KARANGPANDAN, SOLOBALAPAN.COM – Karangpandan Karanganyar dikenal sebagai kawasan sejuk di lereng Gunung Lawu. Namun, bukan hanya udaranya yang menenangkan, wilayah ini juga menyimpan kekayaan kuliner tradisional yang terus diburu para pencinta rasa autentik.
Salah satunya adalah ayam tim Mbok Iyem, sajian khas berbahan ayam kampung yang menawarkan kelezatan berbeda dari olahan ayam pada umumnya.
Ayam tim Mbok Iyem bukan sekadar menu ayam biasa. Dari tampilan hingga rasa, hidangan ini menghadirkan pengalaman bersantap yang lebih mendalam.
Tekstur dagingnya empuk, seratnya halus, dengan rasa gurih alami tanpa bumbu berlebihan. Tak heran jika ayam tim kerap disebut sebagai olahan yang paling “jujur” dalam menampilkan karakter asli ayam kampung.
Satu porsi ayam tim disajikan utuh satu ekor dengan harga sekitar Rp 200 ribu. Porsi tersebut cukup dinikmati bersama enam hingga tujuh orang. Sajian ini biasanya dilengkapi lalapan segar, gembur, serta tempe bacem manis legit yang kian menyempurnakan perpaduan rasa.
Salah satu pelanggan setia, Djoko Pramono, mengungkapkan bahwa keistimewaan ayam tim Mbok Iyem terletak pada proses memasaknya yang panjang dan penuh kesabaran.
“Ayamnya sebelum digoreng ditim atau dikukus dulu selama empat sampai lima jam. Proses lama itu yang membuat dagingnya empuk, bahkan sampai ke tulang,” ujarnya.
Proses pengetiman dalam waktu lama membuat bumbu tradisional meresap sempurna ke dalam daging ayam.
Setelah itu, ayam digoreng sebentar untuk memberikan aroma dan tekstur luar yang menggugah selera. Hasilnya, daging tetap lembut di dalam, namun berpadu dengan sensasi gurih khas ayam goreng tradisional di bagian luar.
Berbeda dengan olahan ayam modern seperti ayam goreng tepung, ayam bakar, atau ayam kremes yang mengandalkan lapisan luar dan bumbu kuat, ayam tim Mbok Iyem justru menonjolkan kualitas bahan baku.
Ayam yang digunakan berasal dari ayam kampung liar, bukan ayam potong maupun ayam kampung ternak biasa. Jenis ayam ini memiliki pori-pori daging lebih halus sehingga teksturnya padat, namun tetap empuk setelah dimasak dalam waktu lama.
Baca Juga: Ratusan Santri TPQ di Solo Ikut Indonesia Mendongeng, Gaungkan Solidaritas Dunia untuk Palestina
Cita rasa gurih ayam tim terasa alami. Bahkan tanpa sambal berlebihan, daging ayam sudah mampu memanjakan lidah. Kaldu yang keluar selama proses pengetiman menambah kedalaman rasa, menghadirkan sensasi hangat dan kaya, sangat cocok disantap bersama nasi putih hangat.
Tak mengherankan jika ayam tim Mbok Iyem kerap menjadi pilihan keluarga maupun rombongan yang ingin menikmati masakan rumahan dengan cita rasa autentik.
Di tengah maraknya olahan ayam modern, hidangan ini hadir sebagai pengingat bahwa kesabaran dalam memasak dan kualitas bahan tetap menjadi kunci kelezatan sejati.
Bagi pencinta kuliner tradisional, ayam tim Mbok Iyem bukan sekadar menu makan, melainkan pengalaman rasa yang sulit tergantikan—sebuah hidangan yang membuktikan bahwa kelezatan terbaik sering lahir dari proses sederhana, panjang, dan penuh ketelatenan. (rud/an)
Editor : Andi Aris Widiyanto