Rumah tersebut dikenal sebagai Rumah Sejarah Rengasdengklok, atau Rumah Djiaw Kie Siong.
Bangunannya memang tidak semegah gedung bersejarah pada umumnya.
Namun, rumah ini menjadi salah satu tempat penting yang berkaitan dengan peristiwa menjelang Proklamasi Kemerdekaan Indonesia pada Agustus 1945.
Baca Juga: Jejak Surat Kabar Solo pada Masa Awal Kemerdekaan
Berawal dari Rumah Seorang Petani
Rumah tersebut merupakan milik Djiaw Kie Siong, seorang petani keturunan Tionghoa yang tinggal di Rengasdengklok.
Menurut catatan sejarah, Djiaw Kie Siong pindah ke Rengasdengklok sekitar tahun 1920.
Rumah yang kemudian menjadi saksi peristiwa besar itu dibangun pada periode tersebut dan pada masanya tergolong cukup besar dibandingkan rumah masyarakat di sekitarnya.
Baca Juga: Survival Mode Orang Indonesia: Ketika Sisa Makanan Justru Bisa Jadi Enak
Tidak banyak orang yang mungkin menyangka bahwa rumah seorang petani tersebut nantinya akan dikaitkan dengan salah satu momen paling menentukan dalam sejarah Indonesia.
Ketegangan Menjelang Proklamasi
Memasuki pertengahan Agustus 1945, situasi politik Indonesia semakin tegang.
Jepang yang sebelumnya menguasai Indonesia berada dalam posisi terdesak setelah kekalahannya dalam Perang Dunia II.
Kabar mengenai menyerahnya Jepang kepada Sekutu kemudian sampai kepada kelompok pemuda Indonesia.
Golongan muda menginginkan agar kemerdekaan segera diproklamasikan tanpa menunggu keputusan Jepang maupun badan yang dibentuk pada masa pendudukan.
Perbedaan pandangan antara kelompok muda dan Soekarno-Hatta kemudian memunculkan Peristiwa Rengasdengklok.
Baca Juga: Kisah Para Kurir Rahasia pada Masa Revolusi Kemerdekaan
Mengapa Rengasdengklok?
Rengasdengklok dipilih bukan tanpa alasan.
Wilayah tersebut berada cukup jauh dari pusat kekuasaan Jepang di Jakarta dan pada masa itu memiliki akses yang relatif sulit.
Selain itu, terdapat markas Pembela Tanah Air atau PETA di wilayah Rengasdengklok sehingga kelompok pemuda memiliki pertimbangan keamanan tersendiri.
Pada 16 Agustus 1945, Soekarno dan Mohammad Hatta dibawa oleh kelompok pemuda ke Rengasdengklok.
Awalnya, keduanya ditempatkan di markas PETA.
Namun, karena alasan keamanan, Soekarno dan Hatta kemudian dipindahkan ke rumah Djiaw Kie Siong yang berada tidak jauh dari markas tersebut.
Rumah yang Menjadi Tempat Perumusan Proklamasi
Di rumah inilah Soekarno dan Hatta menjalani salah satu bagian penting dari rangkaian peristiwa menjelang kemerdekaan.
Rumah Djiaw Kie Siong menjadi tempat Soekarno dan Hatta diamankan oleh kelompok pemuda sekaligus menjadi salah satu lokasi penting dalam proses persiapan Proklamasi.
Baca Juga: Bukan Hanya Jakarta, Solo Juga Punya Jejak Panjang Perjuangan Mempertahankan Kemerdekaan
Sumber dari Balai Pelestarian Kebudayaan menyebut rumah tersebut sebagai tempat Soekarno pertama kali menuliskan Draf awal naskah Proklamasi.
Namun, perlu dibedakan antara Draf awal di Rengasdengklok dengan naskah Proklamasi yang kemudian dirumuskan dan disepakati di Jakarta.
Setelah situasi menemukan jalan keluar, Soekarno dan Hatta akhirnya kembali ke Jakarta.
Pada 17 Agustus 1945, Proklamasi Kemerdekaan Indonesia dibacakan di Jalan Pegangsaan Timur No. 56, Jakarta.
Rumah yang Pernah Dipindahkan
Ada fakta menarik lain di balik rumah bersejarah ini.
Bangunan yang sekarang dapat dikunjungi ternyata Bukan lagi berada tepat di lokasi awalnya.
Dahulu rumah Djiaw Kie Siong berada di dekat aliran Sungai Citarum.
Karena mengalami abrasi dan perubahan kondisi di sekitar sungai, rumah tersebut kemudian dipindahkan sekitar 150 meter dari lokasi semula.
Pemindahan dilakukan dengan membongkar bagian-bagian rumah dan membangunnya kembali di lokasi yang lebih aman.
Meski berpindah tempat, sebagian besar komponen bangunan lama masih dipertahankan.
Kayu, tiang, lantai, genting, hingga bagian tertentu dari struktur rumah masih menunjukkan karakter bangunan lama.
Bukan Rumah Mewah, tetapi Penuh Cerita
Saat melihat Rumah Sejarah Rengasdengklok, pengunjung mungkin tidak akan menemukan bangunan megah seperti museum modern.
Bangunan lamanya justru terlihat sederhana.
Rumah tersebut terdiri antara lain dari ruang tamu dan kamar yang dikaitkan dengan tempat Soekarno dan Hatta beristirahat.
Material kayu dan bambu membuat suasana rumah terasa seperti bangunan masyarakat pada masa awal abad ke-20.
Kesederhanaan inilah yang justru membuat rumah tersebut menarik.
Sebab, sejarah besar Indonesia ternyata pernah berlangsung di sebuah rumah yang jauh dari kesan megah.
Dari Rumah Warga Menjadi Warisan Sejarah
Kini Rumah Sejarah Rengasdengklok menjadi bagian dari jejak sejarah perjuangan kemerdekaan Indonesia.
Keberadaannya bukan hanya mengingatkan masyarakat tentang Soekarno dan Hatta.
Rumah ini juga mengingatkan tentang peran kelompok pemuda, PETA, masyarakat setempat, dan orang-orang yang berada di sekitar peristiwa menjelang Proklamasi.
Baca Juga: 103 Anggota DPR dan DPD Absen Sidang Tahunan 2026, Ahmad Muzani Tegaskan Hal Ini
Rumah Djiaw Kie Siong juga telah dipandang sebagai bangunan yang memiliki nilai penting dalam sejarah kemerdekaan dan tercatat dalam sumber pemerintah sebagai Cagar budaya.
Pada akhirnya, Rumah Rengasdengklok bukan sekadar bangunan tua di Karawang.
Ia adalah pengingat bahwa perjalanan menuju kemerdekaan tidak terjadi dalam satu malam.
Ada perdebatan, ketegangan, keberanian, dan keputusan besar yang terjadi beberapa langkah sebelum teks Proklamasi akhirnya dibacakan.
Dan di sebuah rumah sederhana di Rengasdengklok, jejak dari detik-detik penting itu masih dapat dikenang hingga hari ini. (siti putri lestari)
Editor : Kabun Triyatno