SOLOBALAPAN.COM - Kereta api menjadi salah satu penemuan yang mengubah dunia. Kehadirannya mempercepat mobilitas manusia dan distribusi barang, sekaligus menjadi pendorong Revolusi Industri.
Namun, siapa sebenarnya penemu kereta api uap? Pertanyaan ini sering dijawab dengan nama George Stephenson, padahal sejarah perkembangan lokomotif uap melibatkan beberapa tokoh penting.
Baca Juga: Peran Kereta Api pada Masa Kemerdekaan Indonesia
Dikutip dari berbagai catatan sejarah perkeretaapian, Richard Trevithick merupakan orang pertama yang berhasil membuat lokomotif uap yang dapat berjalan di atas rel.
Pada tahun 1804, insinyur asal Inggris tersebut menguji lokomotif buatannya di Penydarren Ironworks, Wales.
Lokomotif itu berhasil menarik gerbong berisi besi dan penumpang, sehingga menjadi tonggak awal penggunaan tenaga uap pada transportasi rel.
Baca Juga: Sejarah Kereta Api Pengangkut Garam, Ketika Rel Menjadi Jalur Distribusi "Emas Putih"
Meski berhasil, lokomotif buatan Trevithick belum digunakan secara luas. Bobotnya yang berat membuat rel besi cor saat itu sering mengalami kerusakan.
Selain itu, teknologi lokomotif masih terus berkembang sehingga penggunaannya belum dianggap praktis untuk angkutan umum.
Nama George Stephenson kemudian muncul sebagai sosok yang menyempurnakan teknologi tersebut.
Lahir di Wylam, Inggris, pada tahun 1781, Stephenson bekerja di pertambangan batu bara dan memiliki pengalaman memperbaiki mesin uap.
Berbekal pengalaman tersebut, ia membangun lokomotif pertamanya yang diberi nama Blücher pada tahun 1814 untuk mengangkut batu bara di Killingworth Colliery.
Peran terbesar Stephenson bukan hanya menciptakan lokomotif, tetapi juga mengembangkan sistem perkeretaapian yang lebih andal.
Pada tahun 1825, lokomotif Locomotion No. 1 yang dirancangnya menarik rangkaian kereta di jalur Stockton and Darlington Railway, jalur kereta api umum pertama di dunia yang menggunakan lokomotif uap untuk mengangkut barang dan penumpang.
Baca Juga: Bagaimana Kereta Diputar di Depo? Ini Cara Lokomotif Berbalik Arah
Peristiwa ini menjadi salah satu tonggak penting dalam sejarah transportasi modern.
Empat tahun kemudian, George Stephenson bersama putranya, Robert Stephenson, mengembangkan lokomotif Rocket yang mengikuti Rainhill Trials pada tahun 1829.
Rocket tampil unggul berkat desain yang lebih efisien, seperti penggunaan ketel multitabung (multi-tubular boiler) dan sistem pembuangan uap (blast pipe).
Teknologi tersebut kemudian menjadi acuan dalam pembuatan lokomotif uap selama puluhan tahun.
Atas kontribusinya tersebut, George Stephenson dikenal sebagai "Father of Railways" atau Bapak Perkeretaapian.
Ia juga memperkenalkan lebar rel 1.435 milimeter (4 kaki 8½ inci) yang kini dikenal sebagai standard gauge dan masih digunakan di sebagian besar jaringan kereta api dunia.
Dengan demikian, jika ditanya siapa penemu kereta api uap, jawabannya bergantung pada konteksnya.
Richard Trevithick diakui sebagai pembuat lokomotif uap pertama yang berhasil beroperasi di atas rel, sedangkan George Stephenson merupakan tokoh yang menyempurnakan teknologi tersebut hingga dapat digunakan secara luas dan menjadi dasar perkembangan perkeretaapian modern.
Perjalanan panjang inovasi kedua tokoh tersebut menunjukkan bahwa kemajuan teknologi sering kali lahir dari penyempurnaan berbagai penemuan sebelumnya.
Berkat kontribusi mereka, kereta api berkembang menjadi salah satu moda transportasi paling penting di dunia, termasuk di Indonesia.
Editor : Kabun TriyatnoSumber : Berbagai Sumber