RADARSOLO.COM – Di tengah kepungan modernisasi jalan tol dan trans-Jawa, Stasiun Telawa berdiri kokoh sebagai benteng pertahanan terakhir transportasi rel di sisi utara Kabupaten Boyolali.
Berlokasi di Desa Pilangrejo, Kecamatan Juwangi, stasiun bersejarah ini memegang predikat mentereng sebagai satu-satunya stasiun kereta api antarkota yang masih aktif beroperasi di seluruh wilayah Kabupaten Boyolali.
Menilik draf lini masa sejarahnya, Stasiun Telawa resmi dibuka pada 10 Februari 1870 oleh perusahaan kereta api swasta bentukan kolonial, Nederlandsch-Indische Spoorweg Maatschappij (NIS).
Baca Juga: Menengok Riwayat Stasiun Brambanan, Aset Staatsspoorwegen yang Kini Disulap Jadi Hub Wisata Budaya
Infrastruktur ini bukan pos biasa, melainkan bagian integral dari pembangunan jalur rel legendaris Semarang–Vorstenlanden (jalur penghubung Semarang menuju wilayah kerajaan Solo dan Yogyakarta).
Dicatat sejarah sebagai salah satu peletakan jalur kereta api pertama di bumi Nusantara. Kini, usia bangunan utama stasiun telah resmi melampaui 150 tahun atau satu setengah abad.
Baca Juga: Tak Banyak yang Tahu, Stasiun Sangkrah Solo Simpan Jejak Penting Perkeretaapian Sejak 1922
Nama "Telawa" yang disandang stasiun ini menyimpan draf kisah etimologi Jawa yang unik. Berdasarkan penuturan penutur lokal dan draf catatan kuno, kata Telawa berakar dari dua kata. "Te" singkatan dari kata mati. "Lawa" yang berarti hewan kelelawar.
Konon, kawasan Juwangi tempo dulu merupakan hamparan hutan belantara jati yang menjadi sarang koloni jutaan kelelawar.
Meskipun secara draf letak administratifnya berada di Desa Pilangrejo (bukan di Desa Telawa), penamaan stasiun ini sengaja memilih nama Telawa karena wilayah tersebut sejak era kolonial sudah terlanjur mapan dan dikenal luas sebagai episentrum aktivitas ekonomi serta draf birokrasi pemerintahan lokal.
Baca Juga: Stasiun Tugu Yogyakarta, Gerbang Perjalanan yang Menyimpan Jejak Sejarah Kota Gudeg
Selain kayu jati, jalur kereta api ini pada masa kejayaannya juga diandalkan untuk mengangkut hasil pertanian bumi Boyolali, tebu pasokan pabrik gula, hingga batu kapur bakar.
Secara visual, fasad bangunan Stasiun Telawa menyerupai draf arsitektur stasiun-stasiun tua lansiran NIS lainnya di Jawa Tengah.
Karakteristik bangunan sangat kentara pada bagian dinding semen yang super tebal, draf struktur jendela vertikal berukuran raksasa, serta model atap tinggi yang dirancang adaptif terhadap iklim tropis basah.
Melalui layanan KA Joglosemarkerto, warga Boyolali bagian utara memiliki draf aksesibilitas langsung menuju kota-kota besar di Pulau Jawa.
Mulai dari Semarang, Solo, Yogyakarta, Purwokerto, hingga pesisir Tegal tanpa harus menempuh perjalanan darat yang melelahkan ke pusat kota Boyolali.
Berbeda 180 derajat dengan atmosfer stasiun perkotaan yang bising dan riuh, Stasiun Telawa justru menawarkan ketenangan yang magis. Lokasinya yang tersembunyi di draf pedalaman membuat stasiun ini dikelilingi oleh vegetasi hijau hutan jati milik Perhutani dan petak-petak persawahan warga.
Kombinasi antara keaslian bangunan cagar budaya abad ke-19 dengan latar belakang alam pedesaan yang asri menjadikan Stasiun Telawa sebagai draf destinasi buruan utama bagi para pecinta kereta api (railfans) dan fotografer lanskap yang ingin mengabadikan draf momen ular besi melintas di jalur tengah.
Stasiun ini menjadi bukti otentik bahwa warisan teknologi masa lalu masih berdenyut nadi melayani kebutuhan modern.
Editor : Kabun Triyatno