Dari Sepur hingga Potlot, Begini Jejak Bahasa Belanda dalam Kosakata Jawa

tim solobalapan • Dipublikasikan Kamis, 24 September 2026 | 19:00 WIB
Ilustrasi Bahasa Belanda dan Bahasa Jawa(ChatGPT)
Ilustrasi Bahasa Belanda dan Bahasa Jawa (AI Generated)

SOLOBALAPAN.COM-Bahasa Jawa dikenal memiliki kekayaan kosakata yang berkembang melalui perjalanan sejarah dan interaksi budaya. Salah satu pengaruh yang masih dapat ditemukan hingga kini adalah masuknya sejumlah kosakata dari Bahasa Belanda ke dalam penggunaan bahasa Jawa sehari-hari.

Fenomena tersebut menjadi menarik karena beberapa kata yang digunakan masyarakat Jawa saat ini terdengar begitu akrab, bahkan sebagian orang mungkin tidak menyadari bahwa kata tersebut memiliki asal-usul dari bahasa Belanda.

Salah satu unggahan media sosial dari akun LangitPoetih turut mengangkat topik mengenai sejumlah kosakata bahasa Jawa yang berasal dari bahasa Belanda.

Baca Juga: Keunikan Benteng Willem I Ambarawa, Tidak Hanya untuk Wisata tapi Masih Digunakan sebagai Lapas

Pengaruh Sejarah dalam Perkembangan Bahasa

Masuknya kosakata Belanda ke dalam bahasa Jawa tidak terlepas dari sejarah panjang hubungan masyarakat Nusantara dengan pemerintahan kolonial Belanda. 

Masuknya kosakata Belanda ke dalam bahasa Jawa tidak terlepas dari sejarah panjang hubungan masyarakat Nusantara dengan pemerintahan kolonial Belanda. Kontak tersebut terjadi dalam berbagai bidang, mulai dari pemerintahan, pendidikan, transportasi hingga kehidupan sehari-hari.

Baca Juga: Tahlilan dan Akulturasi Budaya, Perkembangan Tradisi Nusantara dalam Islam

Dalam prosesnya, kata-kata dari bahasa Belanda mengalami penyesuaian dengan pelafalan masyarakat setempat. Karena telah digunakan secara turun-temurun, sejumlah istilah tersebut kemudian menjadi bagian dari kosakata yang lazim digunakan dalam percakapan bahasa Jawa.

Sepur, Pit, hingga Potlot

Salah satu contoh yang cukup dikenal adalah sepur. Kata tersebut berasal dari bahasa Belanda spoor, yang berkaitan dengan jalur atau rel kereta api. Dalam bahasa Jawa, sepur kemudian digunakan untuk menyebut kereta api.

Baca Juga: Dari Gong hingga Kendang: Mengenal Instrumen Musik Tradisional Gamelan Jawa

Ada pula kata pit, yang digunakan masyarakat Jawa untuk menyebut sepeda. Kata ini dikaitkan dengan bahasa Belanda fiets. Sementara itu, potlot berasal dari potlood, yang berarti pensil.

Selain ketiga kata tersebut, terdapat sejumlah kosakata lain yang juga tercatat memiliki hubungan dengan bahasa Belanda, seperti:

Kosakata Jawa  Asal bahasa Belanda

1.       Sepur= spoor = Kereta api

2.       Pit= fiets= sepeda

3.       Potlot = potlood = Pensil

4.       Kantor = kantoor = Tempat bekerja/instansi

5.       Koran = krant = Surat kabar

6.       Masinis = machinist = Pengemudi kereta

7.       Direktur = directeur = Pimpinan

8.       Insinyur = ingenieur = Ahli teknik

9.       Sopir = chauffeur = Pengemudi

10.   Prei = vrij =  Libur                  

Daftar tersebut menunjukkan bahwa proses penyerapan tidak selalu mempertahankan bentuk asli sebuah kata. Bunyi dan ejaannya dapat mengalami perubahan sehingga lebih sesuai dengan sistem pengucapan bahasa penerima.

Baca Juga: Bahasa Menjadi Tema, Festival Kebudayaan Yogyakarta 2026 Hadirkan Ruang Kebudayaan

Kata Serapan Menjadi Bagian dari Bahasa Sehari-hari

Menariknya, sejumlah kosakata tersebut kini telah digunakan dalam percakapan sehari-hari dan terdengar seperti bagian alami dari bahasa Jawa.

Hal ini menunjukkan bahwa bahasa terus mengalami perkembangan seiring dengan perubahan sosial dan hubungan antarmasyarakat.

Baca Juga: Ritual Cowongan, Tradisi Daerah yang Dikemas Dalam Sebuah Pertunjukan Seni tari

Penyerapan kosakata asing juga merupakan salah satu bagian dari perkembangan bahasa. Penelitian mengenai proses penyerapan bahasa Belanda ke dalam bahasa Jawa menunjukkan bahwa perubahan dapat terjadi pada aspek bunyi maupun bentuk kata.

Dengan demikian, keberadaan kata-kata seperti sepur, pit, dan potlot bukan sekadar persoalan kosakata, tetapi juga menjadi jejak sejarah yang tersimpan dalam bahasa.

Baca Juga: Ketika Tari Srimpi Sangupati Menjadi Bagian dari Siasat Melawan Pemerintah Kolonial Belanda

Kata-kata tersebut memperlihatkan bagaimana pertemuan berbagai budaya dapat meninggalkan pengaruh yang bertahan dalam kehidupan masyarakat hingga masa kini. (Carrieolis Ratu Lathiifu)

Editor : Kabun Triyatno
Penjajahan carrieolis ratu bahasa belanda tempoe doloe bahasa jawa