Berita Utama Solo Raya Entertainment Lifestyle Sport Kesehatan Ekonomi Teknologi Otomotif Sriwedaren Wisata dan Kuliner Persis Solo Sepak Bola

Warga Klaten Ini Diwarisi Batu Yoni dengan Ornamen Kepala Naga, Pernah Ditawar dengan Harga Menggiurkan tapi Menolak Karena Ini

Angga Purenda • Minggu, 14 April 2024 | 15:00 WIB
MASIH DITELITI: Pegiat cagar budaya memperlihatkan batuan candi yang ditemukan di salah satu kompleks makam Desa Kahuman, Kecamatan Ngawen. (ANGGA PURENDA/RADAR SOLO)
MASIH DITELITI: Pegiat cagar budaya memperlihatkan batuan candi yang ditemukan di salah satu kompleks makam Desa Kahuman, Kecamatan Ngawen. (ANGGA PURENDA/RADAR SOLO)

 

SOLOBALAPAN.COM - Ngupit kerap dianggap sebagai salah satu kawasann tua yang sudah ada sejak Mataram Kuno.

Anggapan ini tidak lepas dari keberadaan dua prasasti upit di daerah tersebut.

Bukti lain adalah batu yoni dan batuan candi di Desa Ngawen dan Desa Kahuman, Kecamatan Ngawen.

Sebuah batu yoni berada di halaman rumah warga di Dusun Sogaten, Desa Ngawen, Kecamatan Ngawen, Kabupaten Klaten.

Lokasinya tidak jauh dari penemuan Prasasti Upit II. Kini batu yoni yang memiliki ornamen kepada naga tersebut terus dirawat oleh Mugo Laksono, 69, karena merupakan peninggalan dari leluhurnya.

Ukuran dari batu yoni tersebut sekira 1 x 1 meter dengan tinggu juga sekitar 1 meter.

Tampak lubang tempat lingga yang mulai tampak tergerus. Sedangkan pahatan berupa takik-takik tampak rapi di sekelilingnya.

Begitu juga di bawah cerat (tempat keluarnya air) terdapat ukiran kepala ular naga.

Hiasan kepala naga itu memperlihatkan bentuk kepala ular sampai leher.

Pahatan dua taring, mata, lekuk sisik dan kalung di leher naga tersebut masih tampak jelas. Selain kepala naga itu tidak ditemukan ornament lainnya.

“Kalau dari cerita generasi tua, dari paman, dahulunya simbah menggali pohon uwi jongkang (sejenis umbi untuk dimakan). Untuk tahun berapannya saya tidak tahu. Soalnya saya belum lahir (waktu penemuan batu yoni) tersebut,” ujar Mugo Laksono.

Memang saat menggali itulah ditemukan batu yoni. Tetapi saat diangkat oleh empat orang tidak kuat. Hingga akhirnya diangkat dengan cara dipikul oleh delapan orang. Sempat digunakan kakeknya sebagai tempat makan dan minum kuda.

Mugo Laksono mengaku, batu yoni itu lantas dirawat secara turun temurun oleh keluarganya.

Bahkan pernah ditawar untuk dibeli dengan harga menggiurkan tetapi dia selalu menolak tawaran tersebut.

Mengingat dia masih memegang penuh pesan ibunya untuk terus dilestarikan sebagai kenang-kenangan sejarah kakeknya.

“Karena sudah dipesan oleh ibu saya,  pokoknya besok dirawat. Jangan sampai dijual. Tapi kalau diminta oleh negara maupun pemerintah ya diberikan. Tapi dari dinas purbakala sendiri tidak mengambilnya, asal saya merawatnya dengan baik sampai saat ini,” ujar Mugo Laksono.

Sementara itu, Pegiat Cagar Budaya asal Klaten Hari Wahyudi menjelaskan, batu yoni di perkarangan warga tersebut sering disebut yoni naga raja.

Total ada lima buah yang tersebar di Candi Siwa kompleks Taman Wisata Candi (TWC) Candi Prambanan, kompleks Candi Merak, Situs Kali Woro A dan Situs Yoni Ngabeyan, Karanganom Klaten.

“Terkait fungsinya sebagai tempat pemujaan Umat Hindu. Terutama yang beraliran siwaisme,” jelas Hari.

Terkait temuan batuan candi pada kompleks makam yang tidak jauh dari Sendang Pengilon di Desa Kahuman, Ngawen diperkirakan masih satu bagian dengan batu yoni di Dusun Sogaten. Indikasinya kedua lokasi itu ditemukan Prasasti Upit 1 dan Upit II.

“Untuk batuan candi lainnya yang ditemukan di dua lokasi tersebut adalah semasa dengan batuan prasasti pada abad 9. Jadi diperkirakan keduanya saling berhubungan, baik batu candi, batu yoni maupun prasasti itu saling terikat,” ucap Hari. (ren/bun/rei)

 

 

Editor : Reinaldo Suryo Negoro
#klaten #batu yoni #Ngupit #naga