Datang Terlambat, Sekelompok Pemuda Sempat Meminta Soekarno Mengulang Proklamasi

Kabun Triyatno • Dipublikasikan Rabu, 12 Agustus 2026 | 10:46 WIB
Ilustrasi Barisan plopor yag meminta pengulangan Proklamasi. (AI generated)
Ilustrasi Barisan pelopor yag meminta pengulangan Proklamasi. (AI generated)

SOLOBALAPAN.COM - Pembacaan Proklamasi Kemerdekaan Indonesia pada 17 Agustus 1945 hanya berlangsung sekali. Namun, tidak semua orang yang ingin menyaksikan momen bersejarah tersebut berhasil datang tepat waktu.

Setelah pembacaan Proklamasi selesai di kediaman Soekarno, Jalan Pegangsaan Timur 56, Jakarta, sekitar 100 orang Barisan Pelopor memasuki halaman rumah tersebut. Mereka datang di bawah pimpinan S. Brata, tetapi sayangnya terlambat sehingga tidak sempat menyaksikan langsung pembacaan Proklamasi.

Kisah tersebut dicatat dalam artikel resmi Kementerian Sekretariat Negara RI mengenai detik-detik Proklamasi. Dalam tulisan tersebut, Kemensetneg mengutip buku Pemuda Indonesia dalam Dimensi Sejarah Perjuangan Bangsa karya Lasmidjah Hardi yang terbit pada 1984.

Baca Juga: Bukan Hanya Jakarta, Solo Juga Punya Jejak Panjang Perjuangan Mempertahankan Kemerdekaan

Karena tidak sempat menyaksikan pembacaan Proklamasi, S. Brata kemudian meminta agar Soekarno membacakannya sekali lagi.

Permintaan tersebut tentu tidak dapat dipenuhi. Soekarno kemudian keluar dan menjelaskan kepada mereka bahwa Proklamasi hanya diucapkan satu kali dan berlaku untuk selama-lamanya.

Setelah mendapat penjelasan tersebut, S. Brata masih meminta Soekarno memberikan amanat singkat. Kali ini, permintaan tersebut dipenuhi.

Peristiwa kecil ini mungkin terdengar sederhana jika dibandingkan dengan rangkaian peristiwa besar yang mengiringi Proklamasi. Namun, kisah tersebut memberikan gambaran bahwa pada pagi 17 Agustus 1945, informasi mengenai pembacaan Proklamasi belum tentu dapat diterima semua orang secara bersamaan.

Baca Juga: Kenapa Tumpeng Selalu Ada di Perayaan Kemerdekaan? Ini Makna dan Filosofi di Baliknya

Tidak ada siaran langsung, media sosial, atau teknologi komunikasi seperti sekarang yang memungkinkan masyarakat mengetahui sebuah peristiwa dalam hitungan detik.

Mereka yang ingin menyaksikan Proklamasi harus datang langsung ke tempat yang telah ditentukan. Karena itu, sekelompok Barisan Pelopor yang tiba setelah upacara selesai harus menerima kenyataan bahwa mereka telah melewatkan pembacaan yang hanya dilakukan satu kali.

Menariknya, Soekarno tidak mengulang pembacaan tersebut. Penjelasannya justru menegaskan makna Proklamasi itu sendiri: sekali diucapkan, kemerdekaan Indonesia dinyatakan berlaku untuk selama-lamanya.

Kisah Barisan Pelopor yang datang terlambat ini memang bukan bagian paling besar dari sejarah Proklamasi. Namun, justru karena berada di balik rangkaian peristiwa utama, cerita tersebut menjadi salah satu detail menarik yang mungkin belum banyak diketahui.

Hari ini, pembacaan Proklamasi dapat kita lihat kembali melalui berbagai dokumentasi sejarah. Namun pada 17 Agustus 1945, kesempatan menyaksikannya secara langsung hanya datang sekali.

Dan bagi sekitar 100 anggota Barisan Pelopor yang datang terlambat pagi itu, mereka benar-benar harus menerima kenyataan tersebut: Proklamasi sudah dibacakan, dan tidak akan diulang. (rastri rafiarum)

 

Editor : Kabun Triyatno
Proklamasi Rastri Rafiarum 17 agustus kemerdekaan soekarno