SOLOBALAPAN.COM - Di ujung selatan jalur kereta api Purwosari–Wonogiri, berdiri sebuah stasiun yang telah menjadi bagian dari sejarah panjang perkeretaapian di Jawa Tengah.
Stasiun Wonogiri bukan hanya menjadi tempat naik dan turun penumpang, tetapi juga menyimpan kisah tentang jalur kereta yang dahulu menghubungkan Wonogiri hingga Baturetno.
Stasiun Wonogiri resmi dibuka pada 1 April 1922 oleh Nederlandsch-Indische Spoorweg Maatschappij (NISM) sebagai bagian dari pengembangan jaringan kereta api di wilayah selatan Kota Solo.
Baca Juga: Stasiun Purwosari, Saksi Bisu Perjalanan Sejarah Perkeretaapian di Kota Solo
Kehadirannya menjadi pintu masuk penting bagi mobilitas masyarakat sekaligus mendukung pengangkutan hasil bumi dari kawasan Wonogiri menuju kota-kota besar.
Namun, pada awalnya jalur kereta tidak berhenti di Wonogiri. Setahun setelah stasiun diresmikan, NISM memperpanjang lintasan hingga Baturetno.
Jalur yang mulai beroperasi pada 1 Oktober 1923 tersebut dimanfaatkan untuk mengangkut hasil hutan, terutama kayu jati dari kawasan Donoloyo, serta hasil perkebunan tebu menuju pusat perdagangan dan industri.
Baca Juga: Wisata Edukasi Museum Kereta Api Ambarawa: Pesona Lokomotif Uap Berusia Satu Abad
Selama lebih dari lima dekade, jalur Wonogiri–Baturetno menjadi urat nadi transportasi di wilayah selatan Kabupaten Wonogiri.
Namun, perjalanan itu harus berakhir pada 1 Mei 1978 ketika pembangunan Waduk Gajah Mungkur menyebabkan sebagian jalur rel tergenang. Sejak saat itu, lintasan menuju Baturetno resmi ditutup dan Stasiun Wonogiri berubah fungsi menjadi stasiun terminus atau stasiun akhir di jalur Purwosari–Wonogiri.
Meski jalur ke selatan telah lama tidak beroperasi, jejak sejarahnya masih dapat ditemukan. Bekas rel menuju arah waduk masih terlihat di beberapa titik, sementara bangunan Stasiun Wonogiri tetap mempertahankan nuansa khas peninggalan kolonial.
Di area stasiun juga masih terdapat bekas depo lokomotif yang kini telah dialihfungsikan.
Saat ini, Stasiun Wonogiri melayani perjalanan KA Batara Kresna, kereta lokal yang menghubungkan Wonogiri dengan Solo melalui lintas Purwosari.
Kereta ini menjadi pilihan transportasi masyarakat untuk beraktivitas sehari-hari sekaligus menjadi daya tarik tersendiri karena melintasi jalur yang menyatu dengan Jalan Slamet Riyadi di Kota Solo.
Seiring peningkatan layanan perkeretaapian, Stasiun Wonogiri juga telah mengalami penataan fasilitas, seperti peninggian peron dan penambahan kanopi agar memberikan kenyamanan bagi penumpang.
Meski tampil lebih modern, identitas sejarahnya tetap dipertahankan sebagai salah satu stasiun penting di jalur Purwosari–Wonogiri.
Lebih dari sekadar stasiun pemberhentian, Stasiun Wonogiri menjadi pengingat bahwa jalur kereta api di wilayah ini pernah menjangkau kawasan yang lebih luas.
Di balik aktivitas KA Batara Kresna yang masih melintas setiap hari, tersimpan kisah panjang perkembangan transportasi, perubahan wilayah, hingga pembangunan Waduk Gajah Mungkur yang mengubah wajah perkeretaapian di Wonogiri.
Editor : Kabun Triyatno