Bagaimana Orang Indonesia Merayakan Kemerdekaan Sebelum Ada Lomba 17 Agustus?

Kabun Triyatno • Dipublikasikan Sabtu, 15 Agustus 2026 | 12:33 WIB
Dulu, perayaan kemerdekaan belum seramai lomba 17 Agustus seperti sekarang. (Pinterest)
Dulu, perayaan kemerdekaan belum seramai lomba 17 Agustus seperti sekarang. (Pinterest)

SOLOBALAPAN.COM - Setiap bulan Agustus, perayaan kemerdekaan di Indonesia hampir selalu identik dengan lomba. Balap karung, makan kerupuk, tarik tambang, panjat pinang, hingga berbagai permainan lainnya meramaikan kampung-kampung.

Namun, tradisi seperti yang kita kenal sekarang tidak langsung muncul begitu Indonesia memproklamasikan kemerdekaannya pada 17 Agustus 1945.

Baca Juga: Kisah Para Kurir Rahasia pada Masa Revolusi Kemerdekaan

Pada masa-masa awal kemerdekaan, masyarakat masih berada dalam situasi yang jauh berbeda. Indonesia baru saja berdiri sebagai negara dan harus menghadapi perjuangan mempertahankan kemerdekaan.

Lantas, seperti apa masyarakat merayakan kemerdekaan pada masa awal tersebut?

Pada tahun-tahun pertama setelah Proklamasi, suasana perayaan kemerdekaan tidak selalu bisa dilakukan dengan meriah. Indonesia masih menghadapi konflik bersenjata dan kondisi keamanan yang belum stabil.

Karena itu, peringatan kemerdekaan lebih banyak berkaitan dengan upacara, pengibaran bendera, pertemuan rakyat, pidato, dan kegiatan yang membangkitkan semangat kebangsaan.

Bendera Merah Putih menjadi salah satu simbol utama dalam perayaan. Pengibaran bendera bukan sekadar hiasan seperti yang banyak kita lihat sekarang, tetapi menjadi simbol keberadaan Republik Indonesia yang sedang mempertahankan kemerdekaannya.

Baca Juga: Perjalanan Seorang Anak dalam Dunia Gelap London. Novel Oliver Twist Karya Charles Dickens

Masyarakat juga memperingati kemerdekaan melalui berbagai kegiatan yang bersifat kebangsaan. Pidato dan pertemuan masyarakat digunakan untuk mengingat kembali perjuangan yang telah dilakukan sekaligus membangkitkan semangat untuk mempertahankan Republik.

Pada masa Revolusi Kemerdekaan 1945–1949, keadaan bahkan membuat perayaan tidak selalu dapat dilakukan secara bebas. Ancaman konflik dan operasi militer Belanda membuat sebagian masyarakat harus lebih berhati-hati dalam menjalankan aktivitas.

Setelah kondisi negara mulai lebih stabil, bentuk perayaan kemerdekaan perlahan berkembang. Peringatan 17 Agustus tidak hanya dilakukan melalui kegiatan resmi pemerintah, tetapi juga mulai menjadi kegiatan masyarakat di lingkungan masing-masing.

Dari sinilah berbagai bentuk hiburan dan kegiatan bersama masyarakat semakin mendapat tempat.

Perlombaan menjadi salah satu cara yang menarik untuk membuat perayaan kemerdekaan lebih meriah. Permainan yang sebelumnya sudah dikenal masyarakat kemudian dapat digunakan sebagai bagian dari kegiatan perayaan.

Panjat pinang, misalnya, memiliki sejarah yang lebih panjang daripada perayaan kemerdekaan Indonesia. Permainan tersebut sudah dikenal pada masa kolonial Belanda dan kemudian mengalami perubahan makna dalam masyarakat Indonesia setelah kemerdekaan.

Baca Juga: Ledre Laweyan, Camilan Legendaris Solo Sejak 1984 yang Tetap Eksis di Tengah Tren Modern

Begitu pula dengan berbagai permainan tradisional yang kemudian dimasukkan ke dalam acara 17 Agustus. Bentuknya sederhana, tidak membutuhkan biaya besar, dan bisa diikuti oleh banyak orang.

Seiring berjalannya waktu, perayaan kemerdekaan akhirnya menjadi semakin dekat dengan kehidupan masyarakat sehari-hari.

Jika pada masa awal kemerdekaan peringatan 17 Agustus banyak memiliki nuansa perjuangan dan kebangsaan, kini suasananya juga dipenuhi hiburan dan kegiatan sosial. Warga menghias kampung, memasang bendera, mengadakan lomba, menggelar pentas seni, hingga makan bersama.

Perubahan tersebut bukan berarti semangat perjuangannya hilang. Justru kegiatan-kegiatan tersebut menjadi cara masyarakat masa kini untuk memperingati kemerdekaan sesuai dengan keadaan zaman.

Bayangkan saja jika kita kembali ke tahun 1945. Belum ada grup WhatsApp untuk mengumumkan jadwal lomba, belum ada sound system besar di lapangan, dan belum ada panitia yang sibuk membuat daftar peserta balap karung.

Yang ada adalah sebuah negara baru yang sedang berusaha mempertahankan kemerdekaannya.

Karena itu, perayaan kemerdekaan pada masa awal Republik memiliki suasana yang jauh berbeda dengan Agustus yang kita kenal sekarang.

Baca Juga: Kampung Batik Kauman akan Dilakukan Penataan untuk Wisata, Gibran Gelontorkan Rp 4 Miliar

Dari waktu ke waktu, peringatan 17 Agustus kemudian berkembang menjadi tradisi yang akrab dengan masyarakat. Upacara tetap dilakukan sebagai bentuk penghormatan terhadap kemerdekaan, sementara berbagai kegiatan hiburan membuat perayaan terasa lebih dekat dengan kehidupan warga.

Jadi, sebelum lomba 17 Agustus menjadi bagian yang begitu identik dengan bulan Agustus, masyarakat terlebih dahulu memperingati kemerdekaan melalui simbol-simbol kebangsaan, upacara, pengibaran bendera, pertemuan rakyat, pidato, dan berbagai kegiatan yang menumbuhkan semangat persatuan.

Lomba-lomba yang kita kenal sekarang hanyalah salah satu bentuk perkembangan tradisi tersebut.

Dari upacara yang khidmat hingga bapak-bapak yang rela jatuh saat balap karung, cara masyarakat merayakan kemerdekaan memang berubah. Semangat untuk memperingatinya tetap sama, hanya bentuknya yang semakin beragam. (Luthfiana Sekar)

Editor : Kabun Triyatno
Sumber : Berbagai Sumber
luthfiana sekar lomba 17 agustus kemerdekaan upacara