Jejak Surat Kabar Solo pada Masa Awal Kemerdekaan

Kabun Triyatno • Dipublikasikan Kamis, 13 Agustus 2026 | 16:20 WIB

Pers Solo turut menjadi bagian dari perjalanan informasi dan perjuangan pada masa awal kemerdekaan. (Pinterest)
Pers Solo turut menjadi bagian dari perjalanan informasi dan perjuangan pada masa awal kemerdekaan. (Pinterest)

SOLOBALAPAN.COM - Setelah Indonesia memproklamasikan kemerdekaan pada 17 Agustus 1945, kehidupan masyarakat perlahan berubah. Salah satu perubahan yang ikut terasa adalah kembali bergeraknya dunia pers.

Di Solo, surat kabar memiliki sejarah yang cukup panjang. Sebelum Perang Dunia II, kota ini sudah memiliki sejumlah media, salah satunya Adil yang terbit sejak 1 Oktober 1932. Namun, ketika Jepang menguasai Indonesia, kebebasan pers semakin terbatas. Bahkan, penelitian mengenai sejarah pers Solo mencatat bahwa pada periode 1942 hingga sebelum Proklamasi 1945, tidak ada surat kabar yang terbit di Solo.

Baca Juga: Kisah Para Kurir Rahasia pada Masa Revolusi Kemerdekaan

Kondisi tersebut berubah setelah Indonesia merdeka.

Para wartawan dan masyarakat kembali memiliki ruang untuk menyampaikan informasi. Pers kemudian menjadi salah satu sarana penting untuk memberitakan perkembangan Republik sekaligus menyebarkan semangat kemerdekaan.

Pada masa awal kemerdekaan, surat kabar tidak hanya berfungsi sebagai media untuk menyampaikan berita. Koran juga menjadi sarana komunikasi politik dan perjuangan. Berbagai pemberitaan mengenai keadaan Republik, perkembangan politik, hingga situasi perang menjadi informasi penting bagi masyarakat.

Secara nasional, perkembangan pers berlangsung sangat cepat setelah Proklamasi. Sejumlah wartawan yang sebelumnya bekerja di media bentukan Jepang mengambil alih percetakan dan surat kabar untuk kemudian digunakan menyebarkan berita mengenai kemerdekaan. . 

Baca Juga: Fuxing Sleeper Train, Kereta Cepat China yang Bikin Penumpang Bisa Tidur Nyaman

Di Solo, geliat pers juga mulai terlihat. Salah satu kisah yang menarik berkaitan dengan Harian Merdeka. Setelah situasi di Jakarta semakin sulit akibat tekanan NICA, jaringan penerbitan Merdeka kemudian berusaha mencari percetakan di daerah, termasuk Solo. Sumber sejarah tentang perkembangan Harian Suara Merdeka mencatat bahwa wartawan Subrata yang bertugas di Solo mencari percetakan, hingga akhirnya Harian Merdeka dapat terbit di Solo dengan bantuan karyawan dari Jakarta

Hal tersebut menunjukkan bahwa Solo bukan hanya menjadi tempat berlangsungnya berbagai peristiwa politik pada masa revolusi, tetapi juga menjadi salah satu ruang penting bagi aktivitas pers.

Baca Juga: Jejak Proklamasi Kemerdekaan di Kota Solo

Surat kabar pada masa itu memiliki tantangan yang jauh berbeda dengan media sekarang. Wartawan harus bekerja dalam situasi politik dan keamanan yang tidak stabil. Percetakan dapat menghadapi tekanan, sementara distribusi koran juga tidak mudah karena kondisi perang.

Meski demikian, pers tetap berusaha menjalankan tugasnya.

Koran menjadi salah satu cara masyarakat mengetahui apa yang sedang terjadi di wilayah lain. Berita mengenai perjuangan Republik dapat menyebar melalui lembaran-lembaran yang dibaca dari satu orang ke orang lain.

Peran pers juga semakin penting karena masyarakat membutuhkan informasi yang dapat menjadi pembanding terhadap propaganda pihak yang berseberangan dengan Republik. Dalam kondisi revolusi, informasi bukan sekadar kebutuhan masyarakat, tetapi juga dapat menjadi bagian dari perjuangan.

Solo sendiri memiliki posisi strategis dalam perjalanan Republik. Kota ini menjadi salah satu pusat aktivitas politik dan masyarakat di Jawa Tengah bagian selatan. Karena itu, perkembangan pers di Solo ikut berkaitan dengan dinamika politik dan sosial yang terjadi di wilayah tersebut.

Baca Juga: Berburu Kuliner Walang Goreng di Car Free Night Gemolong, Ada Tiga Varian Rasa

Pada akhirnya, sejarah surat kabar Solo pada masa awal kemerdekaan tidak hanya bercerita mengenai nama-nama koran. Lebih dari itu, sejarah tersebut memperlihatkan bagaimana pers berusaha hidup kembali setelah bertahun-tahun berada di bawah kontrol pendudukan.

Dari lembaran koran itulah masyarakat mendapatkan informasi, sementara para wartawan menggunakan tulisan sebagai salah satu cara untuk mempertahankan suara Republik.

Bagi Solo, kebangkitan pers setelah Proklamasi menjadi bagian dari perubahan besar yang terjadi setelah 17 Agustus 1945. Ketika senjata digunakan untuk mempertahankan kemerdekaan di medan perang, tulisan dan berita juga digunakan untuk mempertahankan semangat kemerdekaan di tengah masyarakat. (luthfiana sekar)

 

Editor : Kabun Triyatno
Sumber : Berbagai Sumber
luthfiana sekar surat kabar propaganda pers solo