SOLOBALAPAN.COM - Pasca peristiwa Gerakan 30 September (G30S) PKI, tahun 1965 silam, muncul berbagai ancaman yang diklaim membahayakan eksistensi agama Islam beserta umatnya.
Kondisi tersebut memantik memotivasi para mubalig se-Solo Raya untuk segera mendirikan ponpes.
Bersadarkan perspektif dan pertimbangan sejarah, ponpes di zaman penjajahan dulu, memiliki andil dan peran besar dalam membela, memperjuangkan, serta mempertahankan kemerdekaan Republik Indonesia.
Kemudian pada 10 Maret 1972, berdirilah Lembaga Pendidikan Pondok Pesantren Islam Al-Mukmin di Jalan Gading Kidul No. 72 A Solo.
Di bawah naungan Yayasan Pendidikan Islam dan Asuhan Yatim Al-Mukmin (YPIA), dengan akta Notaris No. 130 b 1967.
Waktu itu, jumlah santri yang mengukuti asrama sebanyak 30 orang. Jumlah itu sudah termasuk 10 santri dari Asuhan YPIA.
Adapun para perintis dan pendirinya, yakni Ustad Abdullah Sungkar, Ustad Abu Bakar Ba’asyir, Ustad Abdullah Baraja’, Ustad Yoyok Rosywadi, Ustad H. Abdul Qohar Daeng Matase, serta Ustad Hasan Basri.
Dari tahun ke tahun, ponpes ini terus berkembang pesat. Pada 1974, pengurus YPIA memindahkan lokasi Ponpes Al Mukmin ke Dusun Ngruki, Desa Cemani, Kecamatan Grogol, Kabupaten Sukoharjo.
Lokasi baru itu merupakan tanah wakaf milik K.H. Abu Amar.
“Sejak itulah madrasah tersebut lebih dikenal dengan sebutan Pondok Pesantren Al-Mukmin Ngruki,” kata salah seorang staf pengajar Ponpes Al-Mukmin Ngruki Endro Sudarsono seperti dikutip dari Radar Solo.
Mengutip buku “Sejarah Pondok Pesantren Islam Al-Mukmin” karya Dr. Muhammad Isa Anshory dan Dr. Mulyanto Abdullah Khoir (Sukoharjo: Humas Pondok Pesantren Islam Al-Mukmin, 2022), disebutkan bahwa, berdirinya Ponpes Al-Mukmin tidak lepas dari peran Dewan Da’wah Islamiyah Indonesia (Dewan Da’wah).
Pada awal 70-an, Ketua Dewan Da’wah Mohammad Natsir memberikan perhatian khusus kepada Kota Solo. Karena dikenal sebagai salah satu basis PKI.
Seiring berjalannya waktu, sebagai salah seorang pendiri, peran Ustad Abu sangat besar dalam perkembangan Ponpes Al-Mukmin.
Perjalanan ponpes ini tidak bisa lepas dari sosok Ustad Abu.
Hingga kemudian ponpes tersebut dikenal militan dan “keras”, dalam memperjuangkan tegaknya agama Islam.
“Saat ini jumlah santri sudah lebih dari seribu orang. Semua santri harus mondok. Meskipun santri tersebut anak ustad atau anak pengajar di sini. Ponpes Al-Mukmin Ngruki terus berkembang dengan bangunan-bangunan baru,” beber Endro. (kwl/fer/rei)
Editor : Reinaldo Suryo Negoro