Jejak Sejarah Kampung Kemlayan Solo: "Sarangnya" Para Maestro Seni Dan Budaya

Siti Putri Lestari • Dipublikasikan Rabu, 29 Juli 2026 | 18:31 WIB
Kampung Kemlayan, Solo. (Siti putri/Radar solo)
Kampung Kemlayan, Solo. (Siti putri/Radar solo)

SOLOBALAPAN.COM – Kampung Kemlayan merupakan wilayah yang berada di Kelurahan Kemlayan, Kecamatan Serengan, Solo.

Kawasan ini termasuk salah satu wilayah strategis, karena letaknya berdekatan dengan pusat pemerintahan, kawasan perdagangan, serta berbagai destinasi budaya yang menjadi identitas Kota Bengawan.

Secara administratif, Kelurahan Kemlayan memiliki kode pos 57151.

Meski luas wilayahnya tidak begitu besar, Kemlayan memiliki kepadatan penduduk yang cukup tinggi.

Baca Juga: Stasiun yang Pernah Menjadi Bagian dari Kawasan Militer di Indonesia

Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS) di 2020, jumlah penduduk Kelurahan Kemlayan mencapai 3.782 jiwa.

Terdiri atas laki-laki dan perempuan yang tersebar di sejumlah rukun warga (RW) dan rukun tetangga (RT).

Sebagai kawasan yang telah berkembang sejak masa Keraton Kasunanan Surakarta Hadiningrat, Kemlayan tidak hanya dikenal sebagai wilayah permukiman, tetapi juga memiliki nilai sejarah dan budaya yang kuat.

Lokasinya yang berada tidak jauh dari Keraton Kasunanan menjadikan kawasan ini sejak dahulu dihuni oleh masyarakat yang memiliki keterkaitan erat dengan kehidupan keraton, khususnya para abdi dalem dan pelaku seni tradisional.

Baca Juga: Jadwal Persib Bandung di Piala Presiden 2026 Hari Ini: Tantang DPMM FC, Incar Poin Penuh Untuk Amankan Tiket Semifinal

Kampung Kemlayan merupakan sebuah kampung bersejarah di Kota Surakarta yang sejak ratusan tahun lalu dikenal sebagai pusat kehidupan para seniman Keraton Kasunanan Surakarta Hadiningrat.

Keberadaannya memiliki hubungan yang sangat erat dengan perkembangan seni tradisional Jawa, khususnya seni karawitan yang menjadi bagian penting dari kehidupan budaya keraton.

Sejak masa pemerintahan raja-raja Kasunanan, kawasan ini telah dihuni oleh para abdi dalem niyaga atau penabuh gamelan, pesinden, penari, hingga para empu pembuat perangkat gamelan yang mengabdikan keahlian mereka untuk mendukung berbagai upacara adat, ritual, dan pertunjukan seni di lingkungan istana.

Sejarawan Heri Priyatmoko dalam penelitiannya menjelaskan bahwa Kampung Kemlayan mulai terbentuk pada masa pemerintahan Sri Susuhunan Pakubuwana (PB) IV, sekitar akhir abad ke-18 hingga awal abad ke-19.

Pada masa itu, Keraton Kasunanan Surakarta tengah mengalami perkembangan pesat dalam bidang seni dan kebudayaan.

Sinuhun PB IV dikenal sebagai raja yang memiliki perhatian besar terhadap pelestarian seni tradisional Jawa, khususnya seni karawitan yang menjadi salah satu identitas budaya keraton.

Sebagai bentuk penghargaan atas pengabdian para seniman keraton, terutama para abdi dalem niyaga atau penabuh gamelan, PB IV memberikan sebidang kawasan permukiman yang kemudian berkembang menjadi Kampung Kemlayan.

Kebijakan tersebut tidak hanya bertujuan menyediakan tempat tinggal bagi para seniman beserta keluarganya, tetapi juga menciptakan lingkungan yang memungkinkan mereka terus berkarya, berlatih, dan mewariskan tradisi seni kepada generasi berikutnya.

Baca Juga: Bikin Macet Parah Sudirman-Thamrin, Night Ride Willie Salim Berujung Dipanggil Polsek Menteng, Ini Kronologi Lengkapnya

Sejak saat itulah Kemlayan berkembang menjadi pusat aktivitas seni karawitan di lingkungan Keraton Kasunanan Surakarta Hadiningrat.

Di kampung ini bermukim para pengrawit, pesinden, penari, dalang, hingga pembuat gamelan yang memiliki peran penting dalam mendukung berbagai upacara adat, ritual kerajaan, dan pertunjukan kesenian.

Kehadiran mereka menjadikan Kemlayan sebagai ruang hidup yang tidak hanya berfungsi sebagai kawasan permukiman, tetapi juga sebagai pusat pelestarian budaya Jawa yang terus berkembang dari masa ke masa.

Keberadaan Kampung Kemlayan menunjukkan bahwa Keraton Kasunanan Surakarta tidak hanya berperan sebagai pusat pemerintahan dan kekuasaan, tetapi juga menjadi pelindung perkembangan seni dan kebudayaan.

Melalui kebijakan PB IV, lahirlah sebuah kampung yang hingga kini masih dikenal sebagai salah satu pusat karawitan Jawa dan menjadi saksi perjalanan panjang tradisi seni di Kota Surakarta.

”Dahulu menurut Nenek Moyang saya kampung ini banyak sekali seorang Seniman. Banyak seniman berasal dari kampung ini. Paling terkenal di kampung ini ya maestro keroncong Gesang Marthohartono. Beliau itu yang meciptakan lagu Bengawan Solo. Beliau lahir dan tinggal di sini,” ujar tokoh masyarakat Kemlayan Sriyanto.

Baca Juga: Iqbaal Ramadhan Banjir Pembeli saat Jual Gorengan di Latihan Pestapora Makassar

Nama Kemlayan diyakini berasal dari kata k-mlaya-an, yang merujuk pada mlaya, yakni sebutan bagi para abdi dalem niyaga atau penabuh gamelan di lingkungan Keraton Kasunanan Surakarta Hadiningrat.

Para niyaga memiliki peran penting dalam mengiringi berbagai upacara adat, ritual keagamaan, hingga pertunjukan seni karawitan yang diselenggarakan di keraton.

Karena kawasan tersebut menjadi tempat tinggal para abdi dalem niyaga beserta keluarganya, masyarakat kemudian menyebut permukiman itu sebagai Kampung Kemlayan.

Penamaan tersebut secara langsung mencerminkan identitas dan profesi mayoritas penduduknya pada masa itu, yaitu para seniman karawitan yang mengabdikan keahlian mereka kepada keraton

Seiring berjalannya waktu, nama Kemlayan tetap dipertahankan dan diwariskan dari generasi ke generasi.

Hingga kini, nama tersebut tidak hanya menjadi penanda administratif sebuah kampung di Kota Surakarta, tetapi juga menjadi simbol sejarah panjang perkembangan seni karawitan Jawa.

Warisan tersebut masih dapat dirasakan melalui berbagai aktivitas kesenian tradisional yang terus hidup di tengah masyarakat, menjadikan Kemlayan dikenal sebagai salah satu kampung seniman yang memiliki peran penting dalam pelestarian budaya Keraton Kasunanan Surakarta Hadiningrat. (siti putri lestari)

Editor : Ferry Ardi Susanto
jejak sejarah kampung kemlayan sejarah seniman asal usul