Berita Utama Solo Raya Entertainment Lifestyle Sport Kesehatan Ekonomi Teknologi Otomotif Sriwedaren Wisata dan Kuliner Persis Solo

Di Balik Indahnya Bukit Mongkrang, Ada Cerita Desa yang Bangkit Bersama Alam

Andi Aris Widiyanto • Senin, 19 Januari 2026 | 21:05 WIB

Bukit Mongkrang di lereng Gunung Lawu tak hanya menyuguhkan panorama alam memikat,
Bukit Mongkrang di lereng Gunung Lawu tak hanya menyuguhkan panorama alam memikat,

SOLOBALAPAN.COM - Pagi di lereng selatan Gunung Lawu selalu punya cara sendiri untuk menyambut manusia. Udara dingin menggigit pelan, aroma tanah basah bercampur wangi ilalang, dan di kejauhan, matahari perlahan naik dari balik pegunungan.

Di sinilah Bukit Mongkrang berdiri—tenang, bersahaja, namun diam-diam menjelma magnet bagi ribuan pasang kaki yang rindu alam.

Terletak di Kecamatan Tawangmangu, Kabupaten Karanganyar, Bukit Mongkrang kini bukan sekadar bukit. Ia telah berubah menjadi destinasi wisata alam favorit di Jawa Tengah, terutama sejak jalur pendakiannya resmi dibuka pada 2019.

Jalurnya ramah bagi pemula, durasi pendakian relatif singkat, namun hadiah yang ditawarkan di puncak terasa mahal: hamparan padang rumput luas, lanskap pegunungan, dan matahari terbit yang memanjakan mata.

Baca Juga: Banjir Gol! Hasil Lengkap Liga 4 Jateng: Persipur dan Persikaba Mengamuk, PSIR Rembang Sukses Balaskan Dendam ke Persiharjo!

Di ketinggian sekitar 2.194 meter di atas permukaan laut, Mongkrang seolah menjadi balkon alami Gunung Lawu. Dari titik tertentu, ketika cuaca cerah, mata bisa menjelajah jauh—menangkap siluet Merapi, Merbabu, Sumbing, Telomoyo, Prau, hingga Ungaran.

Bahkan, kepulan asap belerang dari Kawah Candradimuka tampak jelas, menjadi pengingat bahwa alam selalu hidup dan berdenyut.

Namun, keindahan Bukit Mongkrang tak hanya berhenti pada panorama.

Dari Sawah ke Warung, dari Ladang ke Jalur Pendakian

Sejak dikelola secara swadaya oleh warga Desa Gondosuli melalui Kelompok Sadar Wisata (Pokdarwis) yang bekerja sama dengan Perum Perhutani KPH Surakarta, Bukit Mongkrang pelan-pelan mengubah wajah ekonomi desa.

Warga yang sebelumnya sepenuhnya menggantungkan hidup pada pertanian kini mulai menemukan sumber penghidupan baru. Ada yang membuka warung kopi dan wedang jahe, menyewakan tenda dan matras, menyediakan lahan parkir, hingga menjual hasil pertanian organik khas lereng Lawu sebagai oleh-oleh.

Tenda-tenda pendaki yang berdiri di puncak bukan hanya penanda wisata alam, tetapi juga simbol perubahan. Aroma minuman hangat di kaki bukit berpadu dengan senyum ramah warga yang menyambut pendatang—sebuah narasi kecil tentang desa yang belajar tumbuh tanpa harus meninggalkan akarnya.

Administratur Perhutani KPH Surakarta, Ronny Merdyanto, menyebut Bukit Mongkrang sebagai contoh bagaimana pariwisata hutan seharusnya dikelola.

Baca Juga: Bukit Mongkrang Kembali Makan Korban, Pendaki Asal Colomadu Hilang

“Perhutani melihat potensi Bukit Mongkrang bukan hanya dari keindahan alamnya, tetapi dari semangat masyarakatnya. Kami ingin pariwisata berkembang tanpa merusak hutan, dan menjadi sumber kesejahteraan yang berkelanjutan,” ujarnya.

Bagi Perhutani, Mongkrang bukan proyek sesaat, melainkan ruang kolaborasi—antara masyarakat, pemerintah daerah, LSM lingkungan, dan pelaku usaha wisata.

Anak Muda Tak Lagi Pergi Jauh

Ketua Pokdarwis Desa Gondosuli, Nuryono, merasakan langsung dampak perubahan itu. Baginya, Bukit Mongkrang telah memberi alasan bagi anak-anak muda desa untuk tetap tinggal.

“Sekarang anak-anak muda tidak harus merantau. Ada yang jadi pemandu, buka warung, kelola parkir, bahkan mengurus promosi lewat media sosial,” katanya.

Pendekatan pengelolaan dilakukan secara partisipatif. Warga tidak hanya menjadi penonton, tetapi pelaku utama—dengan satu kesepakatan bersama: alam harus tetap dijaga.

Sederhana, Tapi Cukup

Soal fasilitas, Bukit Mongkrang tidak menawarkan kemewahan. Jalur pendakian dilengkapi warung-warung sederhana, sementara di area bawah tersedia toko penyewaan peralatan mendaki—mulai dari tenda, headlamp, trekking pole, hingga perlengkapan dasar lainnya. Cukup bagi siapa pun yang ingin naik tanpa ribet.

Baca Juga: Reza Pribadi Sudah Punya Firasat? Rylan Henry Pribadi Putra Satu-satunya Meninggal saat Main Ski di Jepang, Keluarga Konglo Indo Napan Group Disorot

Lokasinya berada di Tlogo Dringo, Desa Gondosuli, dengan akses mudah dari Karanganyar menuju Tawangmangu hingga Pos Cemara Kandang. Dari pos pendakian, waktu tempuh menuju puncak sekitar 60 menit—pendek, namun sarat pengalaman.

Harga tiket pun ramah di kantong: Rp10.000 untuk pendakian, Rp15.000 bagi yang ingin berkemah, dan tarif parkir sekitar Rp10.000. Bukit Mongkrang buka 24 jam, memberi kebebasan bagi siapa saja yang ingin menyapa Lawu kapan pun.

Lebih dari Sekadar Pemandangan

Bukit Mongkrang kini bukan hanya tempat mencari foto estetik atau mengejar matahari terbit. Ia adalah cerita tentang desa yang bangkit lewat pariwisata, tentang alam yang dijaga bersama, dan tentang ekonomi yang tumbuh tanpa harus mengorbankan hutan.

Di setiap langkah menuju puncak, ada pelajaran sederhana: bahwa keindahan alam akan selalu lebih bermakna ketika ia memberi kehidupan—bukan hanya bagi mata, tetapi juga bagi manusia yang menjaganya. (an)

Editor : Andi Aris Widiyanto
#gunung lawu #pendaki #karanganyar #bukit mongkrang #tawangmangu #Kawah Candradimuka #pegunungan