Sebelum Jadi Fashion Perempuan, High Heels Dulunya Dipakai Prajurit Untuk Berkuda

tim solobalapan • Dipublikasikan Senin, 28 September 2026 | 19:45 WIB
High heels yang kini identik dengan fashion perempuan memiliki sejarah panjang dari sepatu berkuda.(FashionEra)
High heels yang kini identik dengan fashion perempuan memiliki sejarah panjang dari sepatu berkuda.

SOLOBALAPAN.COM - High heels sekarang lekat dengan fashion perempuan. Sepatu dengan hak tinggi sering dianggap sebagai bagian dari penampilan yang elegan. Namun, bentuk sepatu ini ternyata memiliki sejarah yang jauh berbeda sebelum menjadi bagian dari busana perempuan.

Jejak awal hak tinggi berkaitan dengan penunggang kuda di Persia. Sejak sekitar abad ke-10, prajurit berkuda menggunakan sepatu dengan hak untuk membantu menjaga kaki tetap berada di sanggurdi. Posisi tersebut penting ketika mereka harus berdiri di atas kuda dan menggunakan senjata seperti busur.

Baca Juga: Saatnya Tonton Garuda Beraksi! Ini Link Live Streaming Indonesia vs Malaysia di FIFA ASEAN Cup 2026

Pada masa itu, hak pada sepatu tidak dibuat untuk menunjang penampilan. Bentuknya memiliki fungsi praktis bagi pengendara. Hak membantu kaki tidak mudah terlepas dari sanggurdi sehingga penunggang dapat mempertahankan posisi ketika berada di atas kuda.

Penggunaan sepatu berhak kemudian ikut dikenal di Eropa. Pada akhir abad ke-16 hingga awal abad ke-17, hubungan antara Persia dan sejumlah kerajaan Eropa semakin berkembang. Para utusan Persia yang datang ke lingkungan kerajaan membawa serta gaya berpakaian yang kemudian menarik perhatian bangsawan Eropa.

Dari sini, fungsi hak mulai berubah. Sepatu yang sebelumnya berkaitan dengan kebutuhan berkuda kemudian menjadi bagian dari pakaian pria kalangan atas. Hak tidak lagi selalu digunakan untuk membantu seseorang menunggang kuda, tetapi juga menjadi bagian dari pertanyaan.

Baca Juga: Magnesium vs Melatonin untuk Tidur, Apa Bedanya dan Mana yang Lebih Tepat?

Bagi kaum bangsawan, pakaian memang bukan sekadar soal kenyamanan. Sepatu yang tinggi dan kurang praktis justru menunjukkan bahwa pemakainya tidak perlu bekerja dengan pakaian tersebut. Dengan kata lain, alas kaki ikut menjadi penanda kedudukan sosial.

Penggunaan hak tinggi kemudian semakin dikenal di lingkungan istana Eropa, terutama pada masa Raja Louis XIV di Prancis. Ia dikenal mengenakan sepatu berhak merah, yang kemudian menjadi bagian dari gaya berpakaian kalangan istana.

The Metropolitan Museum of Art mencatat bahwa laki-laki dan perempuan di lingkungan istana Prancis pada masa Louis XIV diwajibkan mengenakan hak kulit merah yang dikenal sebagai les talons rouges. Gaya tersebut kemudian menyebar ke sejumlah istana Eropa.

Baca Juga: Benarkah Teh Chamomile Bisa Bikin Tidur Lebih Nyenyak? Ini Kata Penelitian

Hak tinggi pada masa itu juga memiliki makna sosial. Warna merah pada hak bukan sekadar pilihan warna, tetapi berkaitan dengan lingkungan istana dan kedudukan pemakainya. Karena itu, sepatu dapat menjadi salah satu cara untuk menunjukkan siapa yang termasuk dalam kalangan bangsawan.

Namun, penggunaan hak oleh pria perlahan berubah pada abad ke-18. Mode pakaian pria mulai bergerak ke arah yang lebih sederhana dan praktis, sementara sepatu berhak tinggi semakin berkembang dalam busana perempuan. Proses tersebut membuat hak tinggi akhirnya lebih kuat dikaitkan dengan perempuan dibandingkan dengan pria.

Perubahan itu membuat high heels memiliki perjalanan yang cukup panjang. Sepatu yang sekarang identik dengan fashion perempuan ternyata bermula dari kebutuhan penunggang kuda, kemudian menjadi simbol status bagi pria bangsawan, sebelum akhirnya berkembang menjadi bagian dari busana perempuan.

Jadi, jika selama ini high heels dianggap sejak awal sebagai sepatu perempuan, sejarahnya justru menunjukkan hal yang berbeda. Hak tinggi pernah menjadi bagian dari perlengkapan berkuda dan fashion pria jauh sebelum dikenal seperti sekarang.(Hanifatuz Zahra)

Editor : Kabun Triyatno
Sumber : Berbagai Sumber
hanifatuz zahra HighHeels sejarahfashion fashion gaya hidup