SOLOBALAPAN, OPINI - Tahun 1943, Chairil Anwar menghentak sastra Indonesia dengan baris ikonis: “Aku ini binatang jalang, dari kumpulannya terbuang.” Sebuah deklarasi ego yang liar, merdeka, dan tidak butuh persetujuan siapa pun.
Namun, melompat ke tahun 2026, kata "terbuang" telah berubah menjadi momok yang paling menakutkan bagi manusia modern.
Di era di mana hidup kita didikte oleh algoritma, keberanian untuk menjadi "binatang jalang" terasa seperti bunuh diri sosial.
Kita terjebak dalam paradoks: meneriakkan slogan be yourself, namun secara bersamaan mengukur "diri" tersebut dengan penggaris milik orang lain.
Penjara Estetika yang Seragam
Pernahkah Anda menyadari betapa seragamnya definisi "bahagia" atau "estetik" hari ini? Algoritma TikTok dan Instagram menciptakan standar yang nyaris absolut.
Mulai dari cara kita memilih kopi, sudut pengambilan foto healing, hingga narasi saat kita mengalami burnout.
Baca Juga: Siapa Chairil Anwar? Penyair Legendaris yang Puisinya Tampil di Kereta Bawah Tanah Seoul
Alih-alih menjadi ekspresi jujur, konten kita sering kali hanyalah performa. Kita tidak lagi mengunggah apa yang kita rasakan, melainkan apa yang menurut algoritma akan "ramai".
Di titik ini, kebebasan berekspresi telah bergeser menjadi upaya penyesuaian diri massal.
Ketakutan Menjadi "Terbuang"
Bagi Chairil, menjadi terbuang adalah bentuk perlawanan terhadap kolonialisme dan kemapanan berpikir.
Bagi kita hari ini, terbuang berarti kehilangan likes, kehilangan views, dan yang paling parah, kehilangan relevansi.
Media sosial telah mengubah kebutuhan dasar manusia akan pengakuan menjadi angka-angka yang memabukkan. Validasi digital bertransformasi menjadi bentuk "makanan" baru bagi jiwa.
Ketika angka-angka itu menurun, kita merasa ada yang salah dengan diri kita, bukan dengan algoritmanya. Akibatnya, kita lebih memilih menjadi "binatang ternak" yang patuh pada tren daripada menjadi "binatang jalang" yang berdiri di luar barisan.
Menemukan Kembali Semangat Chairil
Puisi Aku bukan sekadar metafora tentang keliaran, melainkan tentang otentisitas. Menjadi "binatang jalang" di tahun 2026 bukan berarti kita harus meninggalkan media sosial secara total, melainkan tentang berani untuk:
-
Tidak Relevan: Berani mengunggah sesuatu yang tidak trending namun bermakna bagi diri sendiri.
-
Menolak Validasi: Menyadari bahwa nilai diri kita tidak ditentukan oleh algoritma yang berubah-ubah tiap jam.
-
Berdiri di Luar Arus: Tetap mempertahankan karakter asli, meskipun hal itu membuat kita terlihat "berbeda" di tengah lautan keseragaman aesthetic.
Pilihan untuk Berbeda
Semangat "binatang jalang" sebenarnya belum hilang, ia hanya sedang tertidur di bawah tumpukan filter dan suara latar yang viral.
Menjadi berbeda di era sekarang memang berisiko—risiko tidak disukai, risiko tidak dipahami, dan risiko "terbuang" dari kumpulan.
Namun, seperti kata Chairil, “Mau hantaran pun tiada, Aku ini binatang jalang.” Keberanian untuk tetap melangkah meskipun tanpa dukungan atau tepuk tangan itulah yang sebenarnya membuat kita benar-benar hidup.
(did/arif)
Editor : Didi Agung Eko Purnomo