Berita Utama Solo Raya Entertainment Lifestyle Sport Kesehatan Ekonomi Teknologi Otomotif Sriwedaren Wisata dan Kuliner Persis Solo

Alat Putaran Miring Gerabah Melikan, Warisan Budaya Tak Benda yang Ada di Museum Daerah Klaten

Damianus Bram • Sabtu, 13 September 2025 | 23:47 WIB
engunjung yang sedang melihat koleksi alat putaran miring gerabah Melikan di Museum Daerah Klaten, Jumat (12/9/2025).
engunjung yang sedang melihat koleksi alat putaran miring gerabah Melikan di Museum Daerah Klaten, Jumat (12/9/2025).

SOLOBALAPAN.COM – Kabupaten Klaten dikenal memiliki jejak sejarah panjang sekaligus menjadi rumah bagi berbagai tradisi yang masih lestari hingga kini.

Selain terkenal dengan sumber air umbul yang melimpah, Klaten juga menyimpan kekayaan seni kriya yang diwariskan secara turun-temurun.

Salah satu bukti nyata pelestarian budaya itu dapat ditemukan di Museum Daerah Klaten, ruang publik edukatif yang menyimpan koleksi benda bersejarah, etnografi, hingga karya tradisional masyarakat.

Dari sekian banyak koleksi, salah satu yang menarik perhatian adalah alat putaran miring gerabah Melikan.

Tradisi Ratusan Tahun Hingga Pengakuan Nasional

Jejak kerajinan gerabah di Desa Melikan, Kecamatan Wedi, sudah berlangsung sejak lebih dari 600 tahun lalu.

Konon, teknik unik ini diperkenalkan oleh Pangeran Mangkubumi dan terus dilestarikan hingga sekarang.

“Selain menampilkan cagar budaya tadi, ada juga warisan dan tradisi berupa warisan budaya tak benda, salah satunya Gerabah Melikan, itu berada di Desa Melikan, Kecamatan Wedi, tapi orang-orang lebih taunya sebagai gerabah Bayat karena lokasinya itu bersebelahan,” ujar Naufal, Pemandu Museum Daerah Klaten kepada SoloBalapan.com, Jumat (12/9/2025).

Pada tahun 2022, teknik putaran miring gerabah Melikan resmi ditetapkan sebagai Warisan Budaya Tak Benda (WBTB) Nasional oleh Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi.

Pengakuan ini menjadi tonggak penting sebagai wujud penghargaan terhadap upaya pelestarian tradisi lokal.

Keunikan Alat Putaran Miring

Keistimewaan gerabah Melikan terletak pada alat putarannya. Jika pengrajin lain umumnya menggunakan meja putar datar, warga Melikan memakai papan putaran yang dipasang miring.

Posisi miring ini memungkinkan pengrajin—terutama perempuan—bekerja sambil duduk menyamping. Selain memudahkan proses, cara ini juga menjaga kesopanan sesuai budaya Jawa yang dijunjung tinggi pada masa itu.

Dalam penelitian Pengembangan Desa Melikan Klaten sebagai Desa Wisata Edukasi Kerajinan Gerabah Tradisional (Universitas Muhammadiyah Surakarta, 2020), alat putaran miring dinilai unik dan langka.

Bahkan disebut sebagai satu-satunya teknik gerabah di dunia yang menggunakan sistem putaran miring dalam pembuatan gerabah tradisional.

Dengan sejarah panjang dan keunikan yang dimiliki, gerabah Melikan tidak hanya menjadi simbol kreativitas masyarakat lokal, tetapi juga daya tarik wisata budaya yang patut terus dilestarikan. (mg4/dam)

Editor : Damianus Bram
#Gerabah Melikan #warisan budaya tak benda #klaten #Museum Daerah Klaten #alat putaran miring