SOLOBALAPAN.COM - Bagi banyak orang, perjalanan ke Yogyakarta sering kali dimulai dari satu tempat yang sama, yakni Stasiun Tugu Yogyakarta.
Berdiri di jantung Kota Yogyakarta, stasiun ini bukan sekadar tempat naik dan turun penumpang, melainkan juga saksi perkembangan perkeretaapian sekaligus bagian dari sejarah kota yang telah bertahan lebih dari satu abad.
Stasiun Tugu berada di sisi barat sumbu filosofi Yogyakarta yang menghubungkan Tugu Pal Putih dengan Keraton Yogyakarta.
Letaknya yang strategis membuat stasiun ini menjadi gerbang utama transportasi kereta api di Kota Yogyakarta sekaligus salah satu landmark yang paling mudah dikenali wisatawan.
Baca Juga: Stasiun Wonogiri, Saksi Sejarah Jalur Kereta yang Pernah Menjangkau Baturetno
Sejarah Stasiun Tugu tidak dapat dipisahkan dari perkembangan jaringan kereta api di Pulau Jawa pada masa Hindia Belanda.
Pembangunan jalur kereta api di Indonesia diawali oleh perusahaan swasta Nederlandsch-Indische Spoorweg Maatschappij (NISM) melalui pembangunan lintas Semarang pada 1864.
Jalur tersebut kemudian terus diperluas hingga mencapai Yogyakarta pada 1872, dengan Stasiun Lempuyangan sebagai stasiun pertama yang melayani perjalanan kereta api di kota ini.
Baca Juga: Menilik Sejarah Stasiun Tawang Semarang, Pintu Gerbang Klasik Berusia Lebih dari Satu Abad
Melihat meningkatnya kebutuhan transportasi dan pengangkutan hasil bumi, perusahaan Staatsspoorwegen (SS) kemudian membangun stasiun baru di sebelah barat Lempuyangan.
Stasiun Tugu resmi dibuka pada 12 Mei 1887 dengan tujuan mendukung distribusi hasil pertanian serta menghubungkan jalur Yogyakarta, Surakarta, dan Semarang.
Pada awalnya stasiun ini lebih banyak melayani angkutan barang, sebelum akhirnya mulai melayani perjalanan penumpang pada 1905.
Memasuki masa perjuangan kemerdekaan, Stasiun Tugu memiliki peran yang lebih besar dari sekadar simpul transportasi.
Stasiun ini menjadi tempat keberangkatan dan kedatangan para pejuang serta menjadi bagian dari berbagai peristiwa penting ketika Yogyakarta ditetapkan sebagai ibu kota Republik Indonesia.
Bangunan bersejarah ini turut menjadi saksi perjalanan bangsa dalam mempertahankan kemerdekaan.
Hingga kini, fungsi Stasiun Tugu sebagai pusat transportasi tetap dipertahankan. Bangunan utamanya telah ditetapkan sebagai cagar budaya, sementara berbagai fasilitas modern terus ditambahkan untuk meningkatkan kenyamanan penumpang.
Perpaduan antara arsitektur kolonial dan layanan transportasi modern menjadikan Stasiun Tugu memiliki daya tarik tersendiri.
Sebagai salah satu stasiun utama di Daerah Istimewa Yogyakarta, Stasiun Tugu melayani berbagai perjalanan kereta api antarkota, mulai dari kelas ekonomi hingga eksekutif.
Sejumlah kereta unggulan seperti Argo Dwipangga, Argo Lawu, Taksaka, Sancaka, Lodaya, hingga Bogowonto berhenti di stasiun ini dan menghubungkan Yogyakarta dengan Jakarta, Bandung, Surabaya, Solo, serta berbagai kota lainnya.
Lokasinya yang hanya beberapa langkah dari Jalan Malioboro membuat Stasiun Tugu menjadi pintu masuk utama wisatawan yang datang menggunakan kereta api.
Tidak sedikit pengunjung yang mengabadikan momen di depan bangunan stasiun sebelum memulai perjalanan menikmati berbagai destinasi wisata di Kota Gudeg.
Lebih dari 130 tahun sejak pertama kali beroperasi, Stasiun Tugu Yogyakarta tetap menjadi salah satu ikon perkeretaapian Indonesia.
Di balik lalu lalang kereta dan ribuan penumpang setiap harinya, stasiun ini terus menjaga fungsinya sebagai penghubung antarkota sekaligus penjaga sejarah panjang transportasi kereta api di Yogyakarta.
Editor : Kabun Triyatno