Berita Utama Solo Raya Entertainment Lifestyle Sport Kesehatan Ekonomi Teknologi Otomotif Sriwedaren Tempoe Doeloe Wisata dan Kuliner Persis Solo Sepak Bola

Asal Usul Penamaan Kampung Sewu, Terselip Potret Perdagangan di Tepian Sungai Bengawan Solo

Siti Putri Lestari • Sabtu, 18 Juli 2026 | 19:01 WIB
Lingkungan Pemukiman Kampung Sewu, Jebres. (Siti Putri/Radar solo)
Aktivitas warga di permukiman padat penduduk di Kampung Sewu, Jebres, Solo. (Siti Putri/Radar solo)

SOLOBALAPAN.COMDi sisi timur Kota Solo, terdapat sebuah kawasan yang tumbuh di tepian Sungai Bengawan Solo dan menyimpan jejak panjang perkembangan permukiman masyarakat.

Kampung Sewu namanya. Kawasan yang secara administratif masuk Kelurahan Sewu, Kecamatan Jebres ini karakteristik lingkungannya memiliki bentang alam khas kawasan bantaran sungai.

Sama seperti kampung lainnya di Kota Solo, Kampung Sewu menyimpan sejarah yang telah diwariskan dari generasi ke generasi.

Nama "Sewu" bukan sekadar penanda wilayah administratif, melainkan menyimpan kisah yang menjadi bagian dari identitas masyarakat setempat.

Beragam cerita mengenai asal usul penamaannya masih hidup di tengah warga dan terus dituturkan sebagai warisan sejarah lokal.

Kisah-kisah tersebut menjadi pintu masuk untuk menelusuri perjalanan Kampung Sewu sebagai salah satu kampung tua di Solo, yang berkembang seiring perubahan zaman tanpa kehilangan jejak masa lalunya.

”Kampung ini menyimpan banyak sejarah. Wali Kota Soli pertama, yaitu Sindoeredjo aslinya orang Kampung Sewu,” ujar tokoh masyarakat Kampung Sewu Mardiyono.

Baca Juga: Banner "Las Malvinas Son Argentinas" Picu Kontroversi, Selebrasi Pemain Argentina Disorot usai Singkirkan Inggris

Mardiyono menambahkan, makna kata Sewu yang berarti angka 1.000 dalam bahasa Indoneaia. Nama tersebut diyakini berasal dari sebuah sekelompok prajurit Keraton Kasunanan Surakarta Hadiningrat yang dikenal dengan sebutan Nayaka Sewu.

Konon, kelompok prajurit Nayaka Sewu pernah menempati kawasan yang kini menjadi Kampung Sewu. Keberadaan mereka menjadi bagian dari sistem pertahanan di masa pemerintahan Keraton Kasunanan.

Seiring waktu, kawasan tempat tinggal para prajurit tersebut berkembang menjadi permukiman warga. Meski fungsi kawasan telah berubah, masyarakat tetap mempertahankan nama "Sewu" sebagai bentuk penghormatan terhadap sejarah yang telah melekat sejak dahulu.

Cerita mengenai Nayaka Sewu hingga kini masih hidup melalui tuturan para sesepuh kampung dan tokoh masyarakat.

Baca Juga: Terbongkar! Sandi Rahasia "Pegang Dulu, Dinginkan" Eks Jampidsus Febrie Saat Ditawari Uang Pemerasan Rp50 Miliar

”Karena dekat dengan Sungai Bengawan Solo, menurut cerita eyang saya, dulunya di sini menjadi pelabuhan di masanya. Dipakai untuk jalur perdagangan, yang jumlah pedagangnya lebih dari seribu orang. Makanya diberi nama Kampung Sewu,” imbuh Mardiyono. 

Pelabuhan perahu yang dimaksud, yakni Bandar Beton.

Ilustrasi warga menyeberangi jembatan sesek di Bandar Beton, Kampung Sewu, Kelurahan Sewu, Jebres, Solo. (Dok. Radar Solo)
Ilustrasi warga menyeberangi jembatan sesek di Bandar Beton, Kampung Sewu, Kelurahan Sewu, Jebres, Solo. (Dok. Radar Solo)

Sebuah pelabuhan tradisional di tepian Sungai Bengawan Solo yang dulu menjadi jalur penting aktivitas perdagangan dan transportasi air.

Ramainya lalu lintas barang dan manusia melalui Bandar Beton,  membuat kawasan di sekitarnya tumbuh menjadi salah satu pusat aktivitas ekonomi masyarakat.

Menurut penuturan warga sekitar, penamaan Kampung Sewu diyakini berkaitan dengan banyaknya rumah penduduk dan perahu yang pernah memenuhi kawasan tersebut.

Meski tidak terdapat catatan pasti mengenai jumlah tersebut, cerita ini masih terus diwariskan secara lisan sebagai bagian dari sejarah lokal yang hidup di tengah masyarakat.

Baca Juga: Jualan Pakai Bahasa Lokal Tapi Klarifikasi Pakai Bahasa Inggris, Pacar Baru Sarwendah Diamuk Netizen! "Maksudnya Apa?" Jadi Sorotan

Keberadaan Bandar Beton pada masa itu memiliki peran penting sebagai simpul perdagangan di sepanjang Bengawan Solo. Berbagai hasil bumi dan komoditas dari daerah hulu maupun hilir sungai diangkut menggunakan perahu untuk diperdagangkan melalui pelabuhan tersebut.

Aktivitas itu tidak hanya menghidupkan perekonomian warga, tetapi juga mendorong berkembangnya permukiman di sekitarnya.

Bagi warga Kampung Sewu, kisah tentang seribu rumah dan seribu perahu bukan sekadar cerita turun-temurun, melainkan gambaran mengenai ramainya kehidupan kawasan ini pada masa jayanya, ketika Sungai Bengawan Solo menjadi urat nadi transportasi dan perdagangan di Solo Raya. (sit/fer)

Editor : Ferry Ardi Susanto
sejarah sungai bengawan solo asal usul kampung sewu Prajurit Keraton