Berita Utama Solo Raya Entertainment Lifestyle Sport Kesehatan Ekonomi Teknologi Otomotif Sriwedaren Wisata dan Kuliner Persis Solo Sepak Bola

Sejarah Tokoh Penting Eyang Joko Pekik Dan Eyang Joko Kusumo di Gunung Beluk, Konon Lari Ke Gunung Beluk Saat Kerajaan Majapahit Runtuh

Reinaldo Suryo Negoro • Kamis, 25 April 2024 | 22:00 WIB

 

Makam Eyang Joko Pekik dan Eyang Joko Kusumo Di Gunung Beluk, Tumpukan, Karangdowo, Kabupaten Klaten. (DOK. PRIBADI/ RADAR SOLO)
Makam Eyang Joko Pekik dan Eyang Joko Kusumo Di Gunung Beluk, Tumpukan, Karangdowo, Kabupaten Klaten. (DOK. PRIBADI/ RADAR SOLO)

SOLOBALAPAN.COM - Di Gunung Beluk terdapat makam leluhur yang dihormati oleh warga setempat, tepatnya berada di Desa Beluk, Tumpukan, Kecamatan Karangdowo, Kabupaten Klaten.

Makam itu merupakan makam Eyang Joko Pekik dan Eyang Joko Kusumo, yang tepat berada di puncak Gunung Beluk.

Pembangunan kijing Eyang Joko Pekik dan Eyang Joko Kusumo dilakukan pada tahun 1994.

Pak Warta yang merupakan warga salah satu warga di dekat Gunung Beluk pun menuturkan mengenai sosok dari tokoh yang dimakamkan di sana.

Eyang Joko Pekik dan Eyang Joko Kusumo merupakan keturunan Majapahit yang melakukan pelarian hingga ke Gunung Beluk karena kerajaan Majapahit mulai runtuh.

Dilansir dari skripsi Kajian Tema dan Amanat Legenda-Legenda Dari Kabupaten Klaten, Jawa Tengah oleh Widya Budi Prayogo, diceritakan bahwa sosok Joko Pekik ini memiliki hubungan dengan Kerajaan Pajang.

Eyang Joko Pekik berkaitan dengan era Kerajaan Pajang yang waktu itu dipimpin oleh Adipati Benowo.

Pada saat itu, Kerajaan Pajang mulai redup karena desakan Kerajaan Mataram yang mulai berjaya dipimpin oleh Danang Sutowijoyo.

Melihat kerajaan Pajang yang terdesak oleh Tumenggung Kebolandhu, seorang narapraja memanfaatkan keadaan dengan merongrong kekuasaan Adipati Benowo.

Tumenggung Kebolandhu tanpa sepengetahuan Adipati Benowo, diam-diam mengajak para tokoh-tokoh yang tersebar di berbagai wilayah untuk menyusun kekuatan untuk menyerang Adipati Benowo.

Salah satu tokoh tersebut adalah seorang yang tinggal tidak jauh dari perbukitan di pucuk Gunung Beluk yang bernama Eyang Joko Pekik.

Eyang Joko Pekik adalah seorang yang cukup sakti dan dihormati, beliau juga memiliki area pertanian yang cukup luas.

Eyang Joko Pekik juga dikenal memiliki murid dan pengikut yang lumayan banyak, hal itu yang mendorong Tumenggung Kebolandhu tertarik untuk mendekati Joko Pekik.

Kemudian, Tumenggung Kebolandhu mengutus Rumeksa dan Kulumbana untuk menemui Eyang Joko Pekik di Gunung Beluk.

Mengutus Rumeksa dan Kulumbana dengan masud menyampaikan pesan bahwa beberapa hari mendatang Tumenggung Kebolandhu akan berkunjung ke Gunung Beluk.

Sekaligus mengajak Eyang Joko Pekik bergabung dengan Tumenggung Kebolandhu untuk menyusun kekuatan dan merebut kekuasaan Adipati Benowo.

Saat senja, utusan Tumenggung Kebolandhu, Rumeksa dan Kulumbana mendekati lereng Gunung Beluk, Keduanya di utus untuk menemui Eyang Joko Pekik.

Eyang Joko Pekik menyetujui ajakan Tumenggung Kebolandhu untuk bergabung merebut kekuasaan Adipati Benowo.

Kemudian Eyang Joko Pekik mempersiapkan hal guna menyambut kedatangan Tumenggung Kebolandhu.

Dalam penyambutan tersebut, Eyang Joko Pekik mengundang ledek Nyai Dlongeh (penari dan penyanyi yang dikenal di sekitar Gunung Beluk) untuk menghibur Tumenggung Kebolandhu dan para pengikutnya.

Tumenggung Kebolandhu sangat terhibur dengan adanya ledek Nyai Dlongeh terkesan dengan penampilan tari dan nyanyi Nyai Dlongeh.

Kendati demikian, belum diketahui kapan dan apa penyebab kematian Eyang Joko Pekik dan Eyang Joko Kusumo.

Walaupun begitu, tokoh penting yang dimakamkan di Gunung Beluk itu tetap dihormati warga setempat.

Banyak orang luar yang melakukan ziarah ke Makam Eyang Joko Pekik dan Eyang Joko Kusumo.

"Biasanya yang ziarah memiliki berbagai tujuan ada yang meminta untuk kenaikan jabatan, untuk dipecahkan masalah, minta bisa lolos ujian, minta kesehatan dan meminta keselamatan," ungkap Pak Warta pada Rabu (24/4).

Terlihat di cungkup makam Eyang Joko Pekik dan Eyang Joko Kusumo, ada bekas dupa dan kemenyan seperti baru beberapa hari yang lalu masih ada yang berziarah.

Namun, akan lebih baik apabila pemerintah setempat menjadikannya tempat wisata religi agar lebih banyak dikunjungi orang lain.

Dengan begitu, kawasan makam pun menjadi lebih terawat dan bisa dijadikan pilihan untuk meningkatkan ekonomi warga setempat. (mg3/rei)

Editor : Reinaldo Suryo Negoro
#makam #Eyang Joko Kusumo #sejarah #klaten #Gunung Beluk #majapahit #Eyang Joko Pekik