, makadam, hingga jalur tanah berbatu, memberikan pengalaman lengkap bagi traveler yang ingin merasakan berbagai karakter trek dalam satu perjalanan.
Memasuki jalur tengah, lanskap berubah drastis. Pepohonan rindang dan semak belukar mendominasi, menciptakan suasana teduh yang menenangkan. Di sinilah perjalanan terasa lebih intim—bukan hanya soal fisik, tapi juga perjalanan batin menikmati sunyi dan segarnya alam.
Salah satu daya tarik unik sebelum mencapai puncak adalah keberadaan goa kecil di ketinggian. Meski tidak terlalu dalam, spot ini menjadi favorit untuk berfoto.
Dari sini, traveler bisa menikmati kontras pemandangan: langit biru di atas, dan hamparan sawah luas di bawah. Goa ini juga dipercaya petilasan Pangeran Samber Nyawa, menambah nuansa historis dalam perjalanan.
Gunung purba ini memiliki dua puncak, dengan Puncak Laskar Pelangi sebagai titik tertinggi di kisaran 665 mdpl. Meski tidak terlalu tinggi, posisi geografisnya menghadirkan panorama luar biasa.
Sesampainya di puncak, rasa lelah langsung terbayar. Hamparan awan rendah menggantung di atas lembah, sementara siluet perbukitan dan gunung di kejauhan menciptakan lanskap dramatis.
Dari sini, view 360 derajat terbuka lebar—menampilkan desa, sawah, hingga gugusan perbukitan di selatan.
Saat musim hujan, perjalanan semakin istimewa. Traveler bisa menemukan aliran air jernih dan air terjun kecil yang muncul dari sela-sela bebatuan—bonus alami yang jarang ditemui di gunung lain dengan ketinggian serupa.
Dengan total jarak sekitar 5,8 kilometer dan elevasi yang cukup menantang, jalur ini sangat cocok bagi pemula yang ingin “naik level”. Namun tetap perlu persiapan, karena beberapa titik memiliki kemiringan yang cukup menguras tenaga.
Baca Juga: Sempat Buron, Pelaku Pembacokan Semanggi Akhirnya Menyerahkan Diri
Waktu terbaik untuk memulai perjalanan adalah saat subuh. Selain udara yang masih sejuk, traveler juga berkesempatan menikmati momen magis—kabut tipis, sinar matahari pagi, dan lautan awan yang perlahan muncul dari balik lembah.
Gunung Purba Gajah Mungkur bukan sekadar destinasi. Ia adalah paket lengkap: olahraga, wisata alam, dan pengalaman emosional. Dari langkah di pematang sawah hingga berdiri di atas puncak, setiap sudut perjalanan menghadirkan cerita.
Bagi pecinta trail run, ini adalah lintasan ideal. Bagi pendaki pemula, ini gerbang pertama untuk jatuh cinta pada gunung. Dan bagi siapa pun yang datang, satu hal pasti: Gajah Mungkur akan selalu memanggil untuk kembali. (kwl/an)
Editor : Andi Aris Widiyanto