Ponten Kestalan, Bangunan MCK Bersejarah Peninggalan Mangkunegara VII

Luthfiana Sekar • Dipublikasikan Sabtu, 1 Agustus 2026 | 11:31 WIB
Ponten Kestalan merupakan fasilitas MCK umum peninggalan Mangkunegara VII yang dibangun pada 1936 dan kini ditetapkan sebagai bangunan cagar budaya.
Ponten Kestalan merupakan fasilitas MCK umum peninggalan Mangkunegara VII yang dibangun pada 1936 dan kini ditetapkan sebagai bangunan cagar budaya.

SOLOBALAPAN.COM - Di tengah padatnya kawasan Banjarsari, Solo, berdiri sebuah bangunan cagar budaya yang sekilas tampak seperti petirtaan atau candi kecil.

Bangunan tersebut dikenal sebagai Ponten Kestalan atau Ponten Mangkunegaran, sebuah fasilitas mandi, cuci, dan kakus (MCK) umum yang dibangun pada masa pemerintahan KGPAA Mangkunegara VII.

Baca Juga: Bangsal Maligi Masjid Al Wustho, Tempat Khitan Anak-Anak Bangsawan Dan Abdi Dalem Era Mangkunegara VII

Meski usianya telah mendekati satu abad, keberadaan bangunan ini belum banyak diketahui masyarakat, padahal menyimpan kisah penting tentang perkembangan sanitasi modern di Kota Solo.

Ponten dibangun pada 1936 atas perintah Mangkunegara VII sebagai respons terhadap persoalan kesehatan masyarakat pada awal abad ke-20.

Saat itu, berbagai penyakit seperti pes, malaria, diare, dan disentri masih sering mewabah akibat buruknya sanitasi serta kebiasaan masyarakat yang mandi, mencuci, dan buang air di sungai.

Untuk mengatasi persoalan tersebut, Praja Mangkunegaran menghadirkan fasilitas MCK umum yang lebih higienis dan mudah diakses masyarakat.

Baca Juga: Kisah Ponten Ngebrusan Solo, Toilet Umum Mewah Peninggalan Belanda

Nama "ponten" berasal dari kata Belanda fontein, yang berarti air mancur. Sebutan tersebut muncul karena sistem pengairan di bangunan ini sudah menggunakan aliran air, berbeda dengan kebiasaan masyarakat saat itu yang masih menggunakan timba atau gayung.

Kehadiran Ponten menjadi simbol perubahan pola hidup masyarakat menuju budaya hidup bersih dan sehat.

Keunikan Ponten Kestalan tidak hanya terletak pada fungsinya, tetapi juga pada desain arsitekturnya.

Mangkunegara VII menunjuk arsitek Belanda ternama Thomas Karsten untuk merancang bangunan tersebut.

Karsten dikenal sebagai sosok yang banyak menghasilkan karya ikonik di Indonesia, termasuk sejumlah bangunan bersejarah di Surakarta.

Baca Juga: Tiga Makam Bersejarah di Solo Raya yang Jarang Diketahui, Salah Satu Milik Tokoh Penyebar Agama Islam

Pada Ponten, ia memadukan konsep sanitasi modern dengan unsur arsitektur tradisional Jawa sehingga menghasilkan bangunan yang tidak hanya fungsional, tetapi juga memiliki nilai estetika tinggi.

Salah satu ciri khas Ponten adalah desainnya yang tidak menggunakan atap. Konsep ini sengaja diterapkan agar sinar matahari dan sirkulasi udara dapat masuk secara maksimal sehingga kelembapan berkurang dan risiko berkembangnya bakteri maupun penyakit dapat ditekan.

Tata ruangnya dibuat menyerupai labirin sederhana, memberikan privasi bagi pengguna sekaligus tetap menjaga aliran udara di dalam bangunan.

Seiring meningkatnya kesejahteraan masyarakat setelah Indonesia merdeka, hampir setiap rumah mulai memiliki kamar mandi dan sumur sendiri.

Akibatnya, fungsi Ponten sebagai MCK umum perlahan ditinggalkan. Bangunan tersebut sempat mengalami masa terbengkalai sebelum akhirnya dipugar pada tahun 2007.

Berkat upaya pelestarian tersebut, Ponten kemudian ditetapkan sebagai Bangunan Cagar Budaya Kota Surakarta pada tahun 2013.

Kini, Ponten Kestalan menjadi salah satu peninggalan bersejarah yang mencerminkan visi modern Mangkunegara VII dalam meningkatkan kualitas hidup masyarakat.

Bangunan ini bukan sekadar toilet umum, melainkan bukti bahwa konsep sanitasi modern telah diperkenalkan di Surakarta sejak masa kolonial melalui perpaduan teknologi, arsitektur, dan kepedulian terhadap kesehatan publik.

Bagi pecinta sejarah dan arsitektur, Ponten Kestalan layak menjadi destinasi singkat saat berkunjung ke Solo.

Di balik bentuknya yang sederhana, bangunan ini menyimpan kisah tentang perubahan budaya hidup bersih, inovasi arsitektur, serta kepemimpinan Mangkunegara VII yang berpandangan jauh ke depan.

Editor : Kabun Triyatno
Sumber : solobalapan, Berbagai Sumber
ponten kestalan mangkunegaran tempo dulu kisah