Berita Utama Solo Raya Entertainment Lifestyle Sport Kesehatan Ekonomi Teknologi Otomotif Sriwedaren Wisata dan Kuliner Persis Solo Sepak Bola

Sejarah Hari Ini, 17 Maret: Gunung Agung Meletus di 1963, 1.900 Orang Jadi Korban Jiwa hingga Gelapkan Langit Bali

Didi Agung Eko Purnomo • Selasa, 18 Maret 2025 | 05:20 WIB
Gunung Agung.
Gunung Agung.

SOLOBALAPAN.COM - Pada hari ini, tepatnya 59 tahun yang lalu, Gunung Agung di Bali mengalami letusan yang mengerikan, memengaruhi banyak aspek kehidupan.

Dampak dari peristiwa tersebut begitu besar, bahkan suhu bumi sempat turun sekitar 0,4 derajat Celsius akibat pelepasan material vulkanik yang luar biasa.

Letusan tersebut terjadi pada 17 Maret 1963, ketika langit Bali mendadak gelap pada siang hari.

Bahan vulkanik berupa aerosol sulfat terlempar ke atmosfer, meluncur sejauh 14.400 kilometer.

Saat itu, Gunung Agung memuntahkan aliran piroklastik yang terdiri dari gas panas, abu vulkanik, dan batuan, yang menghancurkan desa-desa di sekitarnya.

Namun, letusan besar itu bukanlah kejadian yang mendadak.

Aktivitas vulkanik telah dimulai sejak bulan sebelumnya, tepatnya pada 18 Februari 1963, dengan suara dentuman keras yang terdengar di sekitar kawasan Gunung Agung.

Kemudian, abu panas dan gas mulai keluar dari kawah gunung hingga mencapai ketinggian 20.000 meter.

Peristiwa ini mengakibatkan penurunan suhu bumi yang berlangsung hingga tahun 1966.

Dalam bukunya The Earth Machine: The Science of a Dynamic Planet, tercatat bahwa abu belerang dari letusan Gunung Agung tersebar ke seluruh dunia, bahkan sampai ke lapisan es di Greenland, di mana sulfur acid terdeteksi.

Letusan ini juga menelan banyak korban jiwa. Menurut laporan dari badan Geologi, sedikitnya 1.549 orang tewas akibat erupsi tersebut.

Buletin Vulkanologi tahun 1964, dalam Laporan Awal Letusan Gunung Agung tahun 1963 di Bali (Indonesia), mencatat bahwa aliran piroklastik yang tercipta memiliki kekuatan yang sangat besar.

Kekuatan aliran tersebut mencapai level VEI (Volcanic Explosivity Index) 5, yang menyebabkan ribuan orang kehilangan nyawa.

Namun, dampaknya tak berhenti di sana. Hujan lebat yang tercampur dengan abu vulkanik menghasilkan lahar yang menyebar luas, kembali merenggut 200 korban jiwa.

Letusan kecil terjadi lagi pada 16 Mei, yang menghasilkan aliran piroklastik yang menewaskan sekitar 200 orang lebih.

Letusan Gunung Agung baru berakhir pada tahun 1964, setelah hampir dua tahun aktif.

Total korban jiwa diperkirakan mencapai sekitar 1.900 orang, menjadikannya sebagai letusan gunung berapi paling mematikan kedelapan pada abad ke-20.

Peristiwa besar ini meninggalkan kenangan kelam bagi masyarakat Bali dan dunia.

Dampak dari erupsi Gunung Agung juga mengingatkan kita akan kekuatan alam yang tak terduga dan betapa pentingnya kesiapsiagaan dalam menghadapi bencana alam.

Hingga kini, meskipun letusan tersebut sudah berlalu, Gunung Agung tetap menjadi salah satu gunung berapi paling aktif dan terus diawasi oleh para ilmuwan untuk mencegah terulangnya bencana serupa di masa depan. (did)

Polisi saat melakukan mediasi antara warga Paten Gunung dan Karang Gading usai tawuran di Jalan Singosari, Senin (17/3/2025). Mereka sepakat berdamai.
Polisi saat melakukan mediasi antara warga Paten Gunung dan Karang Gading usai tawuran di Jalan Singosari, Senin (17/3/2025). Mereka sepakat berdamai.
Editor : Didi Agung Eko Purnomo
#korban jiwa #bali #sejarah hari ini #17 maret #gunung agung