Siapa Rahmah el-Yunusiah? Ulama Perempuan yang Jadi Pahlawan Nasional Hari Ini, Jasanya Diakui Sampai Al-Azhar Mesir
Didi Agung Eko Purnomo• Selasa, 11 November 2025 | 01:02 WIB
Rahmah El Yunusiyah ditetapkan sebagai pahlawan nasional asal Sumatera Barat, atas perjuangannya di bidang pendidikan perempuan.
SOLOBALAPAN.COM – Bertepatan dengan Hari Pahlawan, Indonesia resmi menganugerahkan gelar Pahlawan Nasional kepada seorang ulama perempuan cemerlang asal Padang Panjang, Sumatera Barat: Syaikhah Rahmah el-Yunusiah.
Gelar Pahlawan Nasional ini dianugerahkan oleh Presiden di Jakarta pada hari ini, Senin (10/11/2025).
Sosoknya dihormati bukan hanya sebagai pejuang emansipasi, tetapi juga seorang revolusioner pendidikan Islam yang kiprahnya diakui secara global, bahkan mengubah sejarah di Universitas Al-Azhar, Mesir.
Profil Singkat: Syaikhah Rahmah el-Yunusiah
Nama: Rahmah el-Yunusiah
Lahir: 20 Desember 1900, di Padang Panjang, Sumatra Barat
Wafat: 26 Februari 1969
Latar Belakang: Lahir dari keluarga ulama terpelajar. Ayahnya adalah Muhammad Yunus bin Imanuddin, dan kakak kandungnya adalah Zainuddin Labai el-Yunusi, salah satu tokoh pendiri sekolah Islam modern Sumatra Thawalib.
Mendirikan Diniyah Putri: Emansipasi Lewat Syariat
Di saat kaum terpelajar di Jawa seperti R.A. Kartini menyuarakan emansipasi melalui budaya, Rahmah el-Yunusiah mengambil jalur yang berbeda.
Baginya, kunci kemajuan kaum hawa adalah pendidikan yang berlandaskan syariat Islam.
Tergugah oleh perjuangan sang kakak di dunia pendidikan, Rahmah yang masih belia bercita-cita mendirikan sekolah khusus perempuan.
Pada 1 November 1923, ia mewujudkan mimpinya: berdirilah Madrasah Diniyah lil Banat (Diniyah Putri) di Padang Panjang.
Ini adalah sekolah agama Islam formal pertama di Indonesia yang dikhususkan untuk perempuan.
Awalnya, muridnya hanya 71 orang, kebanyakan ibu-ibu muda. Meski sekolah ini sempat hancur akibat gempa besar 1926, Rahmah tak surut.
Ia membangunnya kembali di atas tanah wakaf milik ibundanya, Ummi Rafiah.
Menginspirasi Al-Azhar dan Digelari 'Syaikhah'
Kiprah Diniyah Putri menggema jauh hingga ke Timur Tengah.
Pada tahun 1955, Rektor Universitas Al-Azhar Kairo, Dr. Syaikh Abdurrahman Taj, melakukan kunjungan ke Padang Panjang dan menyambangi Diniyah Putri.
Sang Rektor dilaporkan "terpana" sekaligus "agak malu".
Ia tak menyangka bahwa di sebuah negeri non-Arab telah berdiri lembaga pendidikan Islam khusus perempuan yang begitu modern dan maju.
Sementara Al-Azhar, sebagai salah satu universitas Islam tertua di dunia, saat itu belum memiliki fakultas khusus untuk perempuan.
Kunjungan itu menjadi inspirasi. Sekembalinya ke Mesir, Syaikh Abdurrahman Taj memprakarsai berdirinya Kulliyatul Banat (Fakultas untuk Perempuan) di lingkungan Universitas Al-Azhar.
Sebagai tanda apresiasi dan penghormatan tertinggi atas jasanya yang menginspirasi, Universitas Al-Azhar mengundang Rahmah el-Yunusiah ke Kairo pada 1957 dan menganugerahinya gelar Doktor Kehormatan (Honoris Causa).
Sejak saat itu, ia berhak menyandang sebutan kehormatan Syaikhah Rahmah.
'Bundo Kanduang' Para Pejuang
Di luar dunia pendidikan, Syaikhah Rahmah adalah seorang nasionalis sejati.
Ia memegang teguh sikap non-kooperasi (tidak mau bekerja sama) dengan kolonial Belanda dan menolak mentah-mentah sistem pendidikan mereka.
Ia bahkan memimpin langsung Panitia Penolak Ordonansi Sekolah Liar (aturan diskriminatif Belanda yang mengekang sekolah pribumi) di Padang Panjang pada tahun 1932.
Saat revolusi fisik meletus, semangatnya kian membara. Konon, Syaikhah Rahmah adalah orang pertama di Sumatra Barat yang mengibarkan bendera Merah Putih setelah proklamasi kemerdekaan.
Ia juga mempelopori pembentukan Tentara Keamanan Rakyat (TKR) dan mengumpulkan laskar-laskar pejuang Muslim di wilayahnya, yang membuatnya dijuluki "Bundo Kanduang para pejuang".
Penganugerahan gelar Pahlawan Nasional hari ini menjadi pengakuan negara atas perjuangan panjangnya dalam mencerdaskan kehidupan bangsa dan membela kedaulatan negara. (did)