SOLOBALAPAN.COM - Di balik keindahan alam kawasan Batu Seribu di Sukoharjo, tersimpan legenda tua yang diwariskan secara turun-temurun.
Bukan sekadar cerita rakyat, kisah mistis di balik tempat ini menjadi bagian penting dari kekayaan budaya lokal.
Menurut Dodik Tri Anggono, staf Bidang Pariwisata Dinas Kepemudaan, Olahraga, dan Pariwisata (Disporapar) Kabupaten Sukoharjo, Batu Seribu mendapat namanya dari banyaknya batu besar yang tersebar di area tersebut.
Tempat ini dulunya merupakan lokasi bertapa seorang tokoh sakti bernama Ki Ageng Wagir, atau lebih dikenal sebagai Kyai Wagir.
Dikisahkan, Kyai Wagir melakukan semedi di tempat ini untuk mencari pencerahan spiritual.
Dalam pertapaannya, ia mendapatkan wangsit bahwa wilayah tersebut kelak menjadi sumber kehidupan bagi masyarakat sekitar.
Tak lama kemudian, muncul mata air yang dipercaya memiliki khasiat dan kekuatan spiritual, terutama bagi mereka yang datang untuk berdoa atau bersemedi.
“Dari perspektif pariwisata, legenda ini memberikan daya tarik tersendiri bagi Batu Seribu. Selain keindahan alamnya, kisah spiritual dan mistis yang menyelimuti tempat ini jadi magnet bagi wisatawan,” ujar Dodik.
Lebih jauh, Dodik menjelaskan bahwa Pemkab Sukoharjo saat ini terus mengembangkan kawasan Batu Seribu sebagai destinasi wisata unggulan.
Upaya yang dilakukan adalah dengan menambah berbagai fasilitas penunjang tanpa menghilangkan unsur historis dan spiritual yang melekat kuat pada kawasan tersebut.
Hingga kini, legenda Batu Seribu masih diyakini oleh masyarakat sekitar.
Bahkan, setiap tahun ritual dan acara budaya digelar sebagai bentuk pelestarian cerita serta penghormatan terhadap nilai-nilai lokal yang turun-temurun.
“Batu Seribu itu seperti emas yang butuh disepuh. Potensinya luar biasa, apalagi jika dikembangkan secara serius sebagai destinasi wisata spiritual dan budaya,” tambah Dodik.
Dengan sentuhan yang tepat, Batu Seribu bukan hanya menjadi destinasi foto-foto atau piknik alam biasa, tapi bisa tampil sebagai ikon wisata budaya dan spiritual Jawa Tengah yang punya cerita kuat, suasana khas, dan kedalaman makna. (kwl)
Editor : Nindia Aprilia