Dari Mana Para Pejuang Mendapatkan Senjata setelah Proklamasi? Ini Jawabannya

Kabun Triyatno • Dipublikasikan Jumat, 14 Agustus 2026 | 07:45 WIB
Senjata menjadi salah satu modal penting para pejuang dalam mempertahankan kemerdekaan Indonesia. (Pinterest)
Senjata menjadi salah satu modal penting para pejuang dalam mempertahankan kemerdekaan Indonesia. (Pinterest)

SOLOBALAPAN.COM - Ketika Indonesia memproklamasikan kemerdekaan pada 17 Agustus 1945, Republik Indonesia belum memiliki tentara nasional dengan persenjataan yang lengkap.

Badan Keamanan Rakyat (BKR), yang kemudian berkembang menjadi Tentara Keamanan Rakyat (TKR), menjadi salah satu kekuatan yang menjaga keamanan Republik. Namun, pada awal pembentukannya, tidak semua anggota memiliki senjata api.

Sebagian anggota BKR merupakan bekas anggota PETA dan Heiho, sehingga sudah memiliki pengalaman militer. Meski demikian, persenjataan yang mereka miliki masih sangat terbatas.

Baca Juga: Jejak Surat Kabar Solo pada Masa Awal Kemerdekaan

Museum Benteng Vredeburg Yogyakarta mencatat bahwa pada awalnya banyak anggota BKR bahkan hanya membawa senjata tajam. Jumlah senjata kemudian bertambah setelah terjadi berbagai aksi pelucutan senjata pasukan Jepang. 

Lalu, dari mana sebenarnya senjata itu diperoleh?

Salah satu sumber utama adalah senjata milik tentara Jepang yang dilucuti setelah Jepang menyerah kepada Sekutu. Kekalahan Jepang pada Agustus 1945 membuat situasi berubah.

Jepang diperintahkan mempertahankan status quo sambil menunggu kedatangan Sekutu, sedangkan para pemuda Indonesia melihat keadaan tersebut sebagai kesempatan untuk mengambil alih persenjataan.

Baca Juga: Book's Kitchen, Ketika Buku dan Masakan Hangat Menjadi Ruang untuk Pulang

Di berbagai daerah, pemuda, BKR, polisi, dan kelompok perjuangan mendatangi markas atau pos Jepang untuk meminta penyerahan senjata.

Tidak semuanya berlangsung dengan cara yang sama. Ada yang dilakukan melalui perundingan, tetapi ada pula yang berakhir dengan pertempuran.

Salah satu contohnya terjadi di Kotabaru, Yogyakarta, pada 7 Oktober 1945. Sebelum pertempuran, pihak Indonesia telah melakukan perundingan dengan pasukan Jepang untuk meminta penyerahan senjata.

Ketika perundingan gagal, rakyat dan pemuda bersama BKR serta Polisi mengepung markas Jepang. Setelah pertempuran berakhir, pasukan Jepang menyerah dan senjata serta amunisinya berhasil dikuasai pihak Republik. 

Tidak semua penyerahan senjata harus dilakukan melalui pertempuran. Di Yogyakarta, misalnya, setelah peristiwa Kotabaru, dilakukan pula perundingan dengan pasukan Jepang di Maguwo.

Hasilnya, sekitar 15 truk senjata api dengan berat sekitar 25 ton serta ratusan peti granat diserahkan kepada pemerintah Republik Indonesia. 

Baca Juga: Kenapa Wisata Labuan Bajo Ditutup? Ini Alasan KSOP dan Penyebab Kehadiran Jessica Mila Tuai Sorotan

Ada pula senjata yang diperoleh dari kesatuan-kesatuan bersenjata yang sebelumnya telah memiliki akses terhadap persenjataan Jepang. Di Surabaya, misalnya, sejumlah badan perjuangan memperoleh senjata dari markas-markas tentara Jepang.

Namun, kondisi persenjataan mereka tidak selalu ideal. Sebagian senjata bahkan memiliki jenis peluru yang tidak sesuai dengan senjata yang tersedia sehingga tidak semuanya dapat digunakan. 

Pengambilalihan senjata juga terjadi secara spontan di sejumlah daerah. Di Bogor, misalnya, para pemuda dan kelompok perjuangan melakukan aksi terhadap berbagai posisi Jepang.

Peristiwa tersebut menghasilkan sejumlah senjata dan perlengkapan yang kemudian digunakan untuk mendukung perjuangan. 

Selain melalui pengambilalihan, terdapat pula penyerahan senjata secara resmi. Arsip Nasional Republik Indonesia menyimpan dokumentasi mengenai upacara penyerahan senjata dari tentara Jepang kepada Tentara Republik Indonesia di Malang pada 28 April 1946.

Dalam dokumentasi tersebut, Jenderal Soedirman dan Oerip Soemohardjo tercatat menerima penyerahan senjata dari perwira Jepang. 

Namun, persenjataan yang diperoleh para pejuang tidak otomatis membuat pasukan Republik menjadi kekuatan militer yang modern. Jumlah senjata tetap terbatas, sementara kebutuhan pasukan terus bertambah.

 

Kondisi ini menjadi salah satu alasan mengapa perjuangan pada masa Revolusi Kemerdekaan tidak hanya mengandalkan pertempuran terbuka.

Para pejuang juga memanfaatkan berbagai senjata sederhana yang tersedia. Dalam sejumlah peristiwa awal revolusi, masyarakat bahkan datang membawa golok, tombak, keris, bambu runcing, dan senjata api yang sudah mereka miliki.

Catatan mengenai Pertempuran Kotabaru menunjukkan beragam jenis senjata tersebut digunakan oleh rakyat dan pemuda dalam pengepungan markas Jepang. 

Keadaan itu memperlihatkan betapa terbatasnya persenjataan Republik pada awal kemerdekaan. Para pejuang tidak langsung memiliki gudang senjata besar seperti sebuah negara dengan angkatan perang yang mapan.

Mereka harus mengumpulkan persenjataan sedikit demi sedikit, memanfaatkan perlengkapan yang tersedia, serta mengambil alih persenjataan dari pihak yang sebelumnya menguasainya.

Baca Juga: Kereta Tanpa Solar dan Kabel Listrik, China Mulai Gunakan Hidrogen

Senjata-senjata tersebut kemudian menjadi modal penting bagi pembentukan kekuatan bersenjata Republik. Dari BKR, pemerintah kemudian membentuk Tentara Keamanan Rakyat (TKR) pada 5 Oktober 1945.

Perkembangan selanjutnya membawa organisasi tersebut menjadi bagian dari pembentukan tentara nasional Indonesia. 

Jadi, ketika melihat foto-foto pejuang Indonesia pada masa Revolusi Kemerdekaan yang membawa senapan, senjata tersebut tidak selalu berasal dari satu sumber.

Ada yang merupakan persenjataan Jepang yang berhasil dilucuti, ada yang berasal dari kesatuan bersenjata yang sudah ada, ada yang diperoleh melalui penyerahan, dan ada pula yang direbut dalam pertempuran.

Di tengah keterbatasan itulah para pejuang membangun kekuatan bersenjata Republik—dari senjata peninggalan perang hingga senjata sederhana yang dimiliki rakyat. (luthfiana sekar)

Editor : Kabun Triyatno
Sumber : Berbagai Sumber
luthfiana sekar bambu runcing senjata kemerdekaan sekutu