SOLOBALAPAN.COM - Kota Solo erat kaitannya dengan perjalanan sejarah yang berhasil mencuri perhatian masyarakat, salah satunya terkait Hotel Kusuma Sahid Prince.
Diketahui, hotel ini menjadi saksi bisu perjalanan sejarah di era Pakubuwono X. Saat itu beliau memerintah dan menjadi raja di tahun 1893 hingga 1933.
Beliau dikenal sebagai raja yang sukses membangun Kota Solo hingga menjadikannya sejahtera dan terkenal di berbagai bidang.
Pada era tersebut, Pakubuwono X memiliki beberapa keturunan salah satunya adalah Pangeran Abimanyu atau yang disebut dengan nama Kanjeng Gusti Pangeran Haryo Kusumoyudho.
Di masa pemerintahan Pakubuwono, Ia memberikan rumah kepada keturunanya, salah satu rumah yang diberikan kepada putranya adalah Ndalem Kusumoyudhan.
Ndalem tersebut diberikan kepada Kanjeng Gusti Pangeran Haryo Kusumoyudho. Namun saat ini rumah tersebut telah berpindah tangan ke Bapak Sukamdani.
"Jatuh ke tangan Pak Sukamdani ini bukan yang pertama, melainkan bangunan KSPH ini pernah dimiliki oleh beberapa orang sebelumnya, bahkan dulu ini itu pernah menjadi kampus Cokroaminoto, kemudian jadi pabrik sepeda milik Bapak Effendi." Ujar Tia Kristiyanti selaku Marcomm Manager Kusuma Sahid Prince Hotel.
Diketahui, sebelum jatuh ke tangan Pak Sukamdani, Bangunan KSPH ini telah melalui proses perjalanan yang cukup panjang, namun beberapa pemilik saat itu belum ada yang cocok dengan KSPH.
"Selama dibeli oleh beberapa orang tersebut ga cocok, nah salah satunya Pak Effendi ini mimpi dikejar harimau yang artinya tidak cocok dengan aura di KSPH." lanjutnya.
Setelah itu, Bapak Effendi menemui Pak Sukamdani ke Jakarta, kemudian beliau mengucapkan "engkang cocok kagungan ndalem meniko panjenengan".
Dalam bahasa indonesia kalimat itu diartikan "yang cocok memiliki bangunan ndalem ini adalah anda" ucapnya terhadap Pak Sukamdani.
Saat itu Pak Effendi mencari Pak Sukamdani ke Jakarta guna menawarkan bangunan Ndalem dengan mahar pengganti.
Padahal diketahui saat itu Bapak Sukamdani telah memiliki aset property yaitu Hotel Sahid Jaya, namun ternyata aura KSPH ini cocok dengan beliau.
Diketahui Ndalem ini jatuh ke tangan Pak Sukamdani pada 1974-1975, kemudian di tahun 1977 diresmikan menjadi Kusuma Sahid Prince Hotel Solo.
Hingga saat ini, KSPH masih mempertahankan warisan sejarah yang ada pada bangunanya, baik itu dari segi material maupun arsitekturnya.
Jika melihat dari tampilannya, KSPH memang merupakan bangunan kuno yang kuat akan nilai sejarahnya.
Bahkan saat datang ke sana, pengunjung hotel akan dibuat kagum dengan bangunan pendopo yang megah dan indah.
Selain itu, saat memasuki halamannya pengunjung akan mengingat masa lalu dengan pola jalan masuknya yang kuno.
"Jalan masuk ke halaman ini bentuknya tusuk sate, ternyata pada zaman dahulu ini jadi akses khusus untuk pangeran keluar dari ndalem", ujarnya.
Bukan hanya arsitekture dan juga bangunanya yang kuno, namun di dalam hotel ini juga memiliki beberapa ruang yang cukup menyimpan banyak sejarah.
Salah satunya adalah kamar Indraloka Royal Suite Room yang terkenal dengan kemewahannya juga ruangannya yang privat.
Bahkan banyak petinggi negara yang datang untuk menginap di sana, hal itu dikarenakan kamar tersebut memang benar-benar privat.
Sehingga mereka yang menginap di kamr ini tidak akan diketahui oleh pengunjung lain, mereka memiliki akses sendiri untuk sampai ke kamar.
Kemewahan kamarnya akan membawa pengunjung yang menginap ke era masa lalu, mulai dari bentuk kamar dan benda-benda yang ada di sana sangat jadul.
Bahkan dipan yang digunakan di kamar ini masih menggunakan kelambu putih, dengan perpaduan warna merah maroon.
Makin cantik saat dipadukan dengan warna temboknya yang cream agak cokelat keemasan, hingga nampak sekali kemegahan di kamar tersebut.
Salah satu pejabat era sekarang yang masih menginap di KSPH ini adalah Bapak Prabowo Subianto, kemudian juga Ibu Puan Maharani.
Nah, terdapat satu keunikan di kamar tersebut, yaitu adanya lemari yang tembus ke ruangan lainnya.
Disela lemari tersebut nampak alasnya yang terbuat dari kayu dan memiliki ruang kosong dibawahnya.
Konon ruang tersebut merupakan ruang bawah tanah yang menghubungkan KSPH ke beberapa tempat yang ada di Kota Solo.
Nah, itu tadi merupakan perjalanan panjang KSPH hingga menjadi hotel berbintang yang memiliki banyak peminat.
Apalagi terjaganya warisan budaya dari segi bangunan dan arsitektur hotel ini membuatnya makin eksis hingga dicintai masyarakat. (nda)
Editor : Nindia Aprilia