SOLOBALAPAN.COM - Siapa yang sampai sekarang masih memperingati weton dengan bubur abang putih? Dalam tradisi Jawa, hari lahir tidak hanya diingat setiap tahun.
Sebagian keluarga juga mengenal ngampirne weton, yaitu memperingati kembalinya weton kelahiran setiap 35 hari. Momen ini menjadi kesempatan untuk berdoa dan bersyukur atas umur yang masih diberikan.
Weton merupakan gabungan antara tujuh hari dalam sepekan dan lima hari pasaran Jawa, yakni Legi, Pahing, Pon, Wage, dan Kliwon.
Baca Juga: Asal Usul Sate Maranggi, Kuliner Khas Purwakarta yang Berawal dari Plered
Perpaduan keduanya membuat weton seseorang berulang setiap 35 hari. Misalnya, orang yang lahir pada Sabtu Legi akan kembali bertemu weton yang sama setelah 35 hari.
Bagi keluarga yang masih menjalankan kebiasaan ini, ngampirne weton bukan sekadar menghitung hari kelahiran. Momen tersebut juga bisa digunakan untuk mengingat perjalanan hidup yang sudah dilalui.
Harapan untuk kesehatan, keselamatan, ketenteraman, dan kelancaran rezeki biasanya menjadi bagian dari doa yang dipanjatkan.
Peringatannya tidak harus dilakukan dengan acara besar. Ada keluarga yang menyiapkan makanan untuk disantap bersama, ada pula yang membagikannya kepada tetangga.
Cara pelaksanaannya bisa berbeda karena mengikuti kebiasaan yang diwariskan dalam keluarga masing-masing.
Salah satu sajian yang dikenal dalam sejumlah tradisi selamatan Jawa adalah bubur abang putih.
Bubur ini dibuat dari beras yang dimasak hingga lunak. Bubur putih umumnya memiliki rasa gurih, sedangkan bubur abang menggunakan gula merah sehingga rasanya cenderung manis.
Baca Juga: Sering ada di soto dan bakmi, ternyata taoge berasal dari tradisi kuliner Tionghoa
Kehadiran bubur abang putih bukan hanya sebagai hidangan. Dalam sejumlah tradisi Jawa, sajian ini memiliki makna simbolis yang berkaitan dengan doa dan rasa syukur.
Meski begitu, makna bubur abang putih tidak selalu sama di setiap daerah. Penyajian dan penafsirannya dapat mengikuti kebiasaan masyarakat setempat.
Dalam peringatan weton, makanan yang disiapkan dapat menjadi bagian dari kegiatan berkumpul bersama keluarga.
Baca Juga: Bongko Kopyor/Pis Kopyor, Jajanan Tradisional Khas Gresik yang Gurih dan Manis
Bubur kemudian disantap atau dibagikan kepada orang-orang di sekitar. Kebiasaan berbagi ini juga ditemukan dalam berbagai acara selamatan Jawa, ketika makanan menjadi sarana untuk mempererat hubungan dengan keluarga dan tetangga.
Ngampirne weton sendiri tidak selalu dijalankan dengan cara yang sama. Ada keluarga yang memperingatinya setiap kali weton berulang, sementara yang lain melakukannya secara sederhana pada waktu tertentu.
Tidak semua keluarga juga menyiapkan bubur abang putih karena bentuk peringatannya dapat berbeda sesuai kebiasaan masing-masing.
Baca Juga: Selat Solo, Jejak Taktik Diplomasi Akulturasi Kuliner Jawa dan Belanda di Meja Keraton
Jika tidak memungkinkan memperingati weton setiap 35 hari, hari kelahiran yang datang setahun sekali bisa menjadi kesempatan untuk kembali mengingat perjalanan hidup.
Hal yang ditekankan bukan seberapa besar acara atau banyaknya makanan yang disiapkan, melainkan rasa syukur atas umur yang masih diberikan.
Ngampirne weton dengan bubur abang putih memperlihatkan bagaimana makanan sederhana masih menjadi bagian dari tradisi sebagian masyarakat Jawa.
Di balik sajian tersebut, ada kebiasaan untuk berdoa, bersyukur, dan berbagi. Tradisi ini menjadi pengingat bahwa memperingati hari lahir tidak hanya soal bertambahnya usia, tetapi juga tentang menghargai perjalanan hidup yang sudah dilalui. (Hanifatuz Zahra)
Editor : Kabun TriyatnoSumber : Berbagai Sumber