SOLOBALAPAN.COM - Situs Watukelir berada di tengah Pasar Watukelir tepatnya di daerah Watukelir, Jatingarang, kecamatan Weru, kabupaten Sukoharjo.
Lokasi Watukelir ini berada di tengah Pasar, sehingga membuat letaknya yang cukup strategis karena berada di titik temu antara daerah Klaten, Sukoharjo, Wonogiri dan Gunung Kidul.
Menurut Pak Widodo (61) yang merupakan juru kunci makam Ki Ageng Purwoto Sidiq, Watukelir mulanya adalah tempat dakwah yang digunakan oleh Ki Ageng Purwoto Sidiq.
Metode dakwahnya dilakukan dengan cara membuat pementasan wayang kulit untuk masyarakat Dusun sekitar.
Situs Watu Kelir ini berupa dua batu lebar yang mana batu kelirnya bersandar pada pohon asem yang sudah berumur ratusan tahun, dan satu batu lagi yang lebih besar dari batu kelirnya, berupa batu panggung yang berada di bawah pohon asem.
Dalam bahasa Indonesia kata "watu" adalah batu, "kelir" adalah layar yang digunakan untuk pementasan wayang kulit.
Pada waktu itu, Ki Ageng Purwoto Sidiq atau Ki Ageng Banyu Biru yang memiliki nama lain Kebo Kanigoro, berguru kepada Kanjeng Sunan Kalijaga.
Pada saat Ki Ageng Banyu Biru telah menyelesaikan Tapa Ngumbara atau bertapa dalam pengembaraan, Kanjeng Sunan Kalijaga memberikan nama kepada Ki Ageng Banyu Biru dengan nama Ki Ageng Purwoto Sidiq.
Kemudian, Kanjeng Sunan Kalijaga paring dawuh (memberi perintah) kepada Ki Ageng Purwoto Sidiq untuk mengelar acara pagelaran wayang kulit.
Pagelaran itu sebagai bentuk woro-woro (pengumuman) kepada masyarakat sekitar bahwa terdapat Ki Ageng Purwoto Sidiq sebagai tokoh yang bisa menjadi panutan bagi masyarakat.
Acara woro-woro kepada masyarakat dengan pagelaran wayang kulit ini disebut dengan "kepyakan nami" (memperkenalkan tokoh di masyarakat).
Acara tersebut berlangsung dengan ucapan syukur dan doa-doa Islam.
Sebenarnya dulu terdapat batu niyaga (penabuh gamelan) yang berada di dekat Watukelir.
Namun seiring perkembangan zaman dan adanya pembangunan pasar, batu niyaga tersebut hilang entah kemana.
"Dahulu lengkap situs batu di Watukelir, ada batu niyaga tetapi perkembangan zaman entah batu dijual atau dibawa kemana sama orang yang tidak tahu, sekarang sudah hilang" ungkap Pak Widodo (61) pada Kamis, (18/4).
Dulunya saat situs Watukelir ini masih lengkap, banyak yang berkunjung untuk berdoa dan ziarah tiap malam Jum'at.
Bahkan menurut Pak Widodo, makam Ki Ageng Purwoto Sidiq dibandingkan dengan Watukelir, lebih banyak yang berkunjung ke Watukelir.
"Sekarang istilahnya orang-orang banyak yang menganut budaya Arab, jadi menganggap haram untuk berziarah ke tempat bersejarah, padahal seharusnya penting sebagai orang jawa yang memiliki budaya sendiri dan mengerti untuk menghormati sesepuh dan menjaga sejarah sebagai warisan leluhur" tambah Pak Widodo.
Sekarang situs Watukelir yang berada di bawah pohon asem tersebut digunakan untuk para pedagang berdagang di sekeliling situs.
Dilihat sekilas memang banyak sampah yang berserakan karena digunakan untuk berdagang, hal itu bisa disebabkan banyak masyarakat yang sudah luput akan sejarah.
Apalagi kurangnya pengetahuan mereka tentang sejarah membuat masyarakat masa kini kurang memperdulikannya.
Menurut informasi yang diperoleh, saat ini sudah jarang masyarakat luar yang datang untuk sekedar berkunjung ke watukelir.
Padahal di sana mereka bisa melihat beberapa situs bersejaran, namun kebanyakan dari mereka hanya datang untuk berbelanja ke pasar di sekeliling situs.
Namun, sebagai warga yang mengetahui adanya warisan situs Watukelir baiknya turut menjaga dan mengerti sejarahnya untuk bisa ikut serta dalam melestarikannya. (mg3/nda)
Editor : Nindia Aprilia