SOLOBALAPAN, JAKARTA — Sosok istri Presiden pertama Republik Indonesia Soekarno, Ratna Sari Dewi Soekarno, sukses mencuri perhatian publik saat menghadiri rangkaian Upacara Peringatan Detik-Detik Proklamasi HUT ke-81 Kemerdekaan RI di Istana Merdeka, Jakarta, pada Senin (17/8/2026).
Perempuan yang kini berusia 86 tahun tersebut tampil memikat dan anggun dalam balutan kebaya putih bermotif renda yang dipadukan serasi dengan kain batik bernuansa cokelat kemerahan serta sematan bros elegan di bagian dada.
Kehadiran figur bersejarah yang memiliki nama asli Naoko Nemoto ini sontak menjadi magnet tersendiri bagi para tamu undangan dan masyarakat, mengingat posisinya yang lekat dengan memori sejarah mendampingi sang Proklamator bangsa.
Profil Singkat dan Masa Muda Naoko Nemoto di Tokyo
Ratna Sari Dewi Soekarno lahir di Tokyo, Jepang, pada 6 Februari 1940 dengan nama lahir Naoko Nemoto. Berasal dari keluarga pekerja konstruksi migran sederhana di Tokyo, anak ketiga dari keluarga ini telah terbiasa bekerja keras sejak masa remaja demi menopang ekonomi keluarga.
Selepas menyelesaikan pendidikan sekolah menengah pada tahun 1955, Dewi sempat bekerja sebagai pramuniaga di salah satu perusahaan asuransi jiwa di kawasan Chiyoda, Tokyo.
Di balik rutinitas kerjanya, ia memiliki ketertarikan mendalam pada seni panggung dan sastra:
-
Mempelajari tari klasik tradisional Jepang, vokal/bernyanyi, serta seni peran di Sishere Hayakawa Art Production.
-
Menguasai bahasa Inggris guna memperluas kiprahnya di dunia pertunjukan.
-
Bekerja paruh waktu sebagai pelayan hotel terkemuka pada malam hari untuk membiayai studinya di siang hari.
Pertemuan dengan Bung Karno hingga Pernikahan Bersejarah
Takdir mempertemukan Naoko Nemoto dengan Presiden Soekarno dalam agenda kunjungan kenegaraan sang Proklamator ke Jepang pada Juni 1959.
Sejarah mencatat dua versi mengenai lokasi pertemuan perdana mereka, yakni di Copacabana Super Club atau Hotel Imperial di Tokyo.
Pesona dan kecerdasan Naoko yang saat itu berusia 19 tahun membuat Soekarno mengundangnya datang ke Jakarta pada 14 September 1959.
Hubungan keduanya berlanjut ke jenjang pernikahan sakral pada 3 Maret 1962 melalui prosesi akad nikah secara Islam, di mana Dewi mantap memeluk agama Islam dari keyakinan sebelumnya (Katolik). Dari ikatan cinta tersebut, keduanya dikaruniai seorang putri bernama Kartika Sari Dewi Soekarno yang lahir pada 11 Maret 1967. Kebersamaan mereka bertahan hingga Bung Karno wafat pada 21 Juni 1970.
Jembatan Diplomasi dan Hubungan Bilateral Indonesia–Jepang
Kehadiran Dewi Soekarno di sisi Presiden Soekarno bukan sekadar pendamping hidup, melainkan figur penting dalam menjembatani relasi budaya dan diplomatik Indonesia–Jepang.
Berkat kemampuan komunikasinya yang luwes, Dewi pernah melakukan lobi penting di Jepang sehingga buku koleksi karya seni Bung Karno dapat dicetak secara berkualitas di Negeri Sakura.
Pada tahun 1964, Dewi dipercaya menjabat sebagai Ketua Kehormatan Lembaga Persahabatan Indonesia–Jepang. Ia juga menginisiasi pendirian Komunitas Nadeshiko, yakni perkumpulan yang mewadahi para wanita Jepang yang menikah dengan warga negara Indonesia.
Tabel Pemetaan Profil & Rekam Jejak Dewi Soekarno
Guna memberikan pemetaan informasi mengenai rincian biodata, kisah pernikahan, serta peran historis Dewi Soekarno secara rapi, terstruktur, dan mudah dipahami, berikut adalah rangkuman datanya:
| Parameter Informasi | Detail Fakta & Catatan Sejarah |
| Nama Asli & Gelar | Naoko Nemoto / Ratna Sari Dewi Soekarno |
| Tempat, Tanggal Lahir | Tokyo, Jepang / 6 Februari 1940 |
| Status Perkawinan | Istri ke-6 Presiden Pertama RI Soekarno (Menikah 3 Maret 1962) |
| Putri Kandung | Kartika Sari Dewi Soekarno (Lahir 11 Maret 1967) |
| Peran Diplomasi | Ketua Kehormatan Lembaga Persahabatan Indonesia-Jepang (1964) |
| Komunitas Bentukan | Komunitas Nadeshiko (Warga Jepang bersuami WNI) |
| Momentum Terkini | Hadir di Upacara HUT ke-81 RI di Istana Merdeka (17 Agustus 2026) |
| Gaya Busana Istana | Kebaya renda putih, kain batik cokelat kemerahan, & bros dada |
Kehadiran Dewi Soekarno di peringatan kemerdekaan Republik Indonesia ke-81 menjadi potret nostalgia yang bernilai historis tinggi, merefleksikan kembali perjalanan panjang salah satu saksi hidup era kepemimpinan sang Proklamator bangsa.
(did)
Editor : Didi Agung Eko Purnomo