Sepur Kluthuk Sondokoro, Jejak Lori Tebu Di Eks Pabrik Gula Tasikmadu

Luthfiana Sekar • Dipublikasikan Kamis, 6 Agustus 2026 | 08:59 WIB
Kereta wisata Sondokoro mengajak pengunjung menyusuri jalur lori tebu yang menjadi bagian dari sejarah Pabrik Gula Tasikmadu.
Kereta wisata Sondokoro mengajak pengunjung menyusuri jalur lori tebu yang menjadi bagian dari sejarah Pabrik Gula Tasikmadu.

SOLOBALAPAN.COM - Di Kabupaten Karanganyar, Jawa Tengah, terdapat sebuah destinasi wisata yang memadukan sejarah industri gula dengan dunia perkeretaapian, yaitu Agrowisata Sondokoro. 

Berada di kawasan eks Pabrik Gula (PG) Tasikmadu, Karanganyar, tempat ini menawarkan pengalaman unik menaiki kereta lori yang dahulu digunakan untuk mendukung operasional pabrik gula. 

Wisata ini tidak hanya menjadi sarana rekreasi, tetapi juga media edukasi mengenai perkembangan industri gula dan transportasi rel di Indonesia.

Dikutip dari Pariwisata Provinsi Jawa Tengah, Agrowisata Sondokoro merupakan kawasan wisata yang berlatar belakang PG Tasikmadu, salah satu pabrik gula bersejarah di Indonesia.

Salah satu wahana utamanya adalah kereta uap wisata yang mengajak pengunjung berkeliling kawasan pabrik dan lingkungan sekitarnya.

PG Tasikmadu didirikan pada 11 Juni 1871 oleh KGPAA Mangkunegara IV, sepuluh tahun setelah berdirinya PG Colomadu di Karanganyar. 

Kedua pabrik tersebut menjadi kebanggaan Mangkunegaran karena merupakan pabrik gula besar yang didirikan oleh penguasa pribumi pada masa itu. 

Baca Juga: Sejarah Kereta Api Bandara di Indonesia

Hingga kini, PG Tasikmadu masih beroperasi sebagai pabrik gula sekaligus menjadi kawasan wisata sejarah.

Daya tarik utama Sondokoro adalah Spoor Teboe, yaitu perjalanan menggunakan kereta lori di atas rel sempit (narrow gauge). 

Pada masa lalu, lori ini digunakan untuk mengangkut tebu dari kebun menuju pabrik untuk digiling menjadi gula.

Kini, jalur tersebut dimanfaatkan sebagai wahana wisata sehingga pengunjung dapat merasakan pengalaman menaiki kereta yang dahulu menjadi bagian penting dari proses produksi gula.

Selain kereta lori, kawasan Sondokoro juga memiliki koleksi lokomotif tua, mesin-mesin pabrik gula, serta berbagai fasilitas edukasi yang menjelaskan proses pembuatan gula dari tebu hingga menjadi produk siap konsumsi. 

Pengunjung juga dapat melihat suasana pabrik, terutama saat musim giling, ketika aktivitas pengolahan tebu berlangsung.

Bagi pecinta kereta api atau railfans, Sondokoro memiliki nilai tersendiri karena masih mempertahankan lokomotif lori dan jalur rel sempit yang kini semakin jarang dijumpai di Indonesia. 

Baca Juga: Saksi Bisu Semarang–Vorstenlanden: Stasiun Telawa Juwangi, Benteng Kereta Api Terakhir di Boyolali

Kehadiran kereta wisata tersebut menjadi salah satu upaya melestarikan warisan industri sekaligus memperkenalkan sejarah transportasi rel kepada generasi muda.

Seiring berkembangnya sektor pariwisata, Agrowisata Sondokoro terus berbenah. Bahkan sejak 1 Januari 2026, pengelola melakukan rebranding menjadi De' Tasikmadoe Heritage sebagai upaya memperkuat identitas wisata berbasis sejarah tanpa menghilangkan wahana ikonik seperti kereta wisata dan suasana khas Pabrik Gula Tasikmadu.

Melalui wisata ini, masyarakat tidak hanya diajak menikmati perjalanan singkat dengan kereta lori, tetapi juga memahami bagaimana jalur rel pernah menjadi bagian penting dalam perkembangan industri gula di Indonesia. 

Keberadaan Sondokoro menjadi bukti bahwa warisan perkeretaapian dapat terus hidup melalui pelestarian sejarah dan wisata edukatif. (luthfiana sekar)

Editor : Ferry Ardi Susanto
Sumber : solobalapan, Berbagai Sumber
Agrowisata Sondokoro Pabrik Gula Tasikmadu karanganyar