SOLOBALAPAN.COM - Eyang Pepe disebut-sebut merupakan salah satu tokoh yang berperan dalam terbentuknya Pasar Pedan.
Konon Eyang Pepe adalah salah satu keturunan Keraton Mataram.
Makam Eyang Pepe berada di dusun Kauman, Desa Keden, Kecamatan Pedan, Kabupaten Klaten.
Warga Pedan tidak asing dengan nama Eyang Pepe, sebab nama Eyang Pepe ini adalah julukan karena nama aslinya adalah Pangeran Pranowo.
Sebutan 'pepe' disematkan padanya terkait kebiasannya yang suka berjemur.
Seperti yang diketahui, 'pepe' merupakan padanan dari kata 'berjemur'.
Salah satu peninggalan Eyang Pepe adalah Pasar Pedan yang berada di Sobayan, Kecamatan Pedan, Kabupaten Klaten.
Warga Pedan pasti tidak asing dengan nama Eyang Pepe, banyak sumber menyebutkan bahwa nama Pedan diambil dari nama Eyang Pepe dan kata 'edan'.
Kata edan ini berasal dari kejadian orang gila (edan) yang membalik akar pohon beringin saat Eyang Pepe menanam pohon tersebut.
Menurut Pak Manto (51), sejarah terbentuknya pasar di daerah itu bermula pada saat Eyang Pape mengajak pedagang sayuran untuk berjualan di sekitar pohon beringin.
Hal ini membuat pohon beringin itu dikenal dengan nama Pohon Beringin Janganan (sayuran).
Seiring waktu, pedagang yang berjualan di sekitar pohon beringin bertambah banyak, oleh Eyang Pepe mengatakan untuk berjualan di sisi timur pohon beringin janganan.
Hal inilah yang menjadi cikal bakal terbentuknya Pasar Pedan.
Kendati demikian asal usul Eyang Pepe seperti nama dari ayah, ibunya, istrinya dan anaknya belum diketahui hingga sekarang, pun dengan penyebab kematiannya.
"Sayang sekali mengenai Eyang Pepe anak dari siapa, istrinya, anaknya dan penyebab kematiannya belum diketahui," terang Manto.
"Dulu ketika saya masih kecil pernah dibuat penelitian kemudian diadakan acara diskusi di Jogja untuk mengetahui asal usul Eyang Pepe ini."
"Tetapi sampai sekarang belum mendapatkan titik temu, padahal menurut saya memiliki nilai sejarah yang bagus," ungkap Pak Manto (51) pada Selasa (16/4).
Menurut Juru Kunci Pak Manto (51), ia mendengar dari Juru Kunci yang sebelumnya bahwa sebenarnya Eyang Pepe ini memiliki putra tetapi juga tidak diketahui di mana petilasannya.
"Kalau dilihat adanya dua makam di samping makam Eyang Pepe ini adalah istri dan selirnya, seperti misalnya makam orang tua berada di atas."
"Di samping terdapat makam istri atau selir dan di bawah terdapat makam anak."
"Hal ini biasanya memang ada strukturnya di setiap pemakaman keturunan Keraton," ungkapnya pada Selasa (16/4).
Nisan makam Eyang Pepe tidak pernah diganti, masih bertahan dari dulu dimakamkan.
Pembangunan tembok pembatas di makam Eyang Pepe, dibangun pada tahun 1928, dibantu oleh Lurah Keden bernama Setromidjojo.
Walaupun tidak sebanyak dahulu, masih ada orang Solo dan sekitarnya yang berziarah ke makam Eyang Pepe.
"Generasi penerus harusnya mengetahui cerita sejarah seperti ini, nanti kalau sudah sampai ke cucu dan buyut saya pasti sudah tidak tahu sejarahnya dan semakin kabur," lanjut Manto.
"Kalau dilihat memang Eyang Pepe istilahnya hanya berada di desa kecil yang tidak terkenal jika dibanding makam Ronggowarsito yang memang jelas peninggalannya," tambahnya.(mg3/rei)
Editor : Reinaldo Suryo Negoro