SOLOBALAPAN.COM - Punden Sih Bomoro, sebuah situs bersejarah yang terletak di Dusun Suruh Kalong, Kelurahan Pandeyan, Kecamatan Tasikmadu, Kabupaten Karanganyar, kembali mencuri perhatian warga dan para sejarawan.
Punden yang selama ini dikenal sebagai tempat sakral oleh masyarakat setempat diyakini menjadi lokasi pertemuan penting antara dua tokoh besar Kasunanan Surakarta: Mangkunegara IV dan Pakubuwono IX.
Kepercayaan ini tidak hanya beredar lewat cerita tutur yang diwariskan secara turun-temurun, tetapi juga diperkuat oleh sejumlah catatan sejarah lisan dan peninggalan budaya yang masih dapat dijumpai hingga kini.
Menurut Andika, salah satu perangkat desa setempat yang tertarik untuk mengetahui lebih dalam tentang sejarah punden ini, masyarakat leluhur mereka meyakini bahwa pertemuan antara Mangkunegara IV dan Pakubuwono IX terjadi di lokasi ini.
Pertemuan tersebut, lanjutnya, berkaitan dengan upaya penyelarasan wilayah dan menjaga keharmonisan di antara dua kekuatan utama di Surakarta.
“Menurut cerita leluhur kami, di tempat inilah dahulu terjadi pertemuan antara Mangkunegara IV dan Pakubuwono IX untuk membicarakan penyelarasan wilayah serta menjaga keharmonisan di antara dua kekuatan utama di Surakarta,” ungkap Andika.
Punden Sih Bomoro memiliki ciri khas berupa batu besar yang diyakini menjadi titik utama tempat bermeditasi atau melakukan tapa oleh para leluhur.
Di sekelilingnya, terdapat beberapa pohon tua dan batu-batu kecil yang dianggap sebagai pelengkap situs ritual masa lalu.
Salah satu peninggalan yang masih terlihat di punden tersebut adalah batu lingga yoni, yang berada di pojok punden dan dipercaya warga sebagai simbol kesuburan, keselarasan, dan keseimbangan alam semesta, terutama di wilayah Suruh Kalong, Desa Pandeyan.
Menurut Alvian Prasetya, seorang sejarawan yang pernah melakukan penelitian tentang Punden Sih Bomoro, Mangkunegara IV dikenal sebagai sosok reformis dan visioner, sementara Pakubuwono IX dikenal memiliki kedekatan spiritual yang kuat.
Menurut para budayawan, pertemuan mereka adalah simbol rekonsiliasi dan keselarasan antara dua kekuatan istana untuk stabilitas Surakarta pada abad ke-19.
"Pertemuan mereka, menurut para budayawan, merupakan simbol rekonsiliasi dan keselarasan antara dua kekuatan istana demi stabilitas Surakarta pada abad ke-19," ujar Alvian.
Dr. Sri Wahyuni, sejarawan dari Universitas Sebelas Maret, menambahkan, "Penting bagi kita untuk menjaga dan melestarikan situs seperti Punden Sih Bomoro, karena di situlah jejak peradaban dan sejarah lokal tersimpan."
Untuk menjaga dan melestarikan nilai sejarah serta kebudayaan yang terkandung di dalamnya, warga bersama tokoh budaya dan pemerintah desa secara rutin menggelar tradisi kirab.
Dalam tradisi ini, mereka membawa hasil pertanian warga untuk dikirab menuju Punden Sih Bomoro dan dimakan bersama sebagai simbol keharmonisan serta kesatuan.
Dengan demikian, Punden Sih Bomoro tidak hanya menjadi situs bersejarah yang menyimpan kisah-kisah besar dari masa lalu, tetapi juga menjadi bagian tak terpisahkan dari kehidupan budaya masyarakat Pandeyan yang terus dilestarikan hingga kini. (rud)
Editor : Nindia Aprilia