Berita Utama Solo Raya Entertainment Lifestyle Sport Kesehatan Ekonomi Teknologi Otomotif Sriwedaren Wisata dan Kuliner Persis Solo

Satu Abad Lebih Berdiri, PG Mojo Jadi Saksi Sejarah Gula Nusantara dan Potensi Wisata Heritage di Sragen!

Ahmad Khairudin • Senin, 31 Maret 2025 | 22:25 WIB

Pabrik Gula Mojo (PG Mojo) masih berdiri kokoh di kawasan padat penduduk Kelurahan Sragen Kulon, Kabupaten Sragen. Berdiri sejak era kolonial Belanda pada 1883, pabrik ini bukan sekadar tempat produks
Pabrik Gula Mojo (PG Mojo) masih berdiri kokoh di kawasan padat penduduk Kelurahan Sragen Kulon, Kabupaten Sragen. Berdiri sejak era kolonial Belanda pada 1883, pabrik ini bukan sekadar tempat produks

SOLOBALAPAN.COM - Pabrik Gula Mojo (PG Mojo) masih berdiri kokoh di kawasan padat penduduk Kelurahan Sragen Kulon, Kabupaten Sragen.

Berdiri sejak era kolonial Belanda pada 1883, pabrik ini bukan sekadar tempat produksi, tapi juga saksi sejarah panjang industri gula Indonesia.

Hingga hari ini, PG Mojo tetap aktif menggiling tebu dan memproduksi gula, menjadikannya salah satu pabrik gula tertua yang masih beroperasi di tanah air.

Sejarawan sekaligus alumni Magister Universitas Gadjah Mada (UGM), Mawardi Purbo Sanjoyo, M.A., menyebut pendirian PG Mojo sebagai bentuk investasi raksasa di masa itu.

“Berdiri dengan modal 350.000 gulden, nilai itu sangat fantastis untuk ukuran zaman kolonial,” terangnya.

Baca Juga: Paling Lengkap! Ini Daftar ATM Pecahan Rp10 Ribu Terdekat, Jadi Solusi Buat Kamu yang Gagal Tukar Uang di BI!

Menurutnya, pembangunan PG Mojo tak lepas dari konteks tanam paksa komoditas tebu yang saat itu menjadi primadona ekspor.

“Pembangunan PG Mojo adalah bagian dari strategi kolonial untuk meraup keuntungan dari industri gula, baik untuk pasar domestik maupun ekspor,” jelasnya.

PG Mojo kala itu memiliki jaringan lori (decauville) yang membentang puluhan kilometer, menghubungkan kebun tebu sekitar pabrik agar proses distribusi lebih efisien.

Namun, jalur ini mulai ditinggalkan seiring perkembangan zaman dan munculnya moda angkut truk.

Pasca kemerdekaan, PG Mojo resmi dinasionalisasi dan pada 1959 dikelola oleh PT Perkebunan Nusantara IX (PTPN IX).

Keberadaan PG Mojo pun menjadi bagian dari upaya pemerintah membangun industri gula nasional yang mandiri.

“Dari jejak tanam paksa, era kolonial, hingga masa nasionalisasi, PG Mojo punya nilai sejarah yang tinggi,” tegas Mawardi.

Baca Juga: Tren Fashion Lebaran 2025: Pashmina Viscose Bakal Viral Tahun Ini! Berikut Tips Pemakaiannya Untuk Wajah Bulat!

Ia juga menyoroti dampak budaya dari kejayaan industri gula masa lalu. Maraknya perkebunan tebu turut memengaruhi karakter rasa makanan masyarakat.

“Wajar jika karakter kuliner masyarakat Jawa, khususnya di daerah kaya kebun tebu, cenderung bercita rasa manis,” ujarnya.

Bangunan PG Mojo yang masih kokoh hingga kini, menurut Mawardi, punya potensi kuat untuk dikembangkan sebagai wisata heritage.

Tak hanya bangunannya, tetapi juga sisa jalur lori, jembatan tua, dan pernak-pernik industri lawas bisa jadi daya tarik wisata sejarah yang memperkaya Sragen.

“Potensinya besar, asal dikelola dengan serius. Bisa jadi destinasi wisata edukatif sekaligus ekonomi warga sekitar ikut bergerak,” ucapnya.

Ia menegaskan bahwa di luar aspek industrinya, PG Mojo adalah warisan sejarah yang penting.

“Sebagai salah satu pabrik gula tertua yang masih beroperasi, PG Mojo adalah simbol eksistensi industri gula nasional. Ia menginspirasi bahwa sejarah bisa tetap hidup, bahkan di tengah tantangan zaman,” tutup Mawardi. (din)

Editor : Nindia Aprilia
#pabrik gula #sejarah #wisata heritage #sragen #PG Mojo