SOLOBALAPAN.COM - Di balik ramainya aktivitas jual beli yang berlangsung setiap hari, Pasar Harjodaksino Solo menyimpan sejarah panjang yang tak banyak diketahui masyarakat.
Pasar yang berdiri sejak 1987 di Kecamatan Serengan, Kota Solo ini, merupakan salah satu yang terbesar. Luasnya mencapai 7.700 meter persegi.
Bagi sebagian warga, pasar ini lebih akrab disebut Pasar Gemblegan.
Nama yang telah melekat jauh sebelum bangunan pasar berdiri.
Baca Juga: Jejak Aset Bank Harapan Sentosa Masih Tersebar di Solo
Nama tersebut menjadi penanda, bahwa sebuah tempat tidak hanya dibentuk oleh aktivitas ekonomi, tetapi juga sejarah dan budaya masyarakat yang hidup di sekitarnya.
Nama Gemblegan berakar dari istilah gemblak atau tukang gemblak.
Sebutan bagi para abdi dalem Keraton Kasunanan Surakarta Hadiningrat yang memiliki keahlian membuat bokor atau wadah berbahan kuningan.
Pada masa lalu, kawasan ini dikenal sebagai tempat tinggal dan bekerja para perajin logam yang mengabdikan keahliannya untuk memenuhi kebutuhan keraton.
Baca Juga: Mengapa Disebut Sekarpace? Sejarah Nama Simpang Ikonik di Jebres Solo
Dari profesi itulah masyarakat kemudian menyebut wilayah tersebut sebagai Gemblegan, yang lambat laun berkembang menjadi identitas kampung sekaligus kawasan perdagangan.
"Cerita orang tua saya, nama Gemblegan itu dari para tukang gemblak. Mereka perajin kuningan yang kerja untuk keraton. Karena jumlahnya banyak dan menetap di sini, akhirnya disebut Gemblegan," jelas tokoh masyarakat Gemblegan Suyono.
Menariknya, terdapat kisah lain yang turut mewarnai perjalanan nama Gemblegan.
Dalam sejumlah catatan sejarah lama, disebutkan kawasan di sana pernah dikenal sebagai sentra judi capjiki.
Judi ini dibawa etni Tionghoa di masa lampau.
Aktivitas perjudian yang semakin ramai, membuat wilayah tersebut dikenal sebagai salah satu pusat bandar judi di Solo.
Seiring perubahan zaman dan perkembangan tata kota, citra kawasan Gemblegan perlahan bergeser.
Baca Juga: Jejak Sejarah Kampung Kemlayan Solo: "Sarangnya" Para Maestro Seni Dan Budaya
Aktivitas perdagangan rakyat semakin mendominasi, sehingga identitas kawasan pun berubah menjadi sentra ekonomi masyarakat.
"Kalau melihat sejarahnya, memang ada cerita judi capjiki di Gemblegan. Tapi itu bagian dari perjalanan sejarah kampung," beber tokoh masyarakat Gemblegan lainnya Wahyudi.
"Sekarang Gemblegan dikenal sebagai pasar tradisional, tempat mencari nafkah ribuan orang. Nama Harjodaksino dipakai sejak pasar dibangun, tetapi nama Gemblegan tetap hidup karena menyimpan sejarah panjang kampung ini," imbuhnya.
Perubahan besar terjadi ketika pemerintah membangun pasar permanen pada tahun 1987. Pasar tersebut kemudian diberi nama Pasar Harjodaksino.
Nama ini mengandung makna filosofis dari bahasa Jawa, yakni harapan agar kawasan tersebut menjadi tempat yang membawa kemakmuran (harjo), serta kesejahteraan bagi masyarakat yang menggantungkan hidupnya dari aktivitas perdagangan.
Meski namanya berubah, wong Solo tetap akrab menyebutnya sebagai Pasar Gemblegan. Sebab nilai historisnya telah diwariskan turun-temurun.
Baca Juga: Cinta di Era Swipe: Saat Hubungan Romantis Mulai Terasa Seperti Belanja Online
Kini, Pasar Harjodaksino menjadi salah satu pusat perdagangan yang penting di Kota Solo.
Beragam kebutuhan pokok, pakaian, peralatan rumah tangga, hingga berbagai komoditas lainnya dapat ditemukan di pasar ini.
Letaknya yang strategis di kawasan Serengan membuat pasar selalu ramai dikunjungi pembeli dari berbagai wilayah.
Di tengah berkembangnya pusat perbelanjaan modern, Pasar Harjodaksino tetap mempertahankan ciri khasnya sebagai ruang interaksi sosial yang menghadirkan kedekatan antara pedagang dan pembeli.
Lebih dari sekadar tempat transaksi ekonomi, Pasar Harjodaksino merupakan ruang yang merekam perjalanan sejarah Kota Solo.
Nama Gemblegan mengingatkan masyarakat pada keberadaan para pengrajin kuningan yang pernah berjasa bagi keraton, sekaligus pengingat bahwa sebuah kawasan dapat mengalami perubahan fungsi dan citra seiring perkembangan zaman.
Dari kampung perajin bokor, hingga pasar tradisional. Kawasan ini menunjukkan bagaimana sejarah mampu bertahan melalui sebuah nama.
Di tengah arus modernisasi, keberadaan Pasar Harjodaksino juga menjadi simbol ketahanan pasar tradisional.
Aktivitas tawar-menawar, sapaan hangat antarpedagang, hingga hubungan kekeluargaan yang terjalin selama puluhan tahun menjadi nilai yang tidak tergantikan.
Pasar ini bukan hanya menjadi tempat mencari nafkah, tetapi juga ruang bertemunya berbagai lapisan masyarakat yang menjaga denyut kehidupan ekonomi lokal tetap bergerak.
Baca Juga: Catcalling Sering Dianggap Candaan, Butuh Edukasi Masif Untuk Perlindungan Hak Perempuan
Oleh karena itu, sejarah Pasar Harjodaksino tidak hanya penting untuk dikenang, tetapi juga layak diwariskan kepada generasi berikutnya.
Nama Gemblegan bukan sekadar penanda lokasi, melainkan cermin perjalanan budaya, ekonomi, dan kehidupan masyarakat Solo.
Di balik setiap lorong pasar, tersimpan kisah tentang kerja keras para pedagang, perubahan zaman, serta semangat masyarakat yang terus menjaga keberadaan pasar tradisional sebagai bagian dari identitas kota.
Hingga kini, Pasar Harjodaksino tetap berdiri kokoh sebagai saksi perubahan Solo dari masa ke masa.
Di tengah hiruk-pikuk aktivitas perdagangan setiap hari, nama Gemblegan terus hidup dalam ingatan masyarakat.
Sejarah yang melekat pada nama tersebut menjadi bukti bahwa sebuah pasar bukan hanya tempat bertemunya penjual dan pembeli, melainkan ruang yang menyimpan jejak budaya, warisan sejarah, dan identitas sebuah kota. (siti putri)
Editor : Ferry Ardi Susanto