SOLOBALAPAN, SEJARAH — Di sisi barat Kota Surakarta, berdiri sebuah kawasan permukiman yang menyimpan jejak panjang perjalanan sejarah kota sekaligus gerakan kebangsaan Indonesia.
Kampung Sondakan, yang kini menjadi bagian dari Kelurahan Sondakan, Kecamatan Laweyan, bukan sekadar kawasan padat penduduk, melainkan wilayah bersejarah yang memiliki ikatan erat dengan Keraton Kasunanan Surakarta Hadiningrat.
Selain dikenal terkait dengan jejak perjuangan Pahlawan Nasional KH Samanhudi—pendiri Sarekat Dagang Islam (SDI)—Sondakan memiliki kisah asal-usul penamaan yang unik dan diwariskan secara turun-temurun oleh warga setempat.
Keramahan Kyai Sondoko dan Segelas Degan Hijau untuk Pakubuwono II
Berdasarkan penuturan tokoh masyarakat setempat, Aziz, nama "Sondakan" berakar dari sosok seorang bekel atau lurah desa pada masa lampau yang bernama Kyai Sondoko Singoprodjo.
Baca Juga: Asal Usul Kampung Tegalrejo Laweyan: Dari Tanah Tegalan Subur Jadi Kawasan Produksi Batik
Sosok Kyai Sondoko dikenal luas sebagai pimpinan yang sederhana, rendah hati, dermawan, serta sangat mengayomi masyarakat.
Kisah penamaan kampung ini bermula saat Raja Keraton Kasunanan Surakarta, Pakubuwono II, melakukan perjalanan melintasi wilayah tersebut menuju Desa Sala.
Dalam perjalanan yang jauh dan melelahkan, Raja bersama rombongan memutuskan untuk beristirahat sejenak di kawasan tersebut.
Saat mengetahui kehadiran sang raja, Kyai Sondoko Singoprodjo menyambut rombongan kerajaan dengan penuh rasa hormat.
Tanpa pamrih, ia menyuguhkan degan hijau (kelapa muda hijau) segar sebagai pelepas dahaga untuk Pakubuwono II beserta para pengikutnya.
Penuturan Tokoh Masyarakat (Aziz): "Dahulu konon katanya, Kampung Sondakan ini dinamai sebagai bentuk apresiasi dari raja Kraton Kasunanan Pakubuwono II kepada bekel atau lurah di desa tersebut pada masanya, yaitu seorang kyai bernama Sondoko Singoprodjo.
Ketika raja beristirahat dalam perjalanan menuju Desa Solo, beliau diberikan minuman degan hijau oleh Kyai Sandoko," tutur Aziz.
Sikap tulus dan penghormatan yang ditunjukkan Kyai Sondoko membekas mendalam di hati Pakubuwono II, yang menilai sang bekel sebagai pribadi dengan budi pekerti luhur.
Tabel Profil Wilayah dan Nilai Historis Kelurahan Sondakan
Guna memberikan gambaran mengenai profil administratif serta akar sejarah Kampung Sondakan secara rapi, terstruktur, dan mudah dipahami, berikut adalah rangkuman datanya:
| Komponen Profil | Detail Informasi & Fakta Sejarah |
| Lokasi Administratif | Kelurahan Sondakan, Kecamatan Laweyan, Kota Surakarta |
| Luas Wilayah & Warga | Luas $\pm$ 78,8 Hektare, >12 Ribu Jiwa (Terbagi dalam 15 RW & 51 RT) |
| Tokoh Cikal Bakal | Kyai Sondoko Singoprodjo (Bekel/Lurah Desa) |
| Gelar Anugerah Raja | Mas Ngabehi Singondoko (Diberikan oleh PB II) |
| Asal Nama "Sondakan" | Bentuk apresiasi Pakubuwono II atas jasa Kyai Sondoko |
| Tokoh Nasional Erat | KH Samanhudi (Pendiri Sarekat Dagang Islam / SDI) |
| Nilai Filosofis | Simbol ketulusan, kerendahan hati, & penghormatan kepada tamu |
Anugerah Gelar PB II dan Nilai Warisan Leluhur
Beberapa waktu setelah kunjungan tersebut, Raja Kasunanan menerima kabar duka bahwa Kyai Sondoko Singoprodjo telah wafat.
Rasa kehilangan mendalam dirasakan oleh Pakubuwono II atas berpulangnya pimpinan desa yang berbudi luhur tersebut.
Sebagai bentuk penghormatan dan apresiasi atas jasa-jasanya, Pakubuwono II menganugerahkan gelar Mas Ngabehi Singondoko kepada almarhum.
Tidak hanya itu, Sang Raja juga menetapkan wilayah permukiman tempat tinggal sang kyai dengan nama Sondakan.
Meskipun kisah ini diwariskan dalam bentuk tutur lisan dan tradisi lokal, warga Kelurahan Sondakan hingga kini tetap memegang teguh riwayat tersebut.
Bagi masyarakat setempat, nama Sondakan bukan sekadar penanda geografis, melainkan pengingat akan nilai-nilai ketulusan, kepemimpinan, serta kesederhanaan yang diwariskan oleh para leluhur pendiri kampung. (mg4)
Editor : Didi Agung Eko Purnomo