SOLOBALAPAN.COM - Sekarang mengundang orang ke acara hajatan bisa dilakukan hanya dalam hitungan detik. Sebuah desain undangan dibuat, dikirim melalui WhatsApp, lalu penerima tinggal membaca tanggal dan lokasi acara.
Namun, jauh sebelum undangan digital dikenal, masyarakat Jawa memiliki cara lain untuk menyampaikan hajat, yakni dengan datang dan mengundang seseorang secara langsung.
Baca Juga: Buku Yasin Ini Tampil Beda, Ada Sentuhan Personal dari Seniman Cahyo Destianto
Tradisi tersebut dikenal sebagai ijeman. Di Mertoudan, Kelurahan Mojosongo, Kecamatan Jebres, Surakarta, ijeman merupakan salah satu cara lisan untuk mengundang seseorang menghadiri kenduri atau berbagai acara adat.
Penelitian Universitas Gadjah Mada menyebutkan bahwa masyarakat setempat mengenal dua bentuk pengundangan, yakni ijeman secara lisan dan uleman secara tertulis.
Istilah ijeman sendiri berkaitan dengan penyampaian maksud secara lisan. Di Mertoudan, tradisi ini juga dikenal dengan istilah atur-atur. Penyebutan tersebut berkaitan dengan cara menyampaikan undangan yang dilakukan dari satu orang ke orang lainnya.
Namun, ijeman ternyata tidak sesederhana datang ke rumah seseorang lalu mengatakan bahwa ada hajatan.
Penelitian yang dimuat dalam SULUK: Jurnal Bahasa, Sastra, dan Budaya menemukan bahwa ijeman memiliki struktur dalam penyampaiannya.
Secara umum, terdapat salam atau sapaan, pembukaan, isi undangan, kemudian penutup. Bahasa yang digunakan juga dapat menyesuaikan hubungan antara orang yang mengundang dan orang yang diundang.
Baca Juga: Ciplukan, Buah Kecil yang Tumbuh dalam Kelopak Mirip Kantong
Orang yang bertugas menyampaikan undangan disebut carokok. Dalam praktiknya, carokok dapat menyampaikan maksud pemilik hajat kepada calon tamu dengan bahasa yang memperhatikan tata krama.
Misalnya, penyampaian dapat diawali dengan “Kulanuwun” atau permisi, kemudian dilanjutkan dengan maksud kedatangan. Setelah itu, undangan disampaikan dan percakapan ditutup setelah calon tamu memberikan tanggapan.
Yang menarik, penelitian tersebut menemukan bahwa beberapa bentuk ijeman justru berlangsung sangat singkat. Carokok tidak selalu masuk ke rumah calon tamu atau melakukan percakapan panjang. Dalam kondisi tertentu, penyampaian undangan dapat dilakukan secara langsung di depan rumah.
Di balik cara penyampaian tersebut terdapat nilai yang lebih besar daripada sekadar memberikan informasi tentang sebuah acara.
Baca Juga: Selama Ini Dikira Cuma Perahu, Paledang Lamalera Ternyata Dimaknai seperti Tubuh Manusia
Ijeman dipandang sebagai bentuk penghormatan kepada orang yang diundang. Datang secara langsung dan menyampaikan undangan dengan tutur bahasa yang sesuai menunjukkan adanya perhatian dari pemilik hajat kepada calon tamu. Penelitian tersebut juga menemukan bahwa ijeman mengandung makna sosial, spiritual, filosofis, pragmatis, serta nilai etika dan moral.
Dengan kata lain, yang dianggap penting bukan hanya orang tersebut mengetahui adanya acara, tetapi juga bagaimana undangan itu disampaikan.
Hal tersebut membuat ijeman berbeda dari undangan tertulis atau digital. Dalam undangan modern, informasi mengenai acara dapat dikirim kepada banyak orang sekaligus. Sementara dalam ijeman, proses bertemu, berbicara, menggunakan bahasa yang tepat, hingga memberikan respons menjadi bagian dari hubungan sosial.
Tradisi ini juga tidak terbatas pada pesta pernikahan. Dalam penelitian di Mertoudan, ijeman digunakan untuk berbagai acara kenduri dan kegiatan adat. Artinya, tradisi tersebut berkaitan dengan kehidupan sosial masyarakat, bukan hanya satu jenis hajatan.
Sayangnya, cara mengundang secara lisan seperti ijeman kini menghadapi perubahan zaman. Penelitian UGM menunjukkan bahwa uleman tertulis dianggap lebih praktis, sementara penggunaan media sosial membuat penyampaian undangan secara digital semakin mudah. Perubahan tersebut membuat ijeman semakin jarang digunakan dan berpotensi mengalami kepunahan.
Penelitian itu sendiri mengambil data dari sebelas percakapan yang dilakukan oleh tiga informan ketika menjalankan kegiatan ijeman di Mertoudan pada Desember 2021. Artinya, penelitian tersebut mendokumentasikan praktik yang memang ditemukan di masyarakat setempat, bukan sekadar gambaran teoritis tentang tradisi Jawa.
Kini, seseorang mungkin hanya membutuhkan beberapa detik untuk mengirim undangan melalui WhatsApp. Namun, ijeman menunjukkan bahwa dalam kebudayaan Jawa, mengundang seseorang pernah menjadi bagian dari tata krama sekaligus cara menjaga hubungan sosial.
Undangannya memang disampaikan dengan kata-kata, tetapi yang dibawa sebenarnya lebih dari sekadar informasi tentang sebuah acara: ada penghormatan, kesopanan, dan hubungan antarmanusia di dalamnya. (Lut)
Editor : Luthfiana SekarSumber : Berbagai Sumber