SOLOBALAPAN.COM – Bayangkan kamu menempelkan tangan ke dinding gua, lalu menyemprotkan pewarna di sekelilingnya hingga meninggalkan bentuk telapak tangan.
Sederhana, kan?
Tapi bagaimana kalau cap tangan itu ternyata dibuat setidaknya 67.800 tahun lalu?
Bukan di Eropa atau Afrika, melainkan di Indonesia, tepatnya di Liang Metanduno, Pulau Muna, Sulawesi Tenggara. Penelitian yang diterbitkan dalam jurnal Nature pada Januari 2026 menemukan bahwa cap tangan tersebut merupakan salah satu karya seni cadas tertua yang pernah ditemukan di dunia.
Menariknya, usia tersebut bukan hasil perkiraan berdasarkan bentuk gambar atau sekadar perbandingan dengan benda lain. Para peneliti punya cara khusus untuk mengetahui kapan karya tersebut dibuat.
Baca Juga: Bye-bye Uang Kembalian! QRIS Buat Transaksi Warung UMKM Jadi Cepat dan Bebas Ribet
Bukan Lukisannya yang Langsung Dihitung
Cap tangan di Liang Metanduno memang terlihat sederhana. Bagian yang tersisa bahkan hanya berupa area pigmen yang sudah memudar, berukuran sekitar 14 × 10 sentimeter, yang memperlihatkan sebagian jari dan telapak tangan.
Lalu bagaimana peneliti bisa mengatakan umurnya mencapai puluhan ribu tahun?
Mereka menggunakan teknik laser-ablation uranium-series dating. Sederhananya, peneliti tidak perlu menghancurkan atau mengukur usia pigmen catnya secara langsung.
Seiring waktu, lapisan mineral kalsium karbonat terbentuk di atas lukisan tersebut. Lapisan inilah yang kemudian dianalisis untuk mengetahui kapan mineral itu terbentuk.
Baca Juga: Rahasia Perut Happy: Buah Plum Harus Jadi 'Bestie' Baru
Hasil analisis menunjukkan usia lapisan tersebut sekitar 71.600 ± 3.800 tahun. Karena lapisan mineral itu berada di atas pigmen, lukisan cap tangan sudah pasti dibuat sebelum lapisan tersebut terbentuk.
Dari situlah peneliti mendapatkan batas usia minimum sekitar 67.800 tahun untuk karya tersebut.
Jadi, angka 67.800 tahun bukan berarti peneliti menemukan tanggal pasti ketika seseorang membuat cap tangan itu. Angka tersebut merupakan usia minimum berdasarkan lapisan mineral yang menutupinya.
Siapa yang Membuatnya?
Nah, bagian ini justru belum bisa dijawab dengan pasti.
Para peneliti belum memiliki cara untuk memastikan spesies manusia yang membuat cap tangan tersebut. Sulawesi sendiri pernah dihuni kelompok hominin lain sebelum kedatangan manusia modern.
Namun, peneliti mengaitkan karya tersebut dengan Homo sapiens berdasarkan karakteristik teknik dan gayanya, termasuk bentuk jari yang tampak sengaja dibuat lebih sempit dan runcing.
Artinya, ada kemungkinan manusia modern sudah memiliki kemampuan membuat karya simbolis di kawasan Sulawesi lebih dari 67.000 tahun lalu.
Dan ini penting karena Sulawesi berada di kawasan Wallacea, wilayah kepulauan yang menjadi bagian dari jalur perjalanan manusia menuju Sahul, daratan purba yang kemudian menjadi Australia dan Papua.
Penelitian tersebut menyebut temuan di Liang Metanduno memperkuat dugaan bahwa manusia modern melakukan perjalanan laut melalui wilayah Sulawesi ketika mulai menghuni Sahul sekitar 65.000 tahun lalu.
Ternyata Bukan Satu-Satunya Gua dengan Cerita Kuno
Liang Metanduno juga tidak berdiri sendirian.
Para peneliti mendokumentasikan 44 situs seni cadas di Sulawesi Tenggara, termasuk 14 lokasi yang sebelumnya belum diketahui. Mereka kemudian melakukan penanggalan terhadap sejumlah karya dari beberapa situs.
Temuan ini sekaligus memperlihatkan bahwa budaya seni cadas di Sulawesi sudah berlangsung sangat lama.
Bahkan, Balai Media Kebudayaan menyebut cap tangan di Gua Metanduno sebagai salah satu karya seni nonfiguratif tertua yang pernah ditemukan. Temuan tersebut juga melengkapi penelitian sebelumnya di Maros-Pangkep, Sulawesi Selatan, yang menemukan lukisan naratif berusia sekitar 51.200 tahun.
Yang menarik, manusia puluhan ribu tahun lalu ternyata tidak hanya meninggalkan jejak berupa tulang, alat batu, atau sisa makanan.
Mereka juga meninggalkan sesuatu yang jauh lebih personal: jejak tangan mereka sendiri di dinding gua.
Kita memang tidak tahu siapa orang yang menempelkan tangannya di dinding Liang Metanduno. Tidak tahu namanya, usianya, atau alasan persis mengapa ia membuat gambar tersebut.
Namun, ribuan generasi setelahnya, jejak tangan itu masih ada.
Dan mungkin, tanpa pernah menyadarinya, seseorang yang hidup 67.800 tahun lalu sedang meninggalkan pesan paling sederhana kepada manusia di masa depan: aku pernah berada di sini.
Editor : Inayah ChoirunisaSumber : Nature, Balai Media Kebudayaan, Google Arts & Culture