Fakta Unik Sepur Kluthuk Jaladara, Masih Menggunakan Kayu Jati Tua sebagai Bahan Bakar

Luthfiana Sekar • Dipublikasikan Jumat, 31 Juli 2026 | 18:28 WIB
Sepur Kluthuk Jaladara masih menggunakan kayu jati tua sebagai bahan bakar untuk menghasilkan uap penggerak lokomotif.
Sepur Kluthuk Jaladara masih menggunakan kayu jati tua sebagai bahan bakar untuk menghasilkan uap penggerak lokomotif.

SOLOBALAPAN.COM - Di tengah perkembangan kereta api modern yang menggunakan tenaga diesel maupun listrik, Kota Surakarta masih memiliki kereta wisata yang mempertahankan teknologi lokomotif uap.

Kereta tersebut adalah Sepur Kluthuk Jaladara, kereta wisata yang melintasi rute Stasiun Purwosari hingga Stasiun Solo Kota (Sangkrah).

Salah satu keunikan yang membuatnya berbeda adalah penggunaan kayu jati tua sebagai bahan bakar lokomotif.

Dikutip dari PT Kereta Api Indonesia (Persero) dan Pemerintah Kota Surakarta, Sepur Kluthuk Jaladara dioperasikan menggunakan lokomotif uap C1218 buatan Hannoversche Maschinenbau AG (Hanomag), Jerman, yang diproduksi pada tahun 1896.

Baca Juga: Mengenal Juru Langsir KAI, Pekerjaan di Balik Aman dan Tepat Waktunya Kereta Api

Lokomotif ini menjadi salah satu lokomotif uap tertua yang masih dioperasikan untuk perjalanan wisata di Indonesia.

Berbeda dengan kereta api modern yang menggunakan bahan bakar solar atau listrik, lokomotif Sepur Kluthuk Jaladara masih mengandalkan kayu sebagai sumber energi untuk menghasilkan uap.

Menariknya, kayu yang digunakan bukan sembarang kayu, melainkan kayu jati tua yang telah dikeringkan.

Baca Juga: Dulu Jadi Urat Nadi Ekonomi Kolonial, Begini Sejarah Jalur Kereta Solo–Boyolali

Pemilihan kayu jati tua bukan tanpa alasan. Kayu jati memiliki kepadatan yang tinggi sehingga mampu menghasilkan panas yang stabil saat dibakar.

Selain itu, kadar air pada kayu jati tua relatif rendah sehingga proses pembakaran menjadi lebih sempurna, menghasilkan uap yang cukup untuk menggerakkan lokomotif tanpa menghasilkan asap berlebihan dibandingkan kayu yang masih muda atau basah.

Sebelum perjalanan dimulai, petugas akan memasukkan potongan kayu jati ke dalam ruang bakar (firebox).

Panas dari pembakaran tersebut digunakan untuk memanaskan air di dalam ketel hingga menghasilkan uap bertekanan tinggi. 

Uap kemudian dialirkan ke silinder untuk menggerakkan piston yang selanjutnya memutar roda lokomotif.

Proses inilah yang menjadi prinsip kerja lokomotif uap sejak pertama kali dikembangkan pada abad ke-19.

Baca Juga: Kereta BBM, Tulang Punggung Distribusi Bahan Bakar Lewat Jalur Rel

Selain menjadi sumber tenaga, aroma khas kayu yang terbakar serta suara "kluthuk-kluthuk" dari lokomotif uap menciptakan pengalaman perjalanan yang berbeda dibandingkan kereta modern.

Tidak heran jika banyak wisatawan dan pecinta kereta api sengaja datang ke Solo untuk merasakan sensasi menaiki kereta bersejarah tersebut.

Sepur Kluthuk Jaladara juga memiliki keunikan lain karena melintasi Jalan Slamet Riyadi, salah satu jalan utama di Kota Surakarta.

Pada lintasan ini, kereta berjalan berdampingan dengan lalu lintas kendaraan bermotor, sehingga menghadirkan pemandangan yang kini semakin langka di Indonesia.

Keberadaan Sepur Kluthuk Jaladara tidak hanya menjadi daya tarik wisata, tetapi juga menjadi upaya pelestarian warisan sejarah perkeretaapian Indonesia.

Penggunaan kayu jati tua sebagai bahan bakar menunjukkan bahwa teknologi lokomotif uap masih dapat diperkenalkan kepada masyarakat sebagai bagian dari edukasi sejarah sekaligus atraksi wisata.

Hingga kini, Sepur Kluthuk Jaladara tetap menjadi salah satu ikon wisata Kota Surakarta.

Perpaduan lokomotif uap berusia lebih dari satu abad, jalur rel di tengah kota, serta penggunaan kayu jati tua sebagai bahan bakar menjadikan kereta ini memiliki nilai sejarah sekaligus daya tarik yang sulit ditemukan di tempat lain.

Editor : Kabun Triyatno
Sumber : solobalapan, Berbagai Sumber
sepur kluthuk Jaladara purwosari solo