SOLOBALAPAN.COM - Perkembangan Islam di Sukoharjo kiranya tidak lepas dari jasa Ki Ageng Kebo Kanigoro atau Ki Ageng Purwoto Sidiq.
Ki Ageng Kanigoro merupakan salah satu tokoh yang melakukan dakwah di daerah Sukoharjo Selatan
Makam Ki Ageng Purwoto Sidiq berada jalan Kelir - Manyaran, Watukelir, Jatingarang, Kecamatan Weru, Kabupaten Sukoharjo.
Menurut juru kunci yang bernama Pak Widodo (61), Ki Ageng Purwoto Sidiq memiliki nama kecil Kebo Kanigoro.
Ki Kebo Kanigoro adalah putra pertama dari Sri Mangkuring Prabu Andayaningrat, cucu dari Raja Brawiyaya V.
Ibu Ki Kebo Kanigoro yang bernama Raden Ayu Retno Pambayun yakni putri dari Raja Brawiyaya V menikah dengan Prabu Andayaningrat.
Dia melahirkan Kebo Kanigoro, lalu Kebo Kenongo bapak dari Jaka Tingkir, dan terakhir Kebo Ami Luhur yang meninggal di Boyolali.
Ibu dari Retna Pambayun adalah Putri Campa yang memiliki darah keturunan China, kemudian Putri Campa menikah dengan Raja Brawiyaya V lalu lahirlah Retna Pambayun ibu dari Kebo Kanigoro.
Namun, Ki Kebo Kanigoro tidak memiliki berputra karena tidak memiliki istri.
Menurut juru kunci Pak Widodo (61), terdapat versi Jawa Timur yang menceritakan bahwa Kebo Kanigoro memiliki istri bernama Mbok Gadung Mladi dan berputra Loro Tenggok,
Namun, di versi Jawa Tengah, Kebo Kanigoro tidak memiliki istri.
Mbok Gadung Mladi yang di versi Jawa Timur disebut sebagai istrinya adalah seorang perewang rumah di versi Jawa Tengah.
Sebagai putra pertama Kebo Kanigoro tidak berambisi untuk kekuasaan ditengah situasi politik Kerajaan Pengging.
Ki Kebo Kanigoro memilih pergi dan berguru kepada Sunan Kalijaga, atas perintah dari Sunan Kalijaga, Ki Kebo Kanigoro mendapat perintah untuk melakukan dakwah di daerah Sukoharjo Selatan.
Waktu itu, Ki Kebo Kanigoro Pergi dari Kerajaan Pengging dengan melakukan 3 tahap tapa selama 21 tahun.
Tapa yang pertama adalah Tapa Kungkum di Rawa Pening dilakukan selama 7 tahun.
Lamanya Ki Kebo Kanigoro bertapa membuat air berwarna biru hal ini membuat Ki Kebo Kanigoro memiliki sebutan lain yakni Ki Ageng Banyu Biru.
Tapa yang kedua yakni, Tapa Ngumbara atau lelana yang mana merupakan tapa yang dilakukan dengan pengembaraan.
Tapa Ngumbara dilakukan selama 7 tahun, saat tiba di suatu dusun (sekarang Watukelir) banyak yang mengikuti Ki Kebo Kanigoro saat mau ditinggal mengembara.
Akhirnya, Ki Kebo Kanigoro membuat pemakaman untuk masyarakat Dusun.
Ki Kebo Kanigoro lantas mendapatkan gelar dengan nama Ki Ageng Purwoto Sidiq dari Sunan Kalijaga setelah menjalani Tapa Ngumbara.
Saat pemberian nama oleh Sunan Kalijaga, diadakan pementasan wayang kulit sebagai bentuk pengumuman (dalam bahasa Jawa woro-woro kepyakan nami) kepada masyarakat bahwa terdapat tokoh dakwah sebagai panutan masyarakat bernama Ki Ageng Purwoto Sidiq.
Tapa yang ketiga adalah Tapa Jumeneng atau Tapa Ngadek (bertapa dengan berdiri) di Dusun Kaligawe 4 km dari Makam Ki Kebo Kanigoro.
Ki Kebo Kanigoro membuat padepokan untuk masyarakat hingga akhirnya meninggal di dusun Watukelir, meninggalnya pada tahun 17-an (oleh Keraton tidak disebutkan tahun lengkapnya).
Sebenarnya terdapat peninggalan dari Ki Kebo Kanigoro berupa langgar berbentuk panggung dan belum beratap.
Tetapi, karena perkembangan zaman, langgar peninggalan Ki Kebo Kanigoro hilang jejaknya entah kemana.
Tidak diketahui apa penyebab meninggalnya Ki Kebo Kanigoro karena tidak diceritakan oleh keraton.
Kini walaupun tidak seramai dulu makam Ki Kebo Kanigoro atau Ki Ageng Banyu Biru atau Ki Ageng Purwoto Sidiq tetap ada yang berziarah biasanya di hari Jum'at.
"Orang-orang yang berziarah walaupun tidak ramai menurut saya masih rata, ada yang datang dari Jogja, Solo, Jawa Timur bahkan dari Jakarta," ungkap Pak Widodo (61) pada Senin (15/4). (mg3/rei)
Editor : Reinaldo Suryo Negoro