Jejak Akulturasi di Tepian Bengawan Solo: Kisah Kampung Sampangan dan Warga Sampang Madura

Siti Putri Lestari • Dipublikasikan Kamis, 23 Juli 2026 | 22:30 WIB
Gapura Kampung Sampangan, Semanggi. (Siti Putri/Radar solo)
Gapura Kampung Sampangan, Semanggi. (Siti Putri/Radar solo)

SOLOBALAPAN, SEJARAH & BUDAYA — Di kawasan tepi aliran Sungai Bengawan Solo, berdiri sebuah wilayah permukiman padat yang menyimpan jejak panjang sejarah perkembangan masyarakat Kota Surakarta.

Kampung tersebut adalah Kampung Sampangan, yang berlokasi di Kelurahan Semanggi, Kecamatan Pasar Kliwon, Solo.

Berbeda dengan banyak kampung di pusat Kota Solo yang lahir dari trah bangsawan atau abdi dalem Keraton Kasunanan Surakarta Hadiningrat, Kampung Sampangan tumbuh dari dinamika masyarakat pesisir dan wilayah selatan kota yang sarat akan nilai sejarah.

Dua Versi Asal-Usul Nama: Pohon Cempaka hingga Transit Warga Sampang

Dalam ingatan kolektif warga setempat, terdapat dua versi utama mengenai asal-usul penamaan Kampung Sampangan.

Versi pertama mengaitkan nama permukiman ini dengan aspek vegetasi alam masa lalu, yakni keberadaan pohon sampa atau cempaka (Magnolia champaca) yang dahulunya tumbuh subur di sekitar bantaran sungai.

Penuturan Tokoh Masyarakat (Sriyanto): "Pada masa dahulu, konon katanya kampung ini ditumbuhi banyak tanaman cempaka di area sungai Bengawan. Tetapi sebenarnya saya tidak terlalu mengetahui pasti karena saya juga diceritakan pada masa saya kecil," ujar Sriyanto.

Sementara itu, versi kedua yang diyakini kuat oleh para sejarawan lokal dan sesepuh kawasan mengaitkan kata "Sampangan" dengan kedatangan warga etnis Madura asal Kabupaten Sampang.

Pada masa lampau, wilayah ini menjadi titik transit dan tempat tinggal sementara bagi para pelaut serta pedagang asal Kerajaan Madura yang melintasi jalur perairan Bengawan Solo.

Penuturan Tokoh Masyarakat (Sugiman): "Jadi dahulu kawasan ini banyak sekali warga-warga dari Kerajaan Madura. Mereka kan identik dengan Sampang, ketika masa itu mereka transit di daerah situ. Tempat orang-orang transit Sampang, makanya dinamakan Sampangan," jelas Sugiman.

Simbol Keberagaman dan Ruang Pertemuan Lintas Etnis

Kehadiran komunitas asal Sampang di kawasan Semanggi lambat laun mewarnai dinamika sosial masyarakat Surakarta.

Kelompok pendatang ini hidup berdampingan secara harmonis dengan warga etnis Jawa setempat melalui aktivitas perdagangan, sektor pekerjaan informal, serta kegiatan bermasyarakat.

Penyebutan "kampung orang Sampang" yang diucapkan secara turun-temurun kemudian mengalami penyesuaian pelafalan hingga resmi melembaga menjadi Kampung Sampangan.

Tabel Pemetaan Profil dan Sejarah Kampung Sampangan

Guna memberikan pemetaan informasi mengenai rincian wilayah, asal-usul, dan latar belakang historis Kampung Sampangan secara rapi, terstruktur, dan mudah dipahami, berikut adalah rangkuman datanya:

Komponen Informasi Rincian Detail & Catatan Historis
Nama Permukiman Kampung Sampangan
Lokasi Wilayah Kelurahan Semanggi, Kecamatan Pasar Kliwon, Kota Surakarta
Karakter Kawasan Permukiman rakyat di tepian/bantaran Sungai Bengawan Solo
Versi Penamaan 1 Berasal dari vegetasi Pohon Sampa / Cempaka (Magnolia champaca)
Versi Penamaan 2 Berasal dari lokasi transit Warga Sampang (Etnis/Kerajaan Madura)
Narasumber Lokal Sriyanto & Sugiman (Tokoh Masyarakat setempat)
Nilai Historis Utama Bukti keberagaman, inklusivitas, & akulturasi budaya di Kota Solo

Merawat Identitas Kota yang Inklusif

Meskipun generasi pendatang pertama telah berganti dan kawasan ini telah bertransformasi menjadi permukiman perkotaan modern, nama Sampangan tetap abadi sebagai penanda sejarah.

Keberadaan Kampung Sampangan menjadi bukti otentik bahwa sejak masa lampau, Kota Surakarta merupakan ruang inklusif yang terbuka bagi berbagai etnis untuk hidup bersatu dan saling membangun.

(MG4)

Editor : Didi Agung Eko Purnomo
semanggi sampangan Asal-usul sejarah surakarta